
Karena lama tidak ada balasan dari Melati, Sultan mengirim pesan lagi.
"Kamu sibuk yah? ya sudah lanjut nanti lagi, aku juga ada kerjaan. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Melati kehilangan mood berbalas pesan dengan Sultan, bukan tidak suka, tapi dia tidak mau semakin jauh berhubungan dengan Sultan sebagai Zahra.
...
"Apa? kamu meminjam namaku lagi? bahkan sampai sejauh itu?"
Zahra yang mendengar pengakuan Melati merasa sangat terkejut. Bukannya marah, tapi ini bukan masalah sepele. Jika ini berlanjut maka akan ada hati yang terluka dan tentunya Melati sendiri.
"Maaf, aku tidak bermaksud. Sultan mengira kamu yang mengirim chat padanya, mungkin karena dia memberikan kartu namanya memang untukmu dan bukan aku. Jadi dia menantikan chat darimu, bukan aku."
Kata Melati sedih, dia sangat bingung bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Sultan. Dia yakin Sultan akan ilfil padanya jika tahu dia nebeng nama Zahra untuk mendekatinya. Tapi bagaimanapun Melati harus jujur dan meminta maaf pada Sultan, meski resikonya di jauhi oleh Sultan yang sekarang dia yakini kalau dia mencintainya.
"Tenang saja, aku akan membantumu menjelaskannya pada Sultan."
Zahra tidak tega melihat sahabatnya itu sedih, lagian dia juga melihat kalau ada keseriusan yang mendalam dimata Melati saat mengucapkan nama Sultan. Sepertinya sahabat bar-barnya ini beneran sudah jatuh cinta kepada Sultan.
"Tidak perlu, aku yang melakukannya jadi aku juga yang harus menanggungnya."
Melati berpikir jika dia tidak boleh melibatkan Zahra lagi, dia juga sangat mengenal Zahra yang pemalu, meski Zahra terbiasa berbicara di depan orang banyak tapi itu saat berdakwah. Akan sangat berbeda jika berbicara langsung kepada Sultan terlebih dia seorang pria.
...
Sedang Sultan yang bersiap tidur tak hentinya memikirkan Zahra dan Melati secara bergantian.
__ADS_1
Dia begitu mengagumi Zahra yang begitu sempurna dimatanya, tapi dia juga sangat suka kepada Melati yang begitu terbuka dan bawel itu.
Sultan merasa seperti begitu dekat dengan Zahra. Seperti ada sesuatu yang membuatnya merasa begitu akrab dengannya. Padahal mereka sangat jarang bertemu dan berbicara, tapi rasanya mereka seperti punya ikatan yang erat.
"Aaaahhhh."
Sultan kembali merasa kesakitan. Dia memegang kepalanya bahkan menarik rambutnya. Dia melihat dan mendengar seorang gadis kecil berlari dan memangil-manggil nama kak Zidan sambil tertawa. Sultan begitu kesakitan, rasanya dia mau memecahkan kepalanya saja.
"Sayang."
Laras masuk dan lagi-lagi merasa sakit melihat putranya begitu menderita.
"Jangan Mah."
Saat Laras mau memberi obat penenang pada Sultan, Sultan menahannya.
"Kenapa? kamu akan kesakitan sayang."
"Aku ingin melihat lebih banyak, sebenarnya siapa gadis kecil yang selalu terbayang di ingatanku itu dan juga sosok orang tua yang tidak terlihat jelas. Aku mau tahu, aku pasti bisa menahan sakit ini."
Kata Sultan sambil menahan rasa sakitnya, dia berusaha tenang dan melihat lebih banyak.
Laras sangat sedih menyaksikan Sultan menahan sakit, dia juga tidak bisa menghalangi Sultan yang ingin mencari tahu siapa orang-orang yang selalu dia lihat itu. Karena mungkin saja mereka adalah keluarga Sultan yang Sultan lupakan akibat lupa ingatan karena efek terbentur batu saat hanyut di sungai 13 tahun lalu.
"Kak Zidan? haha kakak tunggu aku, aduuh."
Sultan melihat gadis kecil itu berlari dan memanggil nama kak Zidan lagi.
__ADS_1
"Zahraaa!"
Sultan melihat gadis kecil itu jatuh dan sontak berteriak.
"Sayang? kamu tidak apa-apakan?"
Laras memeluk Sultan saat kondisi Sultan sudah membaik.
"Iya Mah, Sultan baik-baik saja."
Sultan mengatur nafasnya sambil menghapus keringatnya.
"Siapa Zidan?"
Tanya Sultan pada Laras.
"Mama tidak tahu, kenapa sayang?"
Laras bingung dengan nama yang putranya tanyakan.
"Saat aku kambuh, aku selalu melihat seorang gadis kecil berlari dan memanggil kakaknya yang bernama Zidan."
Setelah berkata, Laras belum merespon tapi Sultan sudah berkata lagi.
"Zahra, gadis kecil itu bernama Zahra."
Kata Sultan yang membuat Laras bingung.
__ADS_1
"Zahra? tadi kamu juga memanggil nama itu."
Kata Laras, yang mengingatkan Sultan kembali kalau tadi dia memang sontak meneriakkan nama Zahra barusan.