Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 75


__ADS_3

Seperti biasanya. Keluarga kecil itu, selalu melakukan sholat jama'ah subuh bersama. Hanya pada waktu itu mereka bisa melakukannya. Karena tuntutan kerjaan dan kesibukan masing-masing. Sehingga di waktu wajib lainnya, mereka hanya bisa melakukannya sendiri-sendiri.


Di dapur, Laras, wanita paruh baya yang masih nampak cantik itu. Menyadari ada yang membebani sang putri tercinta yang kini membantunya menyiapkan sarapan.


"Kenapa sayang? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Laras penuh perhatian.


Zahra yang semula termenung sambil memotong sayuran. Menengok ke arah sang ibu angkat yang rasanya bagai orang tua kandung untuknya.


"Apa terlihat jelas mah?" Zahra balik bertanya. Dia bukan orang yang pandai berbohong.


Laras tersenyum lalu beralih menggenggam jemari sang putri.


"Katakan sayang. Jangan menyimpan apa pun sendiri. Karena kini Zahra tak sendiri lagi. Zahra sekarang punya rumah dan sandaran. Besar kecilnya beban yang kamu bawa, berbagilah pada keluargamu. Terutama pada mamah."


Tulus Laras berucap. Membuat Zahra terharu dan memeluknya erat.


"Terima kasih mah. Zahra sayang mamah," ucapnya, dan tentunya telah berteteskan air mata.


"Katakan sayang. Jangan sungkan. Sebisa mungkin mama akan berusaha mengangkat apapun beban yang kamu pikul itu," pinta Laras, mengusap kepala sang putri.

__ADS_1


Dengan sedikit canggung, Zahra menceritakan apa yang kini menjadi beban pikirannya. Mulai dari dirinya yang juga mencintai Samuel, keadaan Samuel yang kini tidak baik-baik saja, keputusannya untuk memberi pria itu kesempatan, bermusyawarah untuk mencari jalan keluar dan yang paling membebani Zahra ialah Rosa. Ibu Samuel yang tidak menyetujui hubungan mereka.


Mendengar penuturan sang putri. Laras pun ikut merasakan yak kini putrinya itu rasa.


"Tenanglah sayang. Mama yakin dengan kesungguhan Samuel. Bukankah kalian akan berdiskusi dan membahas semuanya? Utarakan semuanya padanya. Mama percaya, kalian bisa menemukan solusi terbaik untuk masalah ini. Urusan Ibu Samuel, serahkan pada mama. Berdoa saja, agar Samuel lekas pulih dan secepatnya kalian bisa mendiskusikan hal ini."


Sesuai perkataannya. Laras akan berusaha sebisa mungkin untuk mengangkat beban yang kini putrinya itu pikul.


...


Pekerjaan Vano, Isabel dan Zahra menjadi sedikit banyak karena sang atasan sudah dua hari ini tidak masuk kantor.


"Kami mau ke rumah sakit. Kamu mau ikut?" tawar Isabel.


Mendengarnya, Zahra merasa bimbang. Mau, tentu. Tapi dia sangsi, apa kehadirannya nanti akan diterima disana? terutama oleh Rosa.


"Tidak usah khawatir. Barusan tante Rosa mengabari akan segera pulang dan memintaku menggantikannya menjaga Samuel. Dan akan datang kembali malam nanti bersama paman."


Vano tentu mengerti dengan yang menjadi pertimbangan Zahra.

__ADS_1


Akhirnya, ketiga orang itu berangkat bersama. Tapi tentunya, Zahra menggunakan mobil sendiri.


...


"Hai bos. Lihat, siapa yang aku bawa," seru Vano sambil membangunkan Samuel.


Dokter bilang keadaannya sudah jauh lebih baik. Kalau tidak ada kendala. Samuel sudah bisa pulang besok pagi atau siangnya.


Samuel membuka matanya dan tersenyum mendapati Zahra berada di depannya.


"Apa kabar?" Sapa Samuel pada Zahra.


"Alhamdulillah aku baik. Harusnya aku yang bertanya. Bagaimana keadaan kamu? a_aku..."


Zahra sedikit gemetar, mengingat wajah Samuel yang kemarin kesakitan dengan bermandi keringat.


"Aku sudah jauh lebih baik. Kamu boleh pastikan pada Dokter. Besok aku bahkan sudah boleh pulang. Jangan khawatir."


Cepat Samuel menenangkan Zahra. Dia dapat mendengar rasa khawatir dari suara gadis itu yang gemetar.

__ADS_1


__ADS_2