
"Makan dulu yah! Sebentar lagi dokter sampai."
Arsyad hendak menyuapi Zahra, kwetiau goreng buatannya. Namun, ia terkejut saat dengan lincah istrinya itu bangkit dari kasur dan bergegas ke toilet.
Tak lama suara isi perut yang dikeluarkan terdengar.
Arsyad dan orang tuanya saling lirik. Dua pria tampak cemas, namun berbeda dengan Aisyah yang mengulum senyum.
'Apa Zahra .. ?' batin Aisyah tak sabar menunggu dokter datang dan memberi kepastian.
Arsyad berlalu, menyusul Zahra ke kamar mandi. Dia begitu cemas saat istrinya terus memuntahkan isi perutnya. Bahkan tak ada lagi yang bisa keluar. Hanya air yang Zahra keluarkan. Bagaimana tidak, semua makanan sudah habis keluar.
Arsyad dengan penuh perhatian membantu Zahra membasuh wajah dan mulutnya.
"Sudah?" tanya Arsyad masih dengan raut cemas.
Zahra tak mampu bersuara. Dia hanya mengangguk. Tenaganya seakan terkuras habis.
Arsyad menuntun Zahra keluar kamar dan membaringkannya di tempat tidur.
__ADS_1
Tak lama, seorang dokter perempuan datang.
Hasan, memilih keluar dan menunggu di luar kamar.
Aisyah mempersilahkan dokter tersebut untuk memeriksa sang menantu. Sebelumnya Aisyah membisikkan sesuatu di telinga dokter tersebut. Entah apa! Namun, dokter tersebut tersenyum sembari mengangguk.
"Maaf, saya periksa dulu yah Nyonya!" ujar Dokter itu sopan.
Setelah memastikan kondisi kesehatan Zahra baik-baik saja. Dokter itu menjadi yakin dengan yang tadi Aisyah bisikkan.
"Saya tidak dapat memberi kepastian. Untuk melakukan tes cepat, juga kadang tidak begitu akurat jika bukan di pagi hari pada urine pertama. Mohon bersabar, saya akan memanggil teman saya yang merupakan obgyn. Dia bisa memberi kalian kepastian."
"Obgyn? bukankah? ... " sahut Arsyad bingung. Dojter di depannya adalah dojter yang cukup profesional selama melayani keluarganya. Kenapa harus memanggil dokter lain untuk istrinya? Obgyn? Setahu Arsyad itu dokter kandungan.
Detik berikutnya mata Arsyad membola. Dia menatap ibu dan dokter di depannya bergantian, yang mengangguk padanya.
"Kita akan mengetahuinya sebentar lagi," ucap sang dokter.
Jantung Arsyad berpacu cepat. Dia sungguh tak sabar untuk mengetahui kepastiannya.
__ADS_1
Selang beberapa menit, seorang dokter wanita lain pun datang. Dia seorang obgyn yang sejak tadi dinantikan semua orang.
Dokter itu memeriksa Zahra dan beberapa saat kemudian dia menatap semua orang yang terlihat penuh rasa berharap.
"Selamat! Istri anda mengandung. Untuk usia kandungannya sendiri bisa kita ketahui dengan pasti setelah melakukan USG. Datanglah ke rumah sakit!" ujar obgyn tersebut.
Semua Orang tersenyum bahagia. Terutama Arsyad.
Dia tanpa malu, langsung memeluk sang istri yang terlihat terkejut akan yang ia dengar barusan.
Tanpa bisa dicegah. Air mata bahagia Zahra mengalir membasahi pipi. Refleks ia menyentuh perutnya yang masih rata. Masih tidak menyangka, jika di dalam sana ada janin yang sedang tumbuh.
Aisyah pun begitu girangnya. Wanita paruh baya itu bergegas keluar kamar dan mengabari suaminya yang menunggu di luar.
Tak lama, Aisyah kembali bersama Hasan. Mata kedua paruh baya itu terlihat berkaca-kaca. Betapa bahagia dan bersyukurnya mereka saat tahu akan menjadi kakek nenek beberapa bulan lagi.
Saat dokter pulang. Arsyad baru tersadar, jika sang istri belum makan malam.
Dia kembali ingin menyuapi Zahra. Namun, Zahra refleks menutup hidung dan menggeleng.
__ADS_1