
Zahra merasa bingung apa yang kedua orang itu tertawakan?
"Sudahlah, ayo sajikan makanannya."
Ucap Laras sambil terus tersenyum lalu membawa beberapa hidangan ke meja makan yang berada di luar dapur.
"Beneran kamu yang membuat ini?"
Bisik Zahra saat Laras tidak disana.
"Kamu meremehkan aku yah? hmm..."
Bukannya menjawab, Melati balik bertanya lalu pergi meninggalkan Zahra yang kebingungan.
...
Saat di meja makan, semua orang berkumpul. Termasuk Gibran yang baru datang dari mengurus sesuatu.
"Wah, mama membuat masakan baru?"
Tanya Gibran sambil mengambil makanan yang Melati buat. Dia menebak istrinya yang telah membuat resep baru karena itu pertama kalinya ada di atas meja makan keluarga itu, dan tidak mungkin Zahra yang memasak, karena dia masih belum terlalu sehat jadi tidak mungkin Laras akan membiarkannya bekerja di dapur.
"Seandainya itu benar, mama sangat ingin bisa membuat masakan seperti ini, tapi belum sempat belajar. Dan tentunya bukan mama yang memasaknya, tapi calon menantu kita."
__ADS_1
"Uhuk uhuk..."
Sultan, Melati dan Zahra kompak tersedak saat mendengar yang Laras katakan.
Tapi yang membuat Zahra tersedak berbeda dengan yang membuat Sultan dan Melati tersedak.
Sultan dan Melati refleks tersedak karena Laras menyebut Melati calon menantunya.
Sedang Zahra, dia masih tidak percaya jika makanan lezat yang saat ini ada di dalam mulutnya adalah masakan Melati.
Gibran mengerti dengan maksud istrinya itu, dia melihat Melati sepintas lalu tersenyum.
Melati tertunduk malu, wajah di balik niqabnya kini memerah.
Tapi Sultan malah tersenyum bahagia. Setidaknya, meski dia belum mengatakan hubungannya dengan Melati pada orang tuanya. Tapi orang tuanya sudah tau dan seperti yang terlihat, mereka tentu menyetuji hubungannya dengan Melati.
...
"Sering-sering kesini yah sayang." Ucap Laras, merasa tak rela gadis yang sudah akrab hanya dalam hitungan jam dengannya itu pergi.
"In syaa Allah tante, kalau begitu saya pamit, assalamualaikum."
Melati mencium punggung tangan Laras dan mengatupkan telapak tangannya memberi salam pada Gibran.
__ADS_1
"Istirahat yang baik, daah." Ucap Melati pada Zahra.
Sultan mengantar Melati pulang, tadinya dia mau menunggu Kevin di depan sekolahnya, tapi Melati tidak enak dan memintanya mengantarnya pulang saja, dan nanti Melati sendiri yang akan menjemput Kevin.
"Terima kasih buat hari indah ini." Ucap Melati.
Dia sangat bahagia karena Sultan telah membawanya kerumahnya dan membuatnya kenal dengan Laras yang membuatnya merasa mendapat hal yang selama ini dia rindukan dari orang tuanya yang super sibuk.
"Aku yang berterima kasih, kamu sudah melengkapi rasa bahagia ibuku dengan kehadiranmu." Ucap Sultan lembut.
"Ya sudah, aku permisi dulu. Assalamualaikum." Sambung Sultan.
"Waalaikumsalam."
...
Setelah Sultan pergi dari sana, Melati tidak masuk ke rumah tapi langsung mengambil kunci mobil di tasnya dan melaju ke sekolah Kevin untuk menjemputnya.
Melati serasa sangat merindukan adiknya itu. Belajar tentang kebersamaan dari keluarga Sultan, Melati jadi mengerti satu hal, jika kebersamaan itu sangat berharga. Dia harus bersyukur, karena selalu ada adiknya yang jahil itu yang selalu mengisi harinya dengan godaan-godaan nakalnya.
...
Pas sampai di depan sekolah Kevin, Melati mendengar handphonenya berdering.
__ADS_1
Melati menghentikan mobilnya di pinggir kiri jalan lalu mengangkat telpon yang ternyata dari orang tuanya.
"Waalaikumsalam mah, iya ini aku sedang menunggu Kevin di depan sekolahnya." Ucap Melati pada ibunya diseberang telpon.