
Pagi hari Isabel membuka matanya dan terkejut mendapati wajah tampan beserta senyuman Vano.
Namun sesaat kemudian Isabel juga tersenyum indah.
"Selamat pagi." Ucap Isabel.
Rasanya semalam dia telah bermimpi indah dalam tidur nyenyak nya.
"Selamat pagi." Balas Vano.
"Aku merasa lapar." Rengek Isabel.
Tentu saja, semalam dia hanya minum bir dan tidak makan apa pun.
"Aku sudah memesan makanan kesukaan kamu, itu dia."
Ucap Vano dan bersamaan dengan itu bel pintu berbunyi.
Vano berdiri untuk mengambil makanan yang dia pesan, lalu dia duduk dan menyuapi Isabel.
"Apa semalam aku merepotkan mu?" Tanya Isabel di tengah makannya.
"Tidak, mana mungkin kamu merepotkan ku." Ucap Vano lalu tersenyum ringan.
Isabel pun tersenyum ringan, lalu diam sejenak seperti menimbang sesuatu.
"Apa kamu menyukai Syanti?" Tanya Isabel dengan sedikit canggung.
Pertanyaan Isabel membuat Vano bungkam, bukan tidak bisa menjawabnya, tapi dia bingung kenapa Isabel bertanya demikian.
Namun sesaat kemudian dia mengerti karena mengingat ucapan Isabel di tengah tidurnya semalam.
__ADS_1
"Jika iya, kenapa?"
Itu bukan jawaban, tapi seperti jawaban bagi Isabel. Dia mengira Vano beneran suka pada Syanti.
Isabel menunduk dan terpaku. Dia sendiri bingung apa yang terjadi padanya. Jika memikirkannya, sepertinya dia merasa cemburu, bukan?
Melihat wajah kusut Isabel, Vano kembali bersuara.
"Aku bertanya kalau iya kenapa? bukan berarti aku menyukainya."
Mendengar itu, sontak Isabel menatap Vano dan pandangan keduanya pun kini beradu.
"Kamu tidak menyukainya?" Tanya Isabel penuh harap.
Vano hanya menggeleng sambil tersenyum tak bersuara.
"Apa kamu menyukaiku?" Tanya Isabel lagi dengan suara lirih.
"Apa harus aku katakan?"
Vano tidak langsung menjawab, namun mencoba mencari tahu isi hati Isabel saat ini.
Isabel kembali menunduk. Dia semakin bingung dengan yang terjadi padanya.
"Bukankah kamu sangat mengetahuinya? dari dulu aku mencintai kamu, dan sampai kini pun tetap begitu."
Vano memegang dagu Isabel dan mengangkat wajahnya pelan.
Kedua pandangan mereka kembali beradu dan sesaat kemudian Isabel memeluk tubuh Vano dengan erat.
"Kalau begitu jangan menyakitiku, jangan membuatku cemburu lagi. Aku tidak suka kamu dekat dengan wanita lain hiks hiks."
__ADS_1
Air mata Isabel terjatuh. Iya, mungkin inilah kebenaran saat ini. Dia telah jatuh cinta pada Vano, sehingga hatinya gelisah dan merasakan keanehan dengan cemburu pada Syanti.
Perasaan yang ada saat ini sangat berbeda dengan perasaannya pada Samuel.
Isabel hanya kagum dan terpesona oleh Samuel sejak kecil. Dan dia mengira itu cinta, hingga dirinya terobsesi dan berambisi untuk mendapatkan Samuel.
Tetapi dengan Vano, ini berbeda. Isabel merasa perih saat Vano tersenyum dengan wanita lain. Isabel menyadari jika dirinya telah jatuh hati pada Vano.
Vano menghapus air mata yang membasahi pipi Isabel.
"Maafkan aku. Aku berjanji, tidak akan menyakitimu lagi. Aku akan menjadikanmu satu-satunya dalam hatiku." Ucap Vano lalu membalas pelukan Isabel.
...
Berbeda dengan Isabel yang kini menangis bahagia di pelukan Vano, karena kini keduanya memutuskan untuk menjalin asmara. Isabel mencoba membuka hati seluas mungkin untuk Vano dan berusaha menghapus obsesinya pada Samuel.
Syanti yang duduk berjongkok di sebuah gang kecil, menangis entah mengutuki siapa.
Karena tidak mampu melawan efek alkohol semalam, dia harus kehilangan kesuciannya.
Gadis lugu dan ceria itu kini merasa hancur. Sesaat setelah dirinya pingsan semalam, dia tersadar dan menangis dengan malangnya karena mendapati empat pria secara bergantian telah menjajahi tubuhnya di lorong sempit gang itu, lalu meninggalkannya begitu saja bak sampah.
...
Sedang di kantor, Samuel kini mengobrol serius dengan Zahra perihal pekerjaan.
"Baiklah, aku akan membereskannya."
Zahra hendak keluar dari ruangan Samuel, namun Samuel tiba-tiba berkata.
"Apa kita bisa makan siang bersama? tidak, maksud aku berempat. Kita makan siang dengan Vano dan Isabel, bagaimana?"
__ADS_1
Samuel tentunya hanya ingin makan berdua dengan Zahra, tapi dia yakin Zahra tidak akan mau. Jadi dia sudah mengirim pesan pada Vano untuk mengatur makan siang berempat dengan Isabel, hari ini.