Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 83


__ADS_3

Malam ini, Samuel datang menjemput Zahra. Dia sudah meminta izin pada semua keluarga Zahra sebelumnya. Keduanya akan menghadiri acara pernikahan Vano dan Isabel.


Gamis berwarna pink dusty. Lengkap dengan hijab dan niqab yang senada. Membaluti tubuh indah Zahra.


Bagai melihat bidadari turun dari kayangan. Samuel sampai tak mampu memalingkan tatapannya dari sang pujaan hati.


Namun, saat Zahra sampai tepat di sisi mobilnya. Dia pun berusaha sadar.


Tak ada kata. Samuel hanya membuka pintu mobil untuk Zahra. Lalu ia juga masuk lewat pintu lainnya.


Sepanjang jalan, perjalan keduanya hanya diselimuti kesunyian.


Zahra yang notabenenya memang selalu pendiam kecuali pada keluarga dan sahabatnya. Dan Samuel yang merasa sungkan untuk mulai percakapan.


Padahal, banyak sekali kata yang ingin Pria itu sampaikan. Tentang dirinya yang benar-benar telah mempelajari 'keyakinan'nya dan juga islam. Tentang hubungan mereka. Dan tentunya dengan rasa rindunya yang kian hari kian membuncah.

__ADS_1


Hingga, Zahra sendirilah yang akhirnya angkat suara.


"Bagaimana? Sudah sejauh mana kamu mempelajari keduanya?" tanya Zahra, dengan mata tertuju di ujung sepatunya. 'keduanya', maksud Zahra ialah 'keyakinan' keluarga Samuel dan islam.


Duh, senangnya Sam. Di ajak ngobrol juga akhirnya.


Samuel melirik Zahra sekilas, lalu matanya kembali fokus ke arah depan.


"Kalau 'keyakinan' keluarga aku. Aku sudah sejak kecil mempelajarinya. Baik di rumah dan di sekolah. Tentu, pemahamanku tentang itu sudah lumayan. Sedang Islam, jujur aku baru sampai di bagian dasarnya saat ini," jawab Samuel.


"Apa kamu mengalami kesulitan?"


"Sudah sejauh itu?" tanya Zahra heran. Katanya baru sampai di bagian dasar. Tapi kok sudah praktek sholat saja.


"Iya. Kenapa? Bukankah dalam ajaran kalian menegaskan kalau sholat adalah tiang agama? Jadi, aku langsung mempelajari tata cara sholat."

__ADS_1


"Tidak! Itu tentu sangat benar. Tapi, baiknya kamu pahami dulu apa itu kata islam sendiri. Yakinkah kamu akan semua ajaran islam? percaya dan yakin dengan kitab suci Al_Qur'an beserta hadist? Itu yang paling penting! Karena jika tidak percaya akan Al_Qur'an dan hadist. Maka kita sendiri akan tersesat. Sebab, Keduanya itulah pedoman hidup yang otentik dalam islam."


Samuel mendengarkan serta mencerna ucapan Zahra.


"Sepertinya aku masih perlu belajar lebih keras lagi. Kamu tidak keberatan kan jika aku akan sering bertanya padamu nantinya?"


Zahra tersenyum dan mengangguk, "Tentu tidak!" ucapnya.


...


Gedung tinggi itu, telah ramai oleh para tamu undangan. Terlihat di atas panggung sana. Kedua mempelai berdiri dengan raut wajah berseri.


"Aku tidak menyangka Hans. Ternyata, hubungan persahabatan kita yang menurun ke anak-anak kita, kini semakin erat dengan pernikahan ini," ucap seorang lelaki berumur berkisar 60 tahunan pada Hansen Muller. Ayah Isabel.


"Aku lebih tidak menyangka lagi Leo. Berasa mimpi. Sepertinya waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin Vano dan Isabel bermain dan bertengkar. Sekarang mereka telah membuat komitmen untuk hidup bersama dengan membentuk rumah tangga," sahut Hansen, pada Leonard Dowsen. Ayah Vano. Yang merupakan sahabat baiknya. Di sana juga ada Hamdan. Dia tersenyum mendengar kedua sahabat baiknya bertukar rasa bahagia.

__ADS_1


Semua orang tampak menikmati pesta. Namun, saat seorang pria maskulin memasuki ruangan itu. Membuat semua orang tanpa bisa dicegah menengok ke arahnya.


Pemandangan langkah. Sangat langkah. Zahra yang berjalan di sisi kiri Samuel, sontak menarik perhatian semua orang.


__ADS_2