Islam Teman Sepiku

Islam Teman Sepiku
Bab 82


__ADS_3

Bukannya diam, Melati menangis semakin jadi.


"Jangan bohong. Kue itu sangat bau. Rasanya pun tidak kalah buruk, hiks."


Sungguh, Zidan dan Zahra tak tahu kenapa Melati berkata demikian. Hingga, Melati kembali mengejutkan mereka.


Melati buru-buru ke toilet. Dan tak lama, suara orang muntah kembali terdengar.


...


Zidan menatap istrinya yang terbaring lemah dengan ekspresi yang sulit di artikan. Haru bahagia. Namun juga cemas dan sedih di saat bersamaan.


"Terima kasih sayang. Terima kasih ... terima kasih ... terima kasih."


Zidan, dengan mata lembab. Terus menghujani Melati dengan ciuman.


Dia begitu bahagia atas apa yang Allah titipkan padanya di rahim istrinya kini.


Yah, karena Melati yang terus-terusan muntah. Zidan akhirnya menghubungi ibunya dan memintanya segera datang dengan mengatakan kondisi Melati.

__ADS_1


Dan setelah Laras memeriksa Melati. Laras malah membuat semua orang yang ada di sana termasuk Gibran dan semua keluarga Melati bingung, dengan menghubungi dokter lain.


Sampai dokter itu datang, dan mengatakan sesuatu yang sudah Laras duga.


'Selamat! Kalian akan mendapatkan keluarga baru. Usianya mungkin sekitar dua mingguan. Untuk memastikannya, silahkan bawa dia ke rumah sakit.'


Yap, Melati hamil!


...


Siang harinya, Zidan di dampingi sang adik, membawa Melati ke rumah sakit. Tentunya, mereka akan memeriksakan kandungan Melati.


Jantung Zidan berdetak melebihi ritme seharusnya. Saat janin dalam kantong rahim Melati ia lihat jelas di layar monitor.


Melati sendiri tak tahu harus berkata apa. Dia menatap layar monitor di sisinya dengan berlinang air mata bahagia.


...


Malam harinya, semua anggota keluarga kumpul bersama di rumah Zidan. Mereka mengadakan syukuran kecil-kecilan ala keluarga. Dan di sana juga ada Samuel beserta kedua orang tuanya.

__ADS_1


Saat semua orang begitu antusias membahas kehamilan Melati. Samuel malah terlihat melamun.


'Tak sabar rasanya untuk segera menikahi mu. Menghalalkan mu, dan membuat banyak anak yang lucu,' pikir Samuel, menerawang jauh.


Hoho! Rupanya ada yang ngayal gaes.


Setelah acara makan malam. Semuanya duduk bersama di ruang keluarga. Tiga keluarga itu, berbincang santai.


Tapi, tunggu! Sepertinya ada yang kurang. Yap, Melati! Di mana calon ibu itu?


Zahra bersama Zidan mencari Melati. No! Tepatnya menyusul. Tadi Melati pamit ke toilet. Tapi ini sudah lebih sepuluh menit dan dia belum kembali. Zidan dan Zahra takut terjadi sesuatu pada Melati. Jadilah mereka menyusul ke arah toilet dekat dapur, yang tadi ia lihat Melati tuju.


Namun, kedua kakak beradik itu kini dibuat cengo sekaligus takjub dengan pemandangan yang tersaji di depannya.


"Sayang?! Kamu ngapain?" tanya Zidan. Sebenarnya sih bukan bertanya kali yah. Tapi lebih ke ingin memastikan yang ia lihat.


Pasalnya, saat ini Melati sedang sibuk menyantap isi piringnya di ruang makan. Heran aja. Wanita itu, tadi sudah makan sampai nambah tiga kali. Dan baru setengah jam berlalu, kini dia makan kembali. Bukan melarang. Tapi luar biasa aja gitu. Porsi makan Melati normalnya nggak segitu biasanya.


Melati, menengok ke arah suaminya. Di mana adik iparnya pun ada di sana. Dengan kikuk ia berkata, "Aku kelaparan! Tadi masih mau nambah. Tapi, aku malu. Soalnya semua orang sudah pada selesai makan."

__ADS_1


Wah! Nambah tiga kali tapi masih lapar? Good!


__ADS_2