
"Zahra mandi dulu yah mah!" ucap Zahra yang diangguki oleh sang mertua.
Zahra melangkah ke dalam lift yang tertuju langsung di depan kamarnya yang berada di lantai dua. Sedang sang mertua, berjalan ke dapur dulu untuk meminta pelayan membuat minuman segar, barulah dia ke kamar yang Arsyad siapkan khusus untuknya jika berada disana.
Setelah mandi, mertua dan menantu itu duduk santai di depan ruang televisi. Tak lama, pelayan datang menyuguhkan minuman dingin buat keduanya. Jeruk peras itu terlihat menggoda di mata Zahra. Dan dengan cepat ia seruput.
"Masya allah, segarnya," ucap Zahra.
"Emm, iya sayang. Segar sekali rasanya habis panas-panasan terus minum yang segar-segar," sahut Aisyah yang juga tergoda menyeruput minuman berwarna orange itu.
Keduanya duduk menonton sambil menikmati cemilan yang pelayan suguhkan bersamaan minuman tadi. Hingga suara seseorang mengalihkan perhatian mereka.
"Assalamualaikum! Masya allah dua bidadariku sedang apa ini?" ucap Arsyad menghampiri keduanya. Mencium punggung tangan sang ibu, lalu beralih mencium kening sang istri.
"Kami tadi habis main di kebun mas! Terus, ini habis mandi dibuatkan jeruk peras oleh pelayan," sahut Zahra.
"Mas kok pulang cepat?" tanya Zahra kemudian. Ini masih pukul sebelas siang.
"Mas tadi ada rapat di cafe dekat sini. Jadi, sekalian saja Mas pulang untuk makan siang dengan kalian," ujar Arsyad.
__ADS_1
"Loh, bukannya rapat di cafe? Terus kenapa mau makan disini lagi? Emangnya kamu belum makan?" tanya Aisyah bingung.
Zahra menatap suaminya. Menunggu jawaban sang suami, karena dia pun mau bertanya hal yang sama dengan sang mertua.
"Arsyad sengaja tidak makan disana. Mau makan siang bareng dua bidadariku," jawab Arsyad.
"Oh, manis sekali putra mama ini!" ucap Aisyah menoel dagu sang putra.
...
Dua bulan berlalu dengan cepat. Waktu menunjukkan pukul dua dini hari.
"Aoch!" Zahra meringis saat merasakan perutnya sakit luar biasa.
"Sakit mas!" ujar Zahra, menahan sakit.
Arsyad sontak bangun dan memanggil sang ibu melalui telepon.
Tak lama, Aisyah dengan pakaian tidurnya datang.
__ADS_1
"Mungkin sudah mau lahiran," ucap Aisyah sambil mengusap peluh sang menantu.
"Tapi, ini masih kurang sembilan hari dari yang dokter perkirakan," sahut Arsyad, namun tetap menelpon pihak rumah sakit untuk melakukan persiapan. Kemudian dia menggendong sang istri keluar dari kamar dan memasuki lift.
"Dokter juga manusia. Bisa salah menepak," sahut Aisyah.
Arsyad mengemudikan mobilnya dengan rasa cemas. Sesekali dia menengok sang istri yang baring di pangkuan sang ibu dari kaca spion.
"Sabar yah sayang, sebentar lagi kita sampai," ucap Arsyad yang tak sampai hati melihat Zahra terus meringis.
Sekitar lima belas menit. Arsyad menepikan mobilnya dan bergegas keluar. Dia membuka pintu bagian penumpang dan menggendong sang istri dengan hati-hati. Bobot berat sang istri tak terasa bagi pria yang dilanda khawatir tersebut.
Baru sampai pintu rumah sakit. Perawat sudah menyambut dengan membawa brangkar.
Arsyad meletakkan Zahra di atas brangkar tersebut. Lalu, membantu dua perawat mendorong brangkar tersebut menuju ruang persalinan.
Sigap dokter kandungan yang selama ini menangani Zahra, mengecek kondisi Zahra.
"Apa semua sudah siap?" tanya dokter pada seorang perawat dan direspon anggukan oleh sang perawat.
__ADS_1
Aisyah dan Hasan menunggu dengan cemas di depan pintu. Hasan baru sampai. Tadi di jalan, Aisyah mengabari semua orang. Sedang, Arsyad di persilahkan masuk untuk mendampingi sang istri.
Yang lain belum sampai. Karena jarak rumah mereka lumayan jauh.