
Saat para tamu sudah bubar. Zahra dan Arsyad kembali ke kamar Zahra yang berada di rumah Zidan. Sedang orang tua Arsyad memilih tidur di rumah orang tua Melati. Rencananya, besok pagi barulah mereka mengantar Arsyad dan Zahra ke rumah yang sudah Arsyad sediakan untuk pasangannya.
Di dalam kamar, lagi-lagi Zahra dibuat kalang kabut oleh resleting gaunnya. Sama dengan gaun pagi tadi. Letaknya di belakang dan sulit diraih.
"Sini aku bantu!" ucap Arsyad menawarkan diri.
Tidak ada lagi drama manggil-manggil Melati. Zahra diam saja saat sang suami membantunya menurunkan resleting gaunnya. Arsyad juga peka, dia hanya menurunkan setengah, hingga Zahra sudah bisa meraihnya.
Zahra, kemudian masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Gantian dengan Arsyad setelahnya.
Keduanya menunaikan sholat isya sebelum tidur. Tadi, acaranya dimulai setelah maghrib soalnya.
Saat mau tidur, saat itulah Zahra merasa gugup dan canggung secanggung-canggungnya.
Arsyad melihat ekspresi gugup sang istri. Dia tersenyum, sepertinya mengerti dengan yang membuat istrinya itu gugup.
__ADS_1
"Tidurlah! Kamu pasti lelah. Besok kita akan pulang. Assalamualaikum."
Arsyad merebahkan diri di samping Zahra.
'Tidak malam ini. Tidak bebas, ini rumah orang,' batinnya tak sabar menanti pagi hingga bisa membawa sang istri ke rumahnya sendiri.
"Waalaikumsalam!"
Zahra merasa selamat dari cengkraman binatang buas saat ini. Tadi dia sangat takut jika saja Arsyad akan meminta haknya. Tidak mungkin menolak, karena Zahra orang yang paham agama. Tapi, jujur, dia belum siap melakukan kewajibannya.
Mau berontak? dosa!
Yah, pasrah saja.
Malam ini Zahra tidur dengan risih. Dia tidak melepas jilbab dan niqab'nya. Ditambah, tangan Arsyad yang melingkar erat di perutnya.
__ADS_1
...
Setelah sarapan, suasana rumah Zidan menjadi mengharu biru.
Zahra bergantian memeluk semua orang. Dia akan pergi ke rumah sang suami. Yang letaknya lumayan jauh dari rumah para keluarganya. Bahkan, dia akan berangkat ke Amsterdam dua hari kemudian. Ada pekerjaan mendesak di perusahaan Arsyad yang ada disana. Dan kalau sudah selesai, rencananya mereka akan langsung melakukan perjalanan honey moon'nya.
"Aunty, hiks Ayifa itut!" rengek sih kecil Alifa. Dia bergelayut di badan Zahra. Tak mau melepas sang aunty yang selama ini lebih sering mengajaknya bermain dan jalan-jalan di banding ibunya sendiri.
Zahra tak mampu berkata. Dia melirik kakaknya seakan minta bantuan. Tak tega hatinya melihat ponakannya menangis begitu. Tapi, dia harus pergi bukan? Seorang istri harus ikut kemana suaminya pergi.
"Alifa sayang, Alifa katanya minta adik waktu itu. Bagaimana kalau aunty yang buatkan? Tapi, Alifa harus biarin aunty ikut dengan Paman. Baru deh adik'nya Alifa bisa jadi."
Perkataan Melati, membuat semua orang hampir tersedak air liurnya sendiri. Tapi, ternyata itu sangat mempan. Alifa langsung melepaskan tangannya yang sejak tadi menahan Zahra.
"Yang cepat yah aunty. Ayifa mau main dengan adik. Mama sama papa tidak mau bikinkan. Bikin yang banyak aunty, biar Ayifa punya banyak teman."
__ADS_1
Alifa berpesan seakan membuat seorang anak itu semudah membuat adonan. Dan, perhatikan wajah Zahra. Wajahnya sudah memerah. Bagaimana bisa buat adik untuk ponakannya? Sedangkan di peluk suaminya saja, nafasnya hampir berhenti.