
Suara tangis bayi membuat semua orang yang sejak tadi menunggu dengan raut cemas mengucap hamdalah. Rosa dan Hamdan pun berucap syukur.
Arsyad meneteskan air mata bahagianya saat melihat perjuangan sang istri tercinta berhasil memberikannya seorang bayi laki-laki yang sangat tampan.
Arsyad mencium kening sang istri yang masih penuh peluh.
"Terima kasih sayang! Terima kasih, terima kasih, terima kasih!" ucap Arsyad penuh rasa syukur dan bahagia.
Zahra tersenyum lembut. Dia belum bisa bersuara rasanya. Tubuhnya sangat lemah dan lelah.
Setelah suster membersihkan tubuh mungil bayi Arsyad dan Zahra. Arsyad langsung menimang sang bayi kemudian melantunkan Adzan dan Ikoma di telinganya.
Adzan kali ini terasa berbeda. Jauh lebih Arsyad resapi. Bulir bening pria yang kini menyandang status Ayah itu, jatuh membasahi pipi.
...
Setelah Zahra dan bayi'nya di pindahkan ke ruang rawat. Semua anggota keluarga menerobos masuk untuk melihat anggota baru keluarga mereka. Tentunya, setelah memastikan kondisi sang ibu baik-baik saja.
Saat semuanya telah melihat sang bayi. Para lelaki keluar dari ruangan rawat Zahra, kecuali sang suami. Zahra diminta memberi ASI pertama pada sang bayi yang belum diberi nama itu.
...
Hanya satu hari. Sorenya, Zahra dan bayinya telah dibawa pulang ke rumah.
Seperti timbal balik. Jika dulu, Zahra yang menyiapkan penyambutan yang meriah buat putri kakak dan iparnya. Hari ini, Melati'lah yang membuat pesta kejutan buat anak Zahra.
Melati yang pulang lebih awal bersama Zidan, membuat pesta kejutan kecil untuk penyambutan sang ponakan. Bukan hanya kamar buat sang ponakan, tetapi juga kamar Arsyad dan Zahra telah dihias sedemikian rupa oleh Melati.
Melati memiliki akses ke setiap sudut ruangan di rumah sang ipar. Karena Arsyad sendiri yang memberinya semua kunci ruangan.
__ADS_1
...
Satu tahun kemudian!
Seorang balita laki-laki, berlari satu dua langkah di belakang seorang gadis kecil yang tertawa riang.
Rafa Danish Al-Farizi, putra Arsyad dan Zahra itu membuat semua orang terkekeh. Danish, terlihat berusaha keras menggapai Alifa yang terus menggodanya. Sesekali, Danish terjatuh di rerumputan lebat samping rumah. Namun, tak lantas membuat orang tua khawatir, karena rumput di halaman rumah Arsyad itu merupakan rumput yang tebal dan lembut. Jadi, tidak membuat Danish terluka, jika hanya terjatuh pelan.
"Ape'!" ucap balita tampan dan menggemaskan itu.
Zahra, menghampiri sang putra.
"Danish capek? ya udah kita udahan yah mainnya," ucap Zahra.
Danish mengangguk dan mengulurkan tangan. Minta digendong sang ibu.
"Sini, jagoan papa biar papa yang gendong!"
Alifa, pun menghampiri orang tuanya.
"Gendong!" ucapnya manja. Gadis berumur empat tahun lebih itu, tak kalah menggemaskannya saat masih berusia dua tahun.
Zidan berjongkok lalu menggendong Alifa.
"Aoch, berat sekali putri papa ini. Sudah umur berapa sih?" tanya Zidan sambil berjalan menyusul Arsyad.
Alifa menunjukkan empat jarinya, "Empat tahun!"
"Oh, pintarnya! Pantes berat, ternyata putri papa ini sudah besar."
__ADS_1
...
Tak lama, semua keluarga datang ke rumah Arsyad dan Zahra. Hamdan dan Rosa pun tak terkecuali.
Semuanya bersama-sama menyiapkan pesta ulang tahun Danish yang pertama untuk malam nanti. Rosa yang paling semangat dari yang lainnya. Bahkan wanita paruh baya itu seperti ingin menguasai semua pekerjaan yang ada.
'Ayah dan ibumu begitu menyayangi putra kami Sam! Lihatlah, betapa semangatnya mereka menyiapkan pesta ulang tahun Danish. Semoga kamu pun ikut bahagia seperti mereka. Aku masih merindu mu. Dalam doaku, masih kusebut namamu!' batin Zahra sambil mengulas senyum.
"Apa kamu melihatnya sayang? Orang tua Samuel begitu semangat untuk menyiapkan segalanya. Mereka begitu menyayangi putra kita. Seakan itu adalah cucunya sendiri." ucap Arsyad sambil memeluk Zahra dari belakang.
Zahra mengangguk, pandangannya fokus pada punggung Rosa di depan sana.
"Danish memang cucu mereka. Karena aku adalah putri mereka," ucap Zahra lalu berbalik menatap sang suami.
"Apakah kamu cemburu, jika sampai saat ini aku masih mengingat Samuel?" tanyanya.
Arsyad balas menatap netra indah sang istri.
cup
Satu kecupan singkat Arsyad daratkan di bibir Zahra.
"Mana mungkin aku bisa cemburu pada orang yang telah tenang di surga sana! Aku percaya, kamu mampu menempatkan Samuel di dalam sini tanpa mengurangi nilai hadirku," ucap Arsyad dengan senyuman hangatnya sambil menunjuk bagian hati Zahra.
"Aku mencintaimu mas!" ucap Zahra memeluk Arsyad.
"Aku ju_ ..."
"Ekhem, serasa dunia milik berdua yah! Yang lain mah ngekos!"
__ADS_1
Suara Melati membuat Arsyad dan Zahra tersadar. Sejak tadi mereka telah menjadi tontonan semua orang. Keduanya tersenyum menahan malu.
...Tamat!...