Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 65


__ADS_3

Zahra yang kini fokus menulis lanjutan Novelnya di laptop. Berpaling saat mendengar suara notifikasi pesan di handphonenya.


'"Pak Vano! Pesan media?"' gumam gadis itu.


Jari halus Zahra menekan ikon putar pada pesan media yang ia terima dari Vano. Dia buru-buru membukanya karena mengira itu mungkin berkas penting atau semacamnya yang harus segera ia kerjakan.


Tapi alangkah terkejutnya gadis itu. Saat yang tersuguh di depannya adalah penampilan berantakan Samuel.


Tidak sampai disana saja. Keterkejutan Zahra bertambah saat mendengar racauan demi racauan yang keluar dari bibir Samuel yang nampak tak berjiwa itu.


"Ya Allah!"


Zahra merasa perih saat melihat dan mendengar semua ucapan Samuel.


Bukankah pria itu pernah berkata akan mencoba menghapus rasanya dan belajar menerima takdir yang sepertinya hanya mengizinkan mereka berteman saja? Lalu, kenapa sekarang pria itu terlihat demikian? Tidak ada keinginan untuk hidup dimatanya. Hanya keputusasaan.

__ADS_1


Zahra kira, pria itu mulai bisa move on. Tapi...


Tanpa diminta, air mata gadis itu jatuh juga.


"Maafkan aku! Aku tidak bermaksud menyakitimu. Seandainya kamu tahu. Aku pun mengeluhkan hal yang sama. Tapi aku pun sadar. Mengeluh sama saja dengan menentang takdir yang DIA buat. Dan itu tidak dibenarkan."


Zahra mengusap wajah putus asa Samuel yang terpampang di layar ponselnya.


"Maafkan aku. Jika kesempatan yang kamu inginkan tak bisa aku beri. Aku takut, itu hanya akan menambah harapan kamu yang aku tidak bisa pastikan akan terwujud tidaknya. Tapi, aku tidak akan lagi menghindari mu. Aku akan terbuka dan mencoba memberimu pemahaman kalau kita mungkin memang tidak di takdirkan menjalin hubungan lebih dari yang saat ini."


Zahra menelpon Vano untuk memastikan keadaan Samuel saat ini.


Ragu, tapi Zahra memberanikan diri bertanya.


Vano yang baru saja menutupi tubuh Samuel dengan selimut, tidak langsung menjawab pertanyaan Zahra.

__ADS_1


Vano malah mengalihkan panggilan suara itu ke mode panggilan video. Lalu, mengarahkan kamera ke arah Samuel yang sudah terlelap di kamar apartemennya.


Untung, Vano tahu kata sandi apartemen Samuel. Jadi dia bisa membawanya kesana. Vano tidak berani membawa sepupunya itu pulang ke kediaman utama. Bisa-bisa dia yang di cecar oleh paman dan tantenya.


Melihat secara langsung Samuel telah tidur nyenyak. Membuat Zahra sedikit lega.


"Syukurlah! emmm maafkan aku. Secara tidak langsung, aku lah yang membuatnya begini." kata Zahra penuh sesal.


Seandainya bisa, dia ingin mengubah takdir. Tapi apa daya!


"Aku no komen Ra! Aku baru pertamakali melihatnya begini. Aku tidak bisa berkata apa pun. Makanya Aku mengirim rekaman untukmu. Agar kamu bisa mengatasi ini." Ucap Vano. Terlihat jelas, pria itu begitu simpati pada Samuel.


...


Malam ini, Zahra tidak bisa tidur dengan nyenyak. Doa tidur sudah ia baca berulang kali. Akan tetapi, matanya tetap tak bisa terpejam. Tidak! Tepatnya, gadis itu tidak mau memejamkan mata. Setiap ia menutup mata, yang ia lihat adalah wajah tak berjiwa Samuel.

__ADS_1


"Ya Allah! Beri hamba jalan terbaik. Bagaimana? Dengan cara apa hamba bisa mengatasi masalah ini? Engkau yang paling tahu. Bukan hanya dia yang menyimpan hati pada hamba. Tapi, hamba pun demikian. Tapi... apakah mungkin bagi kami jika menjalani hubungan yang demikian? Tidakkah akan ada kendala yang lebih besar nantinya? Tidak mungkin bagi hamba menariknya begitu saja pada-MU. Sedangkan dia tidaklah meyakini-MU. Tolong Ya Robb. Bantu hamba!"


Tinggi tangan gadis itu meminta pada Robb-NYA. Setelah menunaikan sholat malam.


__ADS_2