Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 102


__ADS_3

Hari demi hari kembali berlalu. Zahra semakin terlihat lebih ceria di banding sebelumnya. Saat ini, gadis itu berada di rumah Hamdan dan Rosa.


"Apa kamu tidak berniat melanjutkan hidup sayang?" tanya Rosa tiba-tiba, saat dia, Hamdan dan Zahra duduk santai di depan televisi.


Zahra yang tadinya fokus ke acara yang sedang tayang, mengalihkan perhatiannya ke arah Rosa.


"Apa maksud Tante, bukankah saat ini Zahra memang kini melanjutkan hidup?" ujar Zahra bingung.


Rosa dan Hamdan saling lirik. Kedua orang itu sudah membahasnya. Dan mereka memutuskan untuk mendukung Zahra melanjutkan hidupnya. Dalam artian, berumah tangga. Mereka tidak ingin Zahra terus terikat oleh kenangan Samuel. Biarlah kenangan tetap menjadi kenangan. Sedang hidup, harus terus berjalan.


"Menikah! Umur kamu sudah lebih dari cukup untuk berumah tangga.Tidakkah kamu memikirkannya?"


Perkataan Rosa, serasa pukulan di hati Zahra. Bagaimana mungkin dirinya bisa berpikir untuk menikah? Sedang pria yang ia cintai dan hampir menghalalkannya sudah tiada.

__ADS_1


"Lanjutkan hidup mu nak! Carilah pria yang baik untuk mu. Kami, tidak ingin kamu terus menerus terjebak dalam kenangan Samuel. Biarkanlah cinta kalian menjadi kenangan. Samuel sudah tidak ada. Tapi, kamu masih. Kamu harus melanjutkan hidup selayaknya wanita lain." ucap Hamdan dengan penuh kasih saat Zahra malah terdiam.


"Maaf Om,Tan! Tapi, mungkin Zahra tidak bisa. Zahra, tidak bisa lupa bagaimana dulu Samuel sangat mengharapkan kami menikah. Bagaimana besar usahanya meyakinkan Zahra. Sepanjang apa penantiannya. Dan saat waktunya hampir tiba, dia malah ... Tidak, Zahra tidak akan bisa menikah dengan pria mana pun."


Air Mata Zahra jatuh berderai. Dia kembali teringat akan Samuel dan semua tentangnya.


"Pikirkan sayang! Samuel sudah tenang di surga sana. Dia pasti akan sedih saat melihat kamu terus terpuruk oleh kenangannya." tutur Rosa. Dia tentu sedih mengingat sang putra. Tapi, dia merasa bertanggung jawab untuk menuntun Zahra menemukan masa depannya.


Hamdan terus berusaha memberi pengertian pada Zahra yang masih tertunduk dengan berderai air mata disana.


...


"Assalamualaikum Sam!"

__ADS_1


Zahra duduk di sisi makam Samuel.


"Bagaimana kabar kamu? Maaf, membuatmu kangen! Aku juga sangat merindukanmu. Sampaikan pada Allah, jangan terlalu lama menyiksa kita."


"Kamu tahu Sam? Kemarin orang tua kamu memintaku mencari penggantimu. Mendorong agar aku mau menikah. Aku tidak butuh itu Sam. Aku hanya mencintai kamu dan ingin menikah dengan kamu. Tunggu aku di surga yah. Kita akan melanjutkan pernikahan kita yang tertunda disana."


Zahra terus bermonolog disana. Melampiaskan keluh kesah serta kerinduannya. Setelah matahari terik, barulah gadis itu berdoa kemudian pergi dari tempat itu.


...


Saat sampai kantor, Zahra disibukkan dengan berbagai pekerjaan. Menjadi sekertaris sang kakak, membuatnya semakin kerja keras dan bukan berleha-leha.


Sekitar jam lima sore, kakak beradik itu keluar bersama dari pintu utama kantor. Memasuki mobil masing-masing dan pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2