
Wajah Melati kembali memerah. Dia bingung bagaimana mengatakan maksudnya yang ingin minta sang suami membantunya melepas gaunnya itu.
Tidak tahu saja dia. Kalau suaminya pura-pura nggak peka karena ingin mendengar keberanian sang istri meminta secara langsung untuk dibantu.
"Emmm... bi_bisa... tolong bantu bukain nggak?"
Sungguh, kalau bukan bingung ngejawab apa pada orang tuanya. Melati rasanya ingin pulang kesana meminta tolong kepada ibu atau adiknya saja.
"Oh, bisa." jawab Zidan terdengar enteng. Huh padahal ia mencoba menahan girangnya saat ini.
Bahagia sekali, barangkali nanti akan ada adegan selanjutnya.
Huh, author pun bingung dengan sisi lain Zidan ini. Usil dan Nakal!
Zidan melangkah ke kamar mandi, dan mencoba sebisa mungkin tidak tertawa saat mendapati istrinya yang salah tingkah.
Bukan berarti dia tidak merasa gugup dan degdegan lagi. Tapi Melati berlebihan, dia seakan didekati pria asing saja. Padahal mereka kan sudah sah menjadi suami dan istri.
"Tutup mata!" Ucap Melati saat merasakan tangan Zidan sudah menyentuh res gaunnya.
"Kalau tutup mata bagaimana bisa ngebantu bukain sayang?!" kilah Zidan beralasan.
"Ya sudah, tapi jangan diliatin." lirih Melati pelan.
"Itu sama saja sayang!"
__ADS_1
"Iya deh, tapi cepetan."
Zidan hanya tersenyum sambil menarik res gaun sang istri secara perlahan. Jangan lupakan! Zidan pun masih teramat degdegan.
"Sudah! Mau di bantu yang lainnya?" tanyanya.
"Maksudnya? aku mau mandi. Keluar sana."
Sumpah demi apapun. Malunya Melati pake banget saat ini.
"Tidak ditawarin mandi bareng kah?"
Wah keberanian dari mana itu? Zidan bisa bertanya demikian dengan entengnya.
Melati melotot mendengar pertanyaan Zidan.
Seperginya Zidan, Melati baru bisa bernafas lega.
"Huh, bisa jantungan aku kalau begini. Tapi, aku berdosa tidak yah begitu ke suami aku? Apa aku dari tadi termasuk menolak suami aku? Ya Allah! Iya nggak sih? Tapi aku tidak bermaksud. Aku sungguh malu. Dengar deh, jantungku seperti mau melompat dari tempatnya." Entah pada siapa wanita itu berbicara.
Beberapa saat kemudian, Melati keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk.
Malu, grogi, degdegan, ah semuanya dia rasakan. Tapi apa daya dia lupa membawa pakaian ganti ke kamar mandi. Dan kalau meminta tolong pada Zidan untuk mengambilkannya. Uh lebih malu lagi. Bisa-bisa Zidan melihat semua pakaian dalamnya di dalam koper.
Tapi ngomong-ngomong kopernya kayaknya masih di mobil deh. Tadi kan Zidan menggendong dirinya memasuki rumah. Dan barang-baranya yah masih di mobil.
__ADS_1
"Pakaian kamu sudah aku susun di lemari." Ucap Zidan santai yang membuat Melati membuka mulut 'hah?'.
Iya, saat Melati mandi. Zidan turun ke bawah mengambil koper sang istri. Dan tanpa berpikir dia menyusun rapi semua isinya ke dalam lemari.
"Ka_kamu maaf maksudku Mas Zidan menyusun semuanya ke dalam lemari?" Tanya Melati memastikan.
"Iya!" Dan di jawab santai oleh sang suami.
"Se_semuanya?" Tanyanya lagi.
"Iya sayang! Semuanya sudah tersusun rapi. Tenang saja, suamimu ini bisa di andalkan kok."
"Oh tidak!" gumam Melati.
"Kenapa sayang? Kamu tidak kedinginan? Atau mau aku ban..."
"Tidak tidak! Aku akan pakai pakaian. Mas Zidan mandi juga gih."
Melati terlihat seperti kucing kecil saat ini. Menggemaskan.
...
Zidan yang baru selesai mandi. Keluar dari dalam kamar mandi juga dengan menggunakan handuk kecil sepinggang.
Pria itu mendapati sang istri duduk di meja rias. Tanpa menggunakan pakaian terlebih dahulu, Zidan mendekati sang istri.
__ADS_1
Ah, Melati kembali degdegan. Dia berpura-pura tidak menyadari langkah sang suami dan tetap serius dengan lation di tangannya. Padahal dia melihat Zidan jelas menuju padanya dari cermin.
'Cukup Mel! Loe tidak boleh menghindari suami loe. Ber do sa!