Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 88


__ADS_3

Pada akhirnya, Rosa dan Hamdan kalah dengan keras kepala Samuel.


Setelah, membersihkan darah di tangan dan sudut bibir Samuel. Mereka berangkat ke Masjid.


Dua puluh menit kemudian. Mereka telah sampai. Disana juga telah ada rombongan keluarga Zahra.


Rosa begitu cemas. Ia melihat wajah Samuel yang semakin pucat.


Dengan hati yang berat, Rosa keluar dari mobil di susul sang suami, kemudian Samuel.


Samuel melangkah ke arah rombongan Zahra. Dapat ia lihat, dari luar Masjid. Di dalam sana sudah ada calon istrinya itu dengan penampilan yang tak henti-hentinya bisa ia kagumi.


ukhuk ... ukhuk ... ukhuk ...


Namun, saat hampir mencapai pintu. Samuel kembali terbatuk hebat dan kali ini pandangannya menggelap.


"Sam?!"


Suara teriakan Rosa dan Hamdan membuat rombongan Zahra terkejut. Semuanya berlari keluar dan betapa kagetnya mereka saat melihat Samuel sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan darah di mulutnya.


"Bawa ke rumah sakit."


Zidan orang pertama yang berhasil mengendalikan rasa terkejutnya. Ia mengangkat Samuel ke dalam mobilnya dan segera membawanya ke rumah sakit dengan di susul oleh yang lain di belakang.

__ADS_1


Jangan tanya bagaimana paniknya semua orang. Terutama Zahra. Tubuhnya bergetar. Air mata telah merusak riasannya yang tersembunyi di balik cadarnya.


Melati yang yang duduk satu mobil dengannya. Memeluk tubuh adik iparnya. Tak mampu berkata, karena ia pun sangat terkejut dan khawatir.


...


Saat sampai rumah sakit. Samuel langsung mendapat penanganan di ruang ICU.


Semua orang menunggu di luar ruangan dengan raut cemas.


"Pah, putra kita. Apa dia baik-baik saja di dalam sana? Kenapa lama sekali?"


Rosa, menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami. Ia begitu cemas. Ibu mana yang tak khawatir saat melihat anak mereka demikian?


Hamdan pun tak kalah khawatir. Di depan matanya, sang putra tergeletak dengan memuntahkan seteguk darah. Apa yang terjadi dengan putranya? Semoga putranya baik-baik saja.


Sekitar sejaman lebih. Barulah dokter keluar dari ruang ICU.


"Dok, putra kami baik-baik saja kan? Tidak ada yang seriuskan Dok?" cecar Rosa pada dokter yang baru menangani Samuel.


Dokter itu tampak bingung. Ia seperti kesulitan menjawab. Ia bergantian menatap Kedua orang tua Samuel di depannya. Lalu ia baru menyadari. Disana juga ada Laras, temannya.


"Maaf, saat ini kami belum bisa memastikan. Ada kemungkinan, ini efek dari kasus tujuh bulan lalu. Yang membuat pasien juga mengalami hal serupa. Untuk lebih jelasnya, kami akan melakukan pemeriksaan secara detail. Mohon doanya, permisi." ucap dokter tersebut, lalu beranjak dari sana setelah menepuk pelan bahu Laras.

__ADS_1


Rosa dan Hamdan memasuki ruang ICU. Mereka tidak diperbolehkan masuk semua. Hanya satu dua orang saja. Jadi, mereka akan bergantian melihat Samuel.


Rosa dan Hamdan tak bisa berkata, saat melihat tubuh lemah dan pucat sang putra satu-satunya yang ia miliki.


"Jangan menangis. Samuel tidak kenapa-kenapa."


Samuel membuka matanya dan melihat kedua orang tuanya berderai air mata. Rasa Sakit di dadanya, tak sebanding dengan sakit di hatinya saat melihat betapa sedihnya kedua orang tuanya.


Tidak bersuara. Rosa malah semakin terisak di dalam pelukan suaminya.


"Zah_ra mana mah, pah?" tanya Samuel.


"Tolong panggilkan Zahra," pintanya.


Hamdan keluar, memanggil Zahra untuk menemui Samuel.


Sesaat kemudian, Zahra pun masuk ke ruang ICU. Dapat ia lihat, Rosa kini menangis sambil memeluk tubuh Samuel yang terbaring lemah.


Perih! Hati Zahra seperti teriris. Harusnya sekarang ia dan Samuel sedang melangsungkan akad nikah. Tetapi, sekarang calon suaminya itu, justru terbaring lemah.


"Zah_ra!"


Samuel meminta Zahra mendekat dengan isyarat wajah. Rosa pun melerai pelukannya dengan sang putra. Memberi keduanya waktu untuk bicara.

__ADS_1


__ADS_2