Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 91


__ADS_3

Tiga bulan setelah kepergian sang calon suami. Zahra, kini duduk di sisi peristirahatan terakhir Samuel.


"Assalamualaikum Sam? Bagaimana kabarmu di surga sana? Sabar yah, aku akan datang menemui kamu kelak. Mewujudkan impian kita yang sempat kamu bawa bersama."


Zahra tersenyum. Namun, senyuman itu tak sampai dimatanya.


Yah, kepergian Samuel seakan membawa serta keceriaan seorang Zahra. Terlebih tiga bulan terakhir. Rosa kembali membencinya. Rosa menyalahkan Zahra atas kematian Samuel. Bagi Rosa, Zahra adalah titik awal penyakit putranya.


"Aku pamit dulu yah! Nanti aku akan kesini lagi. Jangan terlalu merindukan aku."


Setelah mendoakan Samuel. Serta mengirim beberapa bacaan ayat suci. Zahra beranjak dari sana. Ia ingin ke rumah orang tua Samuel.


Sejak kepergian Samuel, Zahra rutin kesana setiap minggu. Ia ingin melihat kondisi Hamdan dan Rosa. Menemani mereka yang kesepian. Meski hanya Hamdan yang menyambut baik dirinya. Zahra tetap selalu ke rumah itu. Setidaknya, menepati janji yang ia buat pada dirinya sendiri. Kalau dia akan menjaga orang tua Samuel layaknya Samuel dulu menjaga mereka.


...


Setengah jam perjalanan. Zahra sampai di depan rumah orang tua Samuel. Satpam disana membukakan gerbang untuknya.


"Selamat pagi Non!" sapa Pak Anton. Satpam rumah Hamdan. Lelaki tua itu, sudah mengenal Zahra. Sebab, Zahra yang selalu kesana.

__ADS_1


"Selamat pagi Pak! Zahra ke dalam yah." ucap Zahra yang mendapat persetujuan oleh pak Anton.


Zahra, memencet bel dan tak lama pelayan pun membukakannya pintu.


"Pagi, bi! Om dan Tante ada?"


"Ada Non, di dalam."


Pelayan keluarga Hamdan tersebut mempersilahkan Zahra masuk. Ia menyambut ramah kedatangan Zahra. Mereka lumayan akrab sebab Zahra yang setiap minggu kesana sering membantunya di dapur.


"Eh, sayang. Ayo kemari."


Hamdan menyapa Zahra dengan hangat. Pria yang terlihat sedikit kurusan itu sangat bersyukur memiliki Zahra. Gadis yang menganggapnya sebagai orang tua sendiri. Padahal, kalau dipikir, Zahra bukanlah siapa-siapanya selain calon menantunya yang gagal.


"Di kamar. Sedikit kurang enak badan." jawab Hamdan.


"Tante sakit? Sudah minum obat belum?" Zahra merasa khawatir.


"Belum. Tante tidak mau. Om sudah memaksa tapi tetap tidak mau. Di ajak ke rumah sakit juga tidak mau."

__ADS_1


Hamdan menghela nafasnya memikirkan kondisi Rosa.


"Baiklah. Biar Zahra yang bujuk yah Om."


Zahra, pun beranjak menuju kamar Rosa. Meski sikap Rosa tidaklah ramah lagi padanya. Tetapi, Zahra tak pernah mengabaikan wanita paruh baya itu. Baginya, dia kini memegang tanggung jawab pada kedua orang tua Samuel.


Pintu kamar Rosa terbuka lebar. Namun, Zahra tetap mengetuk pintu sebelum masuk.


Tok tok tok


"Boleh Zahra masuk Tan?"


Rosa, tidak menjawab. Wanita itu memilih memainkan ponselnya. Memandangi setiap foto mendiang sang putra.


Zahra melangkah masuk dan menghampiri Rosa. Di tangan gadis itu sudah ada semangkuk bubur yang sebelumnya dia ambil dari dapur.


"Kata Om Hamdan tante kurang enak badan. Makan dulu yah tan, terus minum obat."


Dengan penuh rasa sayang. Zahra menyodorkan sesuap bubur pada Rosa.

__ADS_1


"Tan, tolong! Makan yah, terus minum obatnya. Samuel pasti akan menyalahkan aku jika tahu aku tak mengurus tante dengan baik." Zahra mencoba membujuk Rosa yang masih enggan membuka mulut.


Perlahan, Rosa menatap ke arah Zahra. Ditelisiknya wajah gadis di depannya itu. Gadis yang hampir menjadi menantunya tiga bulan yang lalu.


__ADS_2