
Zahra kembali ke kamar. Gadis itu menangis di tepi tempat tidur dengan memeluk foto Samuel yang dulu ia ambil di kamar Samuel.
"Maafkan aku. Apakah kamu marah? Maaf, aku tidak sampai hati membuat kak Zidan kecewa dan malu. Cukup saat pernikahan kita batal saja, kak Zidan dan yang lain merasa malu. Aku tidak mau mereka harus kembali merasakan malu hanya karena keegoisan aku."
Zahra terus bermonolog sambil memeluk foto Samuel hingga ketiduran. Dan sekitar setengah jaman, dia terbangun. Dia bergegas ke kamar mandi, mengambil wudhu. Dia belum sholat isya.
...
Malam berikutnya, Zahra pergi ke rumah orang tua Samuel. Saat ini, gadis itu tertunduk di depan Hamdan dan Rosa. Dia sudah memberi tahu tentang lamaran Arsyad yang ia terima. Dan dia merasa tidak enak hati. Dia merasa seakan tak punya pendirian. Baru beberapa hari yang lalu dia mengatakan tidak mau menikah dengan pria mana pun. Akan tetapi, sekarang dia sudah berstatus calon mempelai.
"Kenapa sedih? Bukankah ini kabar gembira? Harusnya kamu tersenyum sayang. Kebahagian sudah di depan mata. Teruslah melangkah. Jangan sesekali menengok ke belakang." tutur Rosa sambil mengelus kepala Zahra yang terbalut hijab.
__ADS_1
"Iya, tersenyumlah nak. Kami mendoakan semua tentang kebaikan kamu. Semoga pernikahan ini berjalan lancar dan kamu hidup bahagia." sahut Hamdan menimpali perkataan istrinya.
Keduanya merasa bersyukur. Karena akhirnya, yang mereka harapkan akan segera terwujud.
"Terimakasih Om, Tan. Zahra berjanji, meski Zahra sudah menikah, Zahra tetap akan sering kesini. Ini masih rumah Zahra juga kan?" tanyanya dengan mata yang mulai sembab.
Hamdan dan Rosa serentak mengangguk.
Rasa haru menyeruak dari dalam dada Zahra. Dia sungguh bahagia. Bukan karena akan menikah. Namun, karena orang tua, orang yang ia cintai begitu sangat menyayanginya.
...
__ADS_1
Waktu dua minggu berjalan cepat. Hari yang dinanti akhirnya tiba. Semua orang begitu bahagia dan bersemangat. Namun, tidak dengan Zahra. Meski pun dia tidak mencintai Arsyad. Dia tetap merasa ketakutan. Takut, kejadian tiga tahun terulang pada Arsyad. Dimana saat detik-detik pernikahannya dengan Samuel, sang mempelai pria jatuh sakit dan berakhir pergi untuk selamanya. Kejadian itu menjadi trauma tersendiri bagi gadis berbalut pakaian pengantin itu.
"Ayo, Arsyad dan rombongannya telah tiba."
Melati, menuntun Zahra turun ke lantai bawah. Pernikahan Arsyad dan Zahra di gelar di rumah saja. Lagian rumah mereka tak kalah besar dari pada hotel bintang lima.
Rumah dan halaman rumah Zidan sudah disulap menjadi begitu indah. Tentunya oleh ide dan tangan Aisyah, Laras, Cahaya dan Rosa. Empat wanita itu begitu semangat mempersiapkan pernikahan Zahra dan Arsyad. Keempatnya juga terlihat begitu akrab dan kompak.
Dalam diam Rosa tak hentinya bersyukur. Karena Zahra akan mendapat suami yang baik dan mertua sebaik Aisyah, yang dia sendiri sangat menyukai ibu Arsyad itu.
Arsyad kini duduk di ruangan yang khusus akan digunakan untuk melakukan ijab dan qabul. Di sampingnya kini duduk Hasan, ayahnya. Dan di depannya, Zidan beserta seorang penghulu.
__ADS_1
Tak lama, para wanita keluarga inti itu pun datang. Belum terlalu ramai. Karena undangan pestanya adalah malam nanti. Siang ini hanya ijab qabul saja.