
Seharian Zahra bersama Rosa. Tak ada bosannya, keduanya melakukan ini dan itu dengan bahagia.
Hingga selesai sholat ashar. Zahra pergi ke makam Samuel bersama Rosa. Keduanya mendoakan mendiang Samuel sesuai cara keyakinan masing-masing. Lalu, mereka membersihkan sekitaran makam tersebut yang ditumbuhi rerumputan liar.
"Sayang, mama dan Zahra datang!" ujar Rosa, mulai bercengkrama dengan nisan sang putra.
Sedang Zahra, gadis itu menatap sendu nisan Samuel. Ada rasa bersalah pada tulang belulang yang terbaring di bawah sana.
'Assalamualaikum Sam! Aku datang. Maaf, jika aku berapa hari ini tidak menemui mu,' batin Zahra.
'Sam, a_aku telah menikah! Statusku sekarang adalah istri orang lain. Maafkan aku jika disana kamu merasa kecewa dan terluka. Aku minta restumu Sam. Tolong restui pernikahan aku dan Mas Arsyad. Dan, izinkan namamu tetap menjadi suatu story yang indah dalam bagian hatiku. Aku selalu mendoakan mu. Maaf, sekali lagi.'
Monara terus bermonolog. Seakan Sam di alam sana dapat melihat dan mendengarnya.
Sekitar, dua puluh menit Zahra dan Rosa disana. Barulah keduanya pulang. Dan saat sampai di rumah, Arsyad terlebih dahulu ada disana. Pria itu sedang duduk bersama Hamdan di ruang keluarga yang juga baru pulang kantor.
__ADS_1
"Assalamualaikum!" sapa Zahra pada sang suami. Zahra sedikit tak enak hati. Karena dia pergi ke makam mendiang calon suaminya terdahulu, tanpa meminta izin Arsyad.
"Waalaikumsalam!"
Arsyad tersenyum menyambut Zahra. Pria itu sudah tahu jika Zahra dari makam Samuel. Hamdan yang memberitahunya.
Setelah duduk sebentar, Arsyad dan Zahra pamit pulang dari sana. Keduanya diminta tinggal hingga waktu makan malam tiba. Tapi, Arsyad menolak dengan sopan. Pria itu ingin mengajak sang istri untuk makan malam romantis di luar. Tadi, sebelum menjemput Zahra. Arsyad menyempatkan diri memesan sebuah ruangan di sebuah restoran. Pria itu meminta para petugas disana untuk menata ruangan serta meja dan kursi sedemikian rupa.
"Siap-siap yah sayang! Mas ingin mengajak kamu keluar," ucap Arsyad setelah Zahra mencium punggung tangannya. Keduanya baru selesai sholat maghrib.
"Mas! Maaf, tadi aku ke makam Samuel tanpa izin dari mas," ujar Zahra lirih.
"Buat apa mas?"
"Berkenalan! Dan berterima kasih padanya. Karena sebelumnya dia telah menjagamu dengan baik. Mas juga ingin bercerita banyak dengannya. Mas ingin meminta restunya untuk hubungan kita." tutur Arsyad masih dengan wajah berhiaskan senyum.
__ADS_1
Zahra hanya mengangguk. Kemudian dia bangkit dan bersiap.
...
Zahra terpanah saat Arsyad membawanya memasuki salah satu ruangan tertutup di sebuah restoran.
Ruangan yang telah dihias indah. Meja makan berhiaskan lilin dan kelopak mawar. Serta, peralatan makan yang ditata serapi mungkin.
Bahkan disana sudah ada beberapa menu yang masih hangat. Sepertinya, suaminya itu telah mengaturnya dengan baik.
"Masyaa Allah! Ini semua mas yang siapin?" tanya Zahra dengan raut bahagia.
"Pelayan! Mas hanya memberi ide," sahut Arsyad. Dia sangat bahagia, karena melihat istrinya tersenyum bahagia hanya karena kejutan kecil darinya.
"Terima kasih mas! Ini indah sekali."
__ADS_1
"Sama-sama sayang!"
Arsyad menarik salah satu kursi buat Zahra. Setelah istrinya duduk, barulah ia sendiri duduk di kursi yang berhadapan dengan wajah cantik sang istri.