Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 117


__ADS_3

Zahra membuka kotak kecil di tangannya, guna menghargai pemberian sang suami. Namun, saat melihat isinya, wanita itu terperangah.


"Mas, i_ini ... "


Disaat bersamaan, Zahra terpesona dengan keindahan cincin di tangannya. Namun, ia juga merasa tak pantas menerimanya. Dari tampilannya saja, sudah terlihat jika harga cincin itu sangatlah tinggi.


Cincin berlian yang bermotif bunga mawar itu, sangat indah dipandang mata. Warna putih cincin tersebut yang dipadukan dengan motif mawar berwarna gold, sungguh elegan dan menambah pesona benda bulat kecil itu.


Arsyad tersenyum, kemudian menyematkan cincin itu di jari manis kiri Zahra. Sedang, jari manis kanan wanita itu, terlebih dahulu telah terlingkar indah sebuah berlian bermotif hati. Cincin pernikahannya!


"Terima kasih mas! Tapi, apa ini tidak berlebihan?" ucap Zahra masih merasa sungkan.


"Tidak sama sekali! Jangankan hanya sebuah berlian. Bahkan jika kamu meminta seluruh yang aku miliki, maka akan aku berikan tanpa berpikir dua kali," sahut Arsyad.


"Terima kasih!" hanya kata itu yang mampu wanita itu ucapkan. Dia sangat bersyukur dan bahagia karena Arsyad begitu mencintainya. Semoga, kelak ia bisa balas mencintai suaminya itu.


...

__ADS_1


Pukul empat dini hari, Arsyad dan Zahra telah tiba di kampung halaman.


Keduanya duduk sebentar, lalu membersihkan diri. Kemudian keduanya melakukan sholat subuh.


Pagi-pagi sekali, keduanya pergi ke rumah orang tua Arsyad.


"Assalamualaikum!" ucap keduanya serentak.


"Waalaikumsalam!" jawab Aisyah dan Hasan. Keduanya memang menunggu kedatangan anak dan menantu mereka. Saat selesai sholat subuh, Arsyad mengabari kepulangannya dan memberitahu akan datang berkunjung.


"Masyaa Allah! Masuk sayang!" Aisyah memeluk Zahra dan mengajaknya ke dalam rumah.


"Hehe, maaf sayang! Mama lupa kalau punya seorang putra saat melihat menantu cantik mama."


Seloroh Aisyah yang disetujui oleh Hasan. Zahra hanya tersenyum mendengarkan. Terlebih saat melihat wajah lucu suaminya yang kekanakan.


"Kalau tidak punya putra setampan Arsyad, lalu bagaimana mungkin kalian bisa punya seorang menantu secantik Zahra?" cetus Arsyad.

__ADS_1


"Hehe iya yah! Ok, sini putra mama. Jangan ngambek ah, malu sama istrinya."


Aisyah menghampiri Arsyad dan menggandeng tangan putra semata wayangnya itu.


Arsyad dan Zahra hanya sebentar disana. Keduanya juga akan ke rumah Hamdan dan Rosa, kemudian ke rumah Orang tua Melati. Barulah terakhir akan ke rumah sang kakak.


Sama dengan di rumah orang tua Arsyad. Kedatangan keduanya disambut hangat oleh Hamdan dan Rosa. Bahkan, Hamdan dan Rosa begitu terharu saat wanita yang ia anggap sebagai putri sendiri, memberikannya sebuah souvenir dari tempat berbulan madunya.


Bukan soal harga, tapi nilai ketulusan dan kasih sayang yang ada di dalamnya yang membuat dua paruh baya itu begitu bahagia.


"Lain kali, bermalam lah disini."


Rosa, seakan belum puas menuntaskan rindunya. Namun, dia pun sadar tak boleh menahan Zahra. Karena keluarga Zahra yang lain pun merindukan wanita itu.


"Insyaa Allah! Kalau perlu, besok sebelum berangkat ke kantor aku akan mengantar putri kalian ini kesini. Kalian akan ngobrol sepuasnya." sahut Arsyad.


"Benarkah?" tanya Rosa tak percaya.

__ADS_1


"Tentu!" sahut Arsyad yakin. Membuat dua paruh baya di depannya itu semakin bahagia. Kehadiran Zahra sungguh keberkahan bagi keduanya.Sekarang ada Arsyad, seorang yang juga menyayangi serta menghormatinya. Keduanya jadi teringat akan mendiang sang putra. Seandainya Samuel masih hidup. Mungkin saat ini, yang berdiri di depannya itu adalah sosok putra mereka. Namun,sesaat keduanya menepis bayangan itu. Putra mereka telah bahagia di surga sana. Dan Arsyad lelaki yang baik. Pantas bersanding dengan Zahra.


Sedang Zahra merasa semakin bersyukur. Suaminya itu sangatlah baik. Bahkan tidak membedakan orang tua Samuel dengan orang tuanya sendiri.


__ADS_2