
"Papa kenapa mendukung Sam sih pah?"
Rosa menjadi kesal pada suaminya itu.
Hamdan mendekati Rosa lalu merangkulnya.
"Putra kita sudah dewasa, dia sudah tau mana yang harus dia lakukan. Biarkan dia memilih jalannya sendiri." Ucap Hamdan lembut.
"Tapi..." Perkataan Rosa dipotong oleh Hamdan.
"Sudahlah, sekarang papa mau mengatakan hal penting yang mama sendiri pasti sangat ingin mendengarnya."
Ucap Hamdan, membuat Rosa penasaran tapi tidak mau terlihat demikian.
"Apa?" Tanya Rosa masih memasang tampang kesalnya.
Hamdan hanya tersenyum melihat tingkah istrinya itu.
"Besok papa dan teman papa akan ke makam korban kecelakaan waktu itu."
Raut wajah Hamdan menjadi serius, begitu pun dengan Rosa.
"Papa sudah menemukan gadis itu?" Tanya Rosa.
"Belum, tapi papa yakin itu tidak akan lama lagi. Teman papa mengatakan jika temannya yang mengadiri proses pemakaman korban akan pulang besok. Dan kami akan ke makam itu. Jika papa sudah mengetahui makam itu, maka tidak akan sulit menemukan gadis itu. Karena gadis itu pasti akan ke makam orang tuanya bukan?"
__ADS_1
Perkataan Hamdan diangguki oleh Rosa.
"Iya, papa benar. Kita hanya perlu membayar orang untuk memantau makam itu setiap saat. Dan memintanya mengabari kita siapa yang ke makam itu. Pasti gadis itu akan kesana."
Rosa tidak sabar ingin bertemu gadis itu. Gadis yang sudah dia dan suaminya renggut kebahagiaannya. Dan gadis yang membuat putranya mengalami trauma berat selama ini, karena terus dibayangi rasa bersalah.
Jika dia sudah menemukan gadis itu, dia bersumpah dalam hatinya untuk memberikan apapun yang gadis itu minta sebagai penebusan dosanya.
...
Di rumah sakit, semua orang merasa sangat bahagia karena Kevin sudah membuka matanya.
"Ma ma, pah, kak Me lati."
Kevin perlahan membuka matanya dan menyebut semua orang satu persatu.
Cahaya merasa sangat bahagia melihat putranya kini sadar.
"Kevin, maafkan kakak, kakak yang bertanggung jawab atas kondisimu ini, tolong maafkan kakak."
Melati memeluk tubuh Kevin dan membasahi tubuh itu dengan air matanya.
"Tidak, ini bukan salah kakak atau siapa pun. Ini hanya cobaan kecil untuk pria kuat seperti Kevin, iya kan kak Sultan?"
Ucap Kevin sambil tersenyum ringan pada Sultan ysng juga berada disana.
__ADS_1
Sultan pun tersenyum dan mengangguk.
"Iya, kamu memang pria yang sangat kuat. Dan kakak yakin, jika kamu pasti mampu melewati ujian apa pun." Ucap Sultan.
Cahaya dan Yoga, baru menyadari jika dari pertama dia sampai, Sultan selalu ada bersama mereka.
"Siapa pria ini sayang?"
Tanya Cahaya pada Melati, karena dia merasa tidak pernah melihat Sultan sebelumnya. Apalagi dari tadi Sultan selalu menemani mereka semua menjaga dan menunggu Kevin bangun. Sepertinya pria itu memiliki hubungan baik dengan kedua anaknya.
"Kak Sultan, calon kakak ipar Kevin."
Tapi bukan Melati yang menjawabnya, melainkan Kevin.
"Kevin, kamu ini..." Tegur Melati lalu tertunduk malu.
Cahaya memandang suaminya, kemudian Cahaya dan Yoga mengangguk mengerti dan tersenyum.
...
"Terima kasih nak Sultan, kamu dan ibumu sudah sangat membantu kami."
Cahaya mendekati Sultan dan berterima kasih padanya.
Melati tadi sudah menceritakan semua tentang Sultan yang dia ketahui. Melati juga memberi tahu orang tuanya jika Sultan itu adalah saudara kembar laki-laki Zahra yang hilang 13 tahun silam.
__ADS_1
Mendengar Sultan adalah saudara Zahra, tentu semakin membuat orang tua Melati menyukai Sultan.