
Esok harinya Isabel sengaja datang lebih awal ke perusahaan untuk bisa melihat sekertaris baru Samuel yang kata karyawan disana sekertarisnya itu seorang wanita muslimah dan hanya seorang mahasiswi magang.
Sedang Zahra yang turun dari mobilnya di kerumuni oleh banyak sekali penggemar di depan perusahaan sampai dia sulit masuk.
"Zahra, minta foto dong."
"Minta tanda tangan dong."
Beberapa penggemar novel Zahra memaksa meminta tanda tangan dan ingin berfoto dengan Zahra disana.
Zahra kewalahan mengatasi mereka yang terlalu banyak.
"Maaf ukhti, saya disini sedang dalam masa magang, saya tidak mau mengganggu ketenangan perusahaan, jadi tolong jangan disini." Kata Zahra sambil mencoba menerobos kerumunan penggemarnya dengan sopan tapi tidak bisa karena para penggemarnya sangat antusias ingin mendapat tanda tangan dan foto Zahra.
Samuel yang baru datang melihat keadaan Zahra, meski tidak mengetahui jika Zahra seorang penulis novel yang sangat populer dia menerobos paksa kerumunan dan menarik Zahra dari sana.
Zahra yang tidak sempat melihat orang yang menyelamatkannya dari kerumunan itu mengikuti orang itu menariknya pergi dari sana.
"Samuel?" Zahra buru-buru melepaskan tangan Samuel yang masih menggenggamnya.
__ADS_1
"Maaf, aku hanya mencoba..."
"Terima kasih." Belum sempat Samuel menyelesaikan perkataannya, Zahra sudah mengucapkan terima kasih lalu pergi meninggalkannya.
Sedang Isabel yang melihat Zahra di tarik oleh Samuel merasa sangat marah.
"Jadi dia mahasiswi itu." Gumam Isabel lalu pergi ke ruang kerjanya yang berada di sebelah ruang kerja Vano.
...
"Waw sekertaris terbaik, pagi sekali." Vano yang tidak menyadari wajah Isabel sedang kusut menghampirinya.
"Muka kamu kenapa? kurang tidur? atau kurang enak badan?" Vano memegang kening Isabel untuk mengecek suhunya.
"Apaan sih, orang lagi kesal juga." Isabel berdiri dan berjalan mondar-mandir disana.
"Kamu kenapa? apa ada yang mengganggumu?" Tanya Vano bingung kenapa sepagi ini sahabat kecilnya itu telah kesal.
"Aku tidak menyukai mahasiswi itu." Isabel yang memang dari dulu selalu bersikap manja dan terbuka pada Vano mengatakan isi hatinya.
__ADS_1
"Aku tidak mau dia menjadi sekertaris Sam, aku cemburu." Mata Isabel basah saat mengatakan itu dan membuat Vano menjadi kasihan.
"Lalu kamu maunya apa sekarang? dia hanya magang selama tiga bulan kok, setelah itu dia akan pergi dari sini." Vano mencoba menenangkan Isabel.
"Huhuhu tapi aku tetap cemburu." Isabel menangis dan memeluk Vano, dia mengingat kejadian tadi pagi saat Samuel menarik tangan Zahra.
Vano merasa degdegan, bukan baru kali ini, tapi dari mereka masih kecil, Isabel selalu memeluknya saat menangis dan itu tidak membuat Vano terbiasa hingga bisa rileks namun membuat jantungnya semakin berdetak kencang.
...
Sedang Zahra yang di panggil masuk ke ruangan Samuel merasa tidak nyaman.
"Jika tidak ada yang penting aku permisi, pekerjaanku masih belum kelar." Kata Zahra ingin keluar dari sana karena dari tadi dia datang Samuel diam saja.
"Zahra, aku mencintaimu."
Perkataan Samuel membuat Zahra menjadi gugup, itu yang dia takutkan, dia takut Samuel kembali menyatakan perasaannya padanya. Zahra takut bukan pada Samuel, tapi dia takut pada dirinya sendiri. Entah kenapa sejak Samuel keluar dari kampus, dia merasa kehilangan sesuatu dan saat bertemu Samuel kembali kemarin dia merasa mendapatkan sesuatu yang hilang itu lagi. Zahra takut jika Samuel masih mengejarnya dia juga tidak lagi bisa mengendalikan perasaannya yang kini dia sadari jika mungkin saat ini dia juga telah jatuh cinta pada Samuel.
"Maaf aku masih ada kerjaan." Zahra tidak bisa mengatakan apapun saat ini selain menghindari Samuel, dia sadar jika perasaan diantara mereka itu salah, cinta beda agama tidak mungkin bisa menyatu.
__ADS_1