
Setengah jam kemudian Nino dan Tifanny segera masuk ke dalam bioskop untuk menonton film Friday 13th. Nino dan Tifanny terduduk di deretan kursi teratas.
"No, kenapa kau memilih kursi bagian pojok sih?" Tifanny menggurutu.
"Ya, biar kita menontonnya leluasa," jawab Nino.
"Padahal agar aku bisa menciummu," batin Nino.
Tak lama film segera di putar. Film di buka dengan adegan Jasson kecil yang melihat ibunya di bunuh dengan cara yang sadis.
"Fan, aku kaget!" Nino terlonjak kaget dari kursinya.
"Kau ini kenapa?" Tifanny terus menonton adegan demi adegan berikutnya.
Kemudian, adegan berikutnya menceritakan sejumlah 6 anak muda pergi ke Crystal Lake (tempat camping terkutuk) untuk melaksanakan camping.
"Fann, sudah tahu ya area camping itu terkutuk, mengapa mereka masih camping di sana?" Nino bertanya dengan wajah yang masam, merasa tidak mengerti dengan jalan pikiran 6 anak muda itu.
"Ya, namanya juga film," Tifanny memakan pop corn yang ada di tangannya tanpa menoleh ke arah Nino.
Kemudian adegan selanjutnya adalah tokoh Jasson si pembunuh tiba-tiba ke luar dari dalam danau dengan membawa parang dan menghampiri salah satu anak muda itu.
Nino langsung refleks memeluk Tifanny melihat adegan selanjutnya yang bercucuran darah.
"Kau ini apa-apaan?" Tifanny mendorong tubuh Nino yang sedang memeluknya.
"Aku mual melihat darahnya," Nino memejamkan matanya.
"Ya ampun, kau seorang pria, No!" Gerutu Tifanny. Ia sangat kesal karena acara nontonnya di ganggu.
"Fann, dari kecil aku ini mengidap hemophobia (phobia melihat darah yang sangat banyak)," Nino menatap wajah Tifanny.
"Benarkah?" Tifanny tampak kaget.
"Iya," Nino berpura pura berkata dengan lemas.
"Ya ampun, maafkan aku! Aku tidak tahu," Tifanny merasa bersalah, karena ia pun memiliki phobia terhadap lautan yang dalam dan gelap dan itu sangat tidak nyaman ketika berhadapan langsung dengan objek yang menjadi bahan phobia.
"Iya, Fann. Aku ngeri melihat darah yang sangat banyak," Nino merebahkan kepalanya di bahu Tifanny dan mengusap ngusapkan wajahnya pada bahu gadis itu, mirip seperti kucing ketika meminta makan.
"Tolong aku ya, Fann! Biarkan aku seperti ini sampai film selesai," Nino berpura pura murung.
"Ya sudah, kau boleh memelukku," Tifanny menghembuskan nafasnya pelan.
Nino pun tersenyum senang dan melingkarkan tangannya di perut Tifanny.
"Aku memang tidak suka melihat darah tapi tidak segitunya. Aku lebih lebihkan saja agar aku bisa menempel denganmu. Dengan begitu, kau akan terbawa perasaan dengan kedekatan kita," Nino tersenyum.
__ADS_1
Tifanny masih fokus dengan apa yang di tontonnya. Ia seperti tidak menyadari kehadiran Nino yang tengah memeluknya dengan erat. Adegan demi adegan terus Tifanny tonton tanpa menutup matanya.
"Gadis ini sangat pemberani," Nino melirik wajah Tifanny. Kemudian ia memajukan wajahnya menuju leher Tifanny.
"No, jangan ke leherku!" Tifanny tersadar dengan apa yang dilakukan Nino.
"Aku takut, Fann Huhu. Kalau di bahumu aku tetap bisa melihat layarnya," Nino berpura pura merengek.
"Ya sudah, jangan bergerak!" Tifanny mengizinkan karena ia mengerti mengalami phobia itu tidak mengenakan.
"Yess !" Batin Nino kembali.
Nino menghirup dalam dalam leher gadis yang ada di sampingnya.
"Wangi sekali. Shit! Mengapa jantungku yang berdebar ?" Nino bertanya pada dirinya sendiri, sementara Tifanny memfokuskan kembali matanya ke layar.
Tiba-tiba Tifanny menutup kedua matanya dengan tangan. Nino merasa heran karena tiba-tiba gadis itu menutup matanya. Nino pun mengarahkan matanya ke layar dan melihat adegan vulg*r di film itu.
"Kau ini polos sekali! itu sudah terbiasa di negara ini," Nino mencubit pipi Tifanny dengan gemas.
"Jangan melihat! Kita belum menikah," Tifanny menutup mata Nino dengan satu tangannya, sementara satu tangannya lagi masih menutup mata miliknya.
Nino pun tersenyum melihat tingkah Tifanny yang kekanakan tapi sangat menggemaskan baginya. Tifanny kembali membuka matanya saat adegan itu sudah selesai.
Kepala Nino pun bergerak menuju dada Tifanny. Ia merebahkan kepalanya tepat di dada gadis itu dan mengerak gerakan kepalanya.
"No, lihatlah! Ini adegan intinya!" Tifanny mengambil kepala Nino dan meluruskannya menghadap layar.
Nino melihat darah yang sangat banyak ketika adegan Jasson menusuk leher salah satu anak muda itu.
"Shit!" Nino langsung menutup matanya. Ia merasa langsung mual melihat darah sebanyak itu.
"Rasakan kau!" Tifanny tersenyum penuh kemenangan.
****
Sesudah film berakhir, Tifanny berjalan terlebih dahulu meninggalkan bioskop.
"Fan, tunggu!" Nino meraih tangan Tifanny, tetapi Tifanny langsung melepaskan tangannya.
"Ayo kita pulang!" Ajak Tifanny kepada Nino.
"Bagaimana jika kita ke time zone sebentar?" Ajak Nino.
"Emm, boleh. Aku sudah lama tidak bermain," Tifanny langsung mengiyakan. Mereka pun langsung berjalan ke arah time zone yang ada di lantai 1. Nino segera berjalan di samping Tifanny.
"No, setiap aku menonton sekuel atau prekuel film Friday 13Th, mengapa ya si Jasson nya selalu tidak membunuh wanita berambut pirang? Kita bisa melihat setiap akhir filmnya, pasti yang selalu selamat wanita berambut pirang," tanya Tifanny ketika mereka berjalan menuju lantai 1.
__ADS_1
"Kurasa karena Jasson tertarik dengan wanita berambut pirang. Jika aku tertarik kepada wanita yang memiliki rambut kemerahan," Nino mengelus rambut Tifanny.
"Siapa wanita yang berambut kemerahan? Clara?" Tifanny tampak berfikir.
"Ya tentu saja gadis yang ada di sampingku," Nino tersenyum simpul.
"Aku?" Tunjuk Tifanny kepada dirinya sendiri.
"Iya, itu kau."
"Gampang sekali kau menyukai seorang gadis. Kan kau baru putus dengan Clara?"
"Aku kan sudah memperhatikanmu dari dulu," Nino tersenyum memperhatikan Tifanny hingga ia tidak sadar menabrak tiang mall yang ada di depannya.
"Hati-hati!" Tifanny tertawa melihat Nino yang mengusap hidungnya.
"Aku tidak apa-apa. Fann, kau tidak ingin belanja? Aku yang akan bayar," tawar Nino saat mereka melewati toko baju, sepatu dan yang lainnya.
"Tidak, No. Aku sedang tidak membutuhkan sesuatu," Tifanny menolak.
"Benar? Aku yang akan benar benar membayarnya. Kau bisa mengambil apa yang kau inginkan," tawar Nino kembali.
"Tidak, kau sudah mentraktirku nonton aku sudah senang," ucap Tifanny sembari terus berjalan.
"Gadis ini berbeda dengan mantan-mantan kekasihku atau wanita yang dekat denganku. Setiap aku mengajak mereka ke mall, pasti mereka langsung belanja dengan kalap," Nino memperhatikan Tifanny dari samping.
Mereka pun sampai di time zone yang ada di lantai satu, Nino segera membeli koin untuk bermain.
"Aku ingin bermain itu!" Tunjuk Tifanny kepada permainan memasukan bola basket ke keranjang.
"Ya sudah, ayo!" Nino segera berjalan ke arah permainan itu di ikuti dengan Tifanny.
"Ini koinnya!" Nino menyodorkan koin yang ia beli.
Tifanny pun segera mengambil koin itu dan langsung memasukannya ke tempat koin yang ada di mesin permainan, tak lama ia segera memasukan bola bola basket dengan cepat. Senyum tak memudar dari wajah Tifanny selama ia memasukan bola bola itu ke keranjang.
"Mengapa dia sangat senang seperti itu?" Nino terus memperhatikan Tifanny.
Setelah bermain bola basket, Tifanny dan Nino tampak kebingungan karena koin di tangan mereka masih banyak.
"Ayo kita karaoke!" Tifanny menarik tangan Nino menuju ke tempat karaoke mini.
"Aku tidak mau!" Nino menolak.
"Itu tempat karaoke dengan memakai koin, jadi hanya ada kita berdua di dalam."
"Benarkah? Berdua? Hanya kau dan aku? Ayo aku mau!" Nino menyeringai jahat.
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...