
"Kenapa kamu selalu kesini? Saya sudah sering mengatakannya bukan? Jangan muncul di hadapan saya lagi."
Sedikit ada rasa tersentuh dengan perhatian yang selalu Zahra beri. Namun, ego seorang Rosa jauh lebih tinggi. Tak ia pungkiri jika Zahra adalah gadis terbaik yang pernah ia kenal. Akan tetapi, bayang-bayang mendiang sang putra, membuatnya membenci gadis itu. Baginya, Samuel tidak akan meninggal jika Zahra tidak hadir di hidup Samuel.
"Maafkan Zahra tan. Tapi, untuk hal ini Zahra tidak bisa menurut. Zahra, tidak mungkin membiarkan Om dan Tante kesepian," sahut Zahra lembut.
"Apa urusan kamu jika kami kesepian, hah? Oh, merasa tidak enak yah. Karena kamu sadar diri jika kamu lah yang telah membunuh putra kami. Iyakan?" Nyalang mata Rosa, menatap Zahra yang ada di depannya.
"Anggap saja iya Tan. Tapi, asal tante tahu. Kepergian Samuel juga membuat Zahra sedih. Jika saja bisa menyusul Sam saat ini. Maka Zahra memilih menyusulnya disana. Karena Zahra pun merasa ikut mati saat Sam tiada."
Zahra mengucapkannya dengan mata basah. Hati gadis itu begitu rapuh sebenarnya. Tapi, ia selalu mencoba tegar di depan semua orang.
__ADS_1
"Heh, menyusul? Kamu mau menyusul Samuel? Pergilah dan susul dia sekarang juga!"
Kejam Rosa berucap. Membuat Zahra yang sejak tadi menunduk mendongak padanya.
"Seandainya Allah tidak melarang hambanya bunuh diri. Zahra, sudah sejak tiga bulan lalu melakukannya. Di tinggalkan saat hari pernikahan! Itu membuat Zahra bernafas namun tak bernyawa tan."
Setelah mengatakannya. Zahra pun bergegas pergi dari sana. Sedikit berlari kecil. Membawa rasa sakit yang kian menderanya.
Baru kali ini, gadis itu bersikap demikian. Biasanya, walau Rosa selalu berkata kejam padanya. Zahra tetap pamit baik-baik saat mau pulang. Tapi, kali ini. Entahlah, mungkin gadis itu merasa lelah. Dirinya yang rapuh harus bersikap tegar. Air matanya selalu ia sembunyikan. Derita dan kerinduannya harus ia tanggung sendiri. Demi apa? Semua hanya agar orang-orang di sekitarnya tidak ikut menderita.
Tetapi, perkataan Rosa kali ini membuatnya tak lagi mampu menyembunyikan perasaannya sedihnya.
__ADS_1
...
"Kamu berlebihan mah. Mamah sudah keterlaluan!"
Hamdan berucap sambil menggelengkan kepalanya. Tak percaya dengan jalan pikir sang istri. Apa istrinya itu belum paham juga. Jika semua orang sedih kehilangan Samuel. Bukan dirinya saja yang menangis atas kepergian Sam. Tetapi ada banyak orang. Dan salah satunya Zahra. Gadis yang sudah istrinya itu sakiti dengan perkataan kejamnya.
Rosa tak bergeming. Jujur, tanpa ditegur ia pun menyadari jika perkataannya tadi terlalu kejam pada Zahra.
Kembali Rosa teringat Kebaikan Zahra. Kepeduliannya, keramahannya, kelembutannya, dan rasa kasihnya yang tinggi.
Perasaan Rosa kian tak menentu. Di Satu sisi ia memang menyukai semua tentang Zahra. Namun, dilain sisi Rosa masih belum bisa menerima kenyataan pahit jika sang putra semata wayangnya telah pergi untuk selama-lamanya. Dan masih, Rosa menganggap Zahra lah penyebab awalnya.
__ADS_1
"Dimana mamah pernah melihat seorang gadis yang gagal menjadi menantu karena sang calon suami meninggal, masih mau menemui dan merawat calon mertuanya yang gagal? Apa mamah pernah menjumpai gadis sebaik dan setulus Zahra? Tidak mah! Hanya Zahra. Karena apa? Karena dia menyayangi kita, bukan hanya menyayangi Samuel. Meski kita gagal memiliki ikatan dengan melalui pernikahannya dan Sam. Tetapi ada satu ikatan yang tak bisa kita lepas darinya. Kasih sayang! Kasih sayang Zahra kepada kita adalah benang yang mengikatnya dengan kita."