Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 86


__ADS_3

"Terima kasih honey! I love you i love you i love you."


Vano mencium kening Isabel sambil mengucapkan kata cinta berulang kali.


Isabel tersenyum, "i love you too," balasnya sambil meletakkan kepalanya pada dada bidang Vano.


"Aku kepikiran sesuatu deh honey," ucap Isabel sesaat kemudian. Masih menjadikan dada sang suami sebagai bantalnya.


"Apa?" tanya Vano.


"Aku kira, malam ini wanita itu akan membuat ulah di pernikahan kita. Aku bahkan sudah bersiap dengan segala kemungkinan kerusuhan yang mungkin akan dia lakukan. Tapi, sampai acara selesai dia tidak muncul. Heran saja. Rasanya, tidak mungkin dia tidak tahu kalau ini adalah hari pernikahan kita. Kita juga melakukan resepsi secara terbuka. Tidak mungkinkan kalau dia tiba-tiba menyerah atau sadar?"


"Mungkin saja honey!" sahut Vano enteng.


"Tidak! Aku yakin, saat itu, dia keluar dari apartemen aku dengan beribu ide licik di kepalanya."

__ADS_1


"Hmm, mungkin dia sudah menemukan ayah bayinya yang sesungguhnya. Jadi, tidak mengejarku lagi."


Isabel tampak menimbang perkataan Vano.


"Dia masih bekerja di bar kan?" tanya Isabel.


"Tidak tau. Tapi, dia sudah semingguan tak masuk kerja."


"Aneh, kok bisa ngilang tiba-tiba tuh bibit pelakor??? Sudah ah, syukur deh kalau dia tidak muncul lagi di antara kita."


'Maaf honey! Aku telah membasmi bibit pelakor yang kamu maksud.'


...


Benar saja! Di sebuah jalan setapak, Syanti dengan perut yang mulai terlihat besar, berjalan tertatih.

__ADS_1


Penampilannya jauh dari kata baik. Dia di usir dari kosnya karena tidak mampu membayar biaya sewa.


Yap, Malam itu. Saat Vano mengetahui sifat asli Syanti. Vano segera melempar gadis itu dari barnya.


"Aku memungutmu di jalanan dan memberimu pekerjaan yang layak. Tapi, kamu malah menginginkan hal lebih. Parahnya, kamu melakukannya dengan cara murahan. Licik! Enyahlah dari hadapanku untuk selamanya."


Itu kalimat terakhir yang Vano ucapkan padanya. Lalu, melemparkannya ke pada dua bodyguard yang ada di sana.


Vano tidak mau tahu. Terserah mau di apakan wanita picik itu oleh bodyguardnya. Begitulah seorang Vano. Bisa jadi malaikat yang baik pada orang yang berlaku baik. Namun, bisa menjadi malaikat maut disaat bersamaan. Jika seseorang berlaku buruk padanya. Terlebih pada orang yang ia sayangi. Dan disini, Syanti salah besar dengan mengusik ketenangan Isabel serta berusaha menghancurkan hubungannya dengan sang kekasih yang kini telah menjadi istrinya.


Naas! Nasib Syanti sungguh hancur di tangan dua bodyguard bar Vano. Dia di siksa raga dan mental. Dilecehkan di depan sebuah kamera.


"Kita lihat! Apa setelah ini kamu masih berani mengatakan jika Tuan Vano adalah ayah dari bayimu itu?!" ucap salah satu bodyguard yang kini merekam detik-detik Syanti yang malang di lecehkan oleh rekannya.


Syanti hanya bisa pasrah. Melawan pun dia tak akan mampu. Untuk kedua kalinya, kehormatannya kembali direnggut paksa. Harus ia akui, jika kali ini karena kesalahannya sendiri yang berniat buruk pada hubungan Vano dan Isabel. Tapi, yang pertama? Apakah dia salah? Kenapa takdir begitu tega padanya? Dia hanya gadis sebatang kara yang mencoba mengadu nasib di kota. Tapi, siapa sangka hidupnya kini hancur sehancur hancurnya karena satu keteledorannya yang merasa gengsi jika diketahui tak bisa minum alkohol oleh sang pujaan hati. Hingga ia dengan nekat minum, dan berakhir tragis.

__ADS_1


__ADS_2