Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 27


__ADS_3

"Dan aku... Papa... Oke!"


Gibran melangkah mendekati keduanya.


"Pa pa?"


Zahra memanggil Gibran dengan sedikit kaku.


Gibran mengangguk kemudian melirik meja dapur.


"Hmm sepertinya perut papa keroncongan." Ucap Gibran yang membuat keluarga bahagia itu tertawa.


Zahra bersama Laras menyajikan makanan di atas meja makan.


"Emmm rasanya perut papa tidak sabar."


Gibran langsung mengambil makanan di piringnya dan melahapnya.


Laras dan yang lain juga mengikuti.


"Emm enak sekali. Maa syaa allah masakan kamu luar biasa sayang."


Dengan mulut penuh Laras tak bisa tahan untuk tidak memuji masaksn Zahra yang memang sangat enak.


"Iya rasanya sangat sangat lezat." Tambah Gibran sambil terus melahab makanannya.


"Terima kasih, jika kalian suka mulai sekarang aku akan memasak untuk semua orang." Ucap Zahra dengan rasa syukur karena masakannya tidak mengecewakan keluarga barunya itu.


Sultan hanya tersenyum sambil terus menyantap makanan yang memang dia ajukan jempol itu.


...


Pagi itu, Zahra sendirian di rumah besar itu, tapi tidak lagi merasakan sepi saat dia belum mempunyai keluarga baru.

__ADS_1


Gibran meskipun sudah sepenuhnya menyerahkan perusahaannya kepada Sultan, tapi dia sesekali pergi kesana untuk memantau.


Dan hari ini, meski hari minggu, Gibran dan Sultan pergi ke perusahaan untuk mengatur jadwal pertemuannya dengan perusahaan yang sudah mereka sepakati untuk melakukan kerja sama.


Dan Laras, tentunya tidak ada hari minggu untuk seorang dokter besar sepertinya.


Selesai membersihkan rumah, Zahra merasa agak suntuk jadi dia memutuskan menelpon Melati.


"Halo Ra, apa kabar?"


Melati yang sedang boring bareng adiknya menjawab telpon Zahra dengan antusias.


"Alhamdulillah baik, kamu sendiri apa kabar dan juga Kevin?" Tanya Zahra.


"Alhamdulillah kami baik. Boring nih, keluar yuk." Ajak Melati yang dari tadi sudah sangat bosan di rumah.


"Emmm boleh, tapi kemana?" Ucap Zahra.


"Kemana pun...?" Ucap Melati lalu di sambung oleh Zahra.


"Haha." Kedua tertawa lepas.


"Baiklah aku yang akan menjemputmu, aku juga mempunyai banyak topik bahagia untuk aku bagikan denganmu." Ucap Zahra, dia tidak sabar menceritakan secara langsung tentang keluarga barunya pada sahabatnya.


...


Zahra bersiap lalu mengambil kunci mobil.


"Kak, aku keluar bersama Melati."


Zahra mengirim pesan kepada Sultan, takut jika kakaknya pulang duluan dan tidak menemukannya di rumah akan panik.


Zahra kemudian bergegas ke rumah Melati.

__ADS_1


"Uh sayangku, wajah kamu berseri sekali."


Melati menyambut Zahra dengan pelukan.


"Tentu saja, karena sekarang hidupku sudah kembali sempurna..."


Ucap Zahra lalu duduk dan berbagi rasa bahagianya dengan Melati.


"Hmm aku juga mau tinggal denganmu, kamu tau Kevin itu sangat membosankan." Keluh Melati sambil melirik Kevin yang dari tadi hanya sibuk bermain game.


"Kakak yang membosankan, main game receh gini aja ngak bisa." Ketus Kelvin.


Zahra hanya tersenyum melihat keduanya. Adik kakak itu memang sangat jarang akur, ada saja yang membuat mereka bertengkar.


"Ayo keluar, kita jelajahi kota ini." Melati menarik tangan Zahra.


"Kevin ikut ngak?" Tanya Zahra.


Melati melototi adiknya, dia tentu tidak mau adiknya ikut. Itu akan merusak kebebasannya.


"Tidak, takut sama burung gagak galak." Ucap Kevin lalu malingkan wajahnya.


"Ya sudah, kakak pergi dulu yah."


Zahra hanya tersenyum lalu melangkah keluar bersama Melati.


"Kamu mau bawa mobil sendiri?" Tanya Zahra saat Melati mengeluarkan kunci mobil dari dalam tasnya.


"Iya harus dong. Hari ini kita akan menjelajahi kota ini, dan... kita balapan."


Melati kemudian memasuki mobilnya dan mengemudikannya duluan.


Zahra menggeleng lalu mengikuti Melati dari belakang.

__ADS_1


Kedua gadis itu kini menelusuri jalan kota dengan kecepatan cukup tinggi. Terlebih saat mendapat jalan yang sepi, Melati melaju sangat cepat dan Zahra hanya menyeimbangi saja.


__ADS_2