Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 125


__ADS_3

"Kenapa? Perut kamu masih kosong sayang. Makan sedikit ok!" ujar Arsyad.


"Jauhkan," Zahra menepis pelan tangan Arsyad yang menyodorkan sesuap kwetiau padanya.


"Apa kamu tidak menyukai baunya sayang?" tanya Aisyah. Dia pernah dalam fase tersebut. Jadi bisa menebaknya.


Zahra mengangguk, "Iya, maaf tapi itu membuat Zahra mual," ujar Zahra.


Arsyad masih tidak begitu paham. Tapi dia segera menjauhkan kwetiau tersebut dari Zahra.


"Wanita hamil memang seringkali tidak menyukai beberapa hal. Itu bawaan bayi di perutnya," ujar Aisyah pada Arsyad.


"Tunggu yah, sayang. Mamah akan bawakan sesuatu yang pasti kamu suka," ucap Aisyah lagi pada Zahra. Kemudian Aisyah menuju dapur.


'Aku harus belajar apa-apa tentang ibu hamil,' batin Arsyad. Rencananya, nanti dia akan buka google untuk mencari tahu semua yang berhubungan tentang ibu hamil. Dari yang ibu hamil sukai atau pun kadang tak disukai.


...


Benar saja, Zahra memakan semua isi piring yang mertuanya bawakan.


Salad buah berbahan alpukat kini tandas tak bersisa.

__ADS_1


Arsyad sampai cengo melihat porsi makan sang istri. Satu piring salad alpukat, tapi piringnya berukuran jumbo. Biasanya Zahra tidak sebanyak itu porsi makannya.


Aisyah malah tersenyum girang saat sang menantu melahap habis salad buatannya. Benar-benar jabang bayi Arsyad di dalam sana. Dulu, saat hamil kan Arsyad, Aisyah pun sangat menyukai salad tersebut. Bahkan setiap hari memakannya.


...


Pagi harinya, rumah orang tua Arsyad ramai akan kedatangan semua orang. Bahkan Rosa dan Hamdan pun datang.


Untuk beberapa waktu ini, khususnya dalam masa trisemester. Aisyah dan Hasan meminta Zahra dan Arsyad tinggal disana. Alasannya, tentu agar dapat menjaga sang menantu dengan baik.


Semua orang datang dengan raut bahagia yang tak bisa ditutupi. Semuanya sangat bahagia akan hadirnya janin dalam rahim Zahra yang merupakan kesayangan semua orang.


"Kapan adiknya keluar Aunty?" tanya Alifa dengan polosnya. Si gemoy itu meraba perut Zahra dan menatapnya. Tak sabar menanti sang adik keluar.


Semua orang sontak tertawa akan tingkah dan pertanyaan anak itu.


"Sabar yah sayang. Adiknya masih belum bisa keluar sekarang. Tunggu sembilan bulan lagi, ok!" ujar Arsyad lembut. Memberi gadis kecil itu pengertian.


"Sembilan bulan! Satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan. Mana, kok belum keluar?" ujar Alifa setelah menghitung jarinya.


Semua orang kembali terkekeh akan tingkah anak itu.

__ADS_1


"Bukan menghitung sampai sembilan sayang. Tapi sembilan bulan. Masih lama, Alifa sabar dulu yah!"


Lagi, Arsyad menjelaskan. Bingung juga lama-lama ngadapin anak kecil satu itu.


"Hmm sembilan bulan berapa lama sih?" gerutunya kesal.


"Alifa tahu jumlah hari dalam satu minggu tidak?" tanya Arsyad.


Alifa mengangguk, "Ada tujuh hari!" jawabnya.


"Nah, dalam satu bulan itu ada empat minggu kadang lebih. Berarti, jika sembilan bulan, empat minggu itu dikalikan sembilan kali." tutur Arsyad menjelaskan.


"Ah Ayifa bingung hitungnya cucah!" keluh gadis gemoy itu dengan tampang cemberut.


Arsyad menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia bingung bagaimana menjelaskannya pada Alifa.


"Sayang, jangan cemberut ah. Nanti jadi jelek. Adiknya bisa tidak mau ketemu sama Alifa. Terus makin lama keluarnya. Sabar saja yah. Doakan adik selalu sehat di dalam sana. Terus bisa keluar dengan selamat." ujar Sarla sambil memangku sang cucu.


Alifa dengan cepat merubah mimik wajahnya, yang tadi cemberut kini tersenyum sumringah meski kesannya dibuat-buat.


Tingkah anak itu sungguh sangat menggemaskan.

__ADS_1


__ADS_2