
Sultan melangkah bersama Zahra memasuki rumah.
"Assalamualaikum." Ucap keduanya, memberi salam pada rumah penuh kenangan indah itu.
Mereka berdua memasuki rumah dan menyisiri setiap sudut di dalamnya.
Hingga sampailah mereka pada sebuah kamar utama, yang mana itu adalah kamar orang tua mereka.
Sultan meraba seluruh dinding kamar itu, hingga tanggannya menyentuh lalu meraih sebuah bingkai yang berisi foto almarhum almarhumah orang tuanya dan juga foto Zahra kecil dan dirinya.
Air mata pria kuat itu pun tumpah, membasahi bingkai itu.
Zahra mengerti apa yang kakaknya itu rasakan saat ini, dia mengusap lembut pundak kakaknya untuk sedikit menguatkannya.
"Maafkan kakak, kamu pasti sangat menderita dan kesepian selama ini."
Sultan memeluk tubuh kecil adiknya dan menangis.
Bukan pria lemah dan cengeng, tapi siapapun jika menempati posisinya akan menangis juga.
Sultan sangat merasa bersalah karena tidak melihat proses kedua orang tuanya disemayamkan. Terlebih pada adiknya yang harus hidup dan berjuang dari kecil seorang diri.
...
Saat Sultan mulai tenang, dia dan Zahra mengambil wudhu kemudian sholat maghrib berjama'ah di kamar itu.
__ADS_1
Rasanya, saat ini kedua orang tua mereka berada disana.
Setelah sholat Sultan menunggu di ruang tamu, Zahra mengambil beberapa barangnya untuk dibawa ke rumah barunya, rumah tempat kakaknya tumbuh, rumah tempat kakaknya mendapatkan hidup baru.
...
"Assalamualaikum." Ucap keduanya sambil memasuki rumah.
"Waalaikumsalam, sayang... kalian sudah pulang. Ayo mama memasak banyak untuk kalian." Laras tersenyum bahagia, melihat putra dan putrinya telah pulang.
Laras menyajikan makanan di atas meja dengan senyum berseri yang tak henti dari wajahnya.
"Pah? anak-anak sudah pulang, ayo turun makan."
Laras meneriaki Gibran suaminya sambil menyajikan makanan.
Keluarga itu kini menikmati makan malam dengan penuh bahagia.
...
Pagi hari, ini adalah hari minggu, jadi Zahra tidak ke perusahaan.
"Emm sepagi ini, siapa yang menyebarkan aroma makanan dari dapur?" Pikir Laras.
Laras tidak memiliki pembantu, karena meski dia seorang dokter, tapi dia selalu menyempatkan diri untuk memasak meski sesibuk apapun dirinya.
__ADS_1
Mencium wangi masakan sepagi itu membuatnya penasaran, siapa yang memasak di dapur itu sedang dirinya baru saja akan memasuki dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Sayang, rupanya putri cantik mama yang sedang memasak. Hmm wangi sekali, rasanya pasti sangat enak."
Laras tersenyum melihat Zahra sedang memasak di dapur itu.
"Tante, aku selalu masak sendiri dari kecil, jadi sedikit tau masakan rumahan. Tapi mungkin rasanya tidak seenak masakan tante." Ucap Zahra sambil mengaduk sayuran di dalam wajan.
"Kita akan tau itu nanti." Ucap Laras tanpa menghilangkan senyuman diwajahnya.
Memiliki seorang putra saja sudah sangat membuatnya bahagia, apalagi sekarang ditambah seorang putri di depannya itu.
"Dan ingat, mulai sekarang jangan panggil tante, tapi Mama. Oke!" Ucap Laras lagi yang seketika membuat tangan Zahra yang sedang mengaduk sayuran berhenti.
"Mama...?" Ucap Zahra lirih, dia tidak pernah menyebut nama itu lagi sejak 13 tahun belakangan ini selain dalam doanya, dan sekarang berdiri seorang wanita cantik dengan senyum manisnya memintanya memanggilnya dengan sebutan mama. Itu membuat Zahra tanpa sadar menjatuhkan air matanya.
Laras mematikan kompor, lalu berkata.
"Iya, sama seperti Sultan mulai sekarang kamu adalah putriku. Jadi kamu juga harus memanggilku mama."
"Mama... mama... mama..."
Zahra memeluk tubuh Laras dan mengulang-ulangi memanggilnya mama.
Laras membalas pelukan putrinya itu sambil mengusap kepalanya.
__ADS_1
Sultan dan Gibran yang juga dibangunkan oleh wangi masakan Zahra turun kedapur. Dan betapa keduanya bahagia campur haru melihat Laras dan Zahra saat ini.