Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Tidak Datang


__ADS_3

Musim gugur telah usai dan telah digantikan oleh musim dingin, tampak kota Birmingham dipenuhi oleh salju. Orang-orang pun mulai menyetok makanan dan juga pakaian hangat untuk musim dingin di tahun ini.


Jadwal sidang Tifanny bertepatan dengan musim dingin tahun ini. Euforia sesudah sidang dialihkan ke aula fakultas. Semua mahasiswa berhak merayakan kelulusan mereka di aula fakultasnya masing-masing.


Tifanny lulus sidang skripsi dengan nilai yang memuaskan. Selain mendapatkan pujian dari dosen penguji, ia pun tidak perlu merevisi skripsinya terlalu banyak. Tifanny berjalan ke arah aula fakultas, ia melihat begitu banyak teman-teman sejurusan maupun se fakultasnya sedang merayakan kelulusan mereka.


"Padahal Nino berjanji akan datang," Tifanny merasa sedih karena tidak menemukan suaminya di antara orang-orang yang tengah berbahagia itu.


Tifanny mengeluarkan ponselnya dan menelfon Nino, tetapi panggilannya terus dialihkan.


"Kau ke mana?" Tifanny menatap ponselnya dengan sedih.


Tak lama sebuah pesan masuk ke ponselnya, pesan itu dari ayahnya. David tidak bisa hadir karena ada operasi di hari ini. Begitu pun dengan Meghan, adiknya tidak bisa hadir karena sedang ada ujian di kampusnya.


"Lebih baik aku pulang saja," Tifanny memasukan ponselnya ke dalam tas dan meninggalkan aula fakultas.


Saat Tifanny tiba di lantai 1, ia melihat orang-orang tengah merayakan kelulusannya juga di depan gedung fakultas. Mereka sengaja berfoto di tengah-tengah salju. Tifanny pun menatap orang-orang yang tengah berselfie bersama dengan keluarga dan kerabatnya.


"Andai Nino ada di sini," Tifanny menghembuskan nafasnya pelan. Ia pun menyenderkan tubuhnya di tembok gedung fakultas untuk menonton orang-orang yang tengah berselfie.


Tanpa sepengetahuan darinya, ada seseorang yang memperhatikannya dari tadi. Ia adalah Kaivan.


"Kasihan sekali dia, tampaknya Nino tidak datang. Padahal ini pasti hari penting untuknya," Kai memperhatikan Tifanny dengan iba.


"Aku coba telfon saja dia," Kai mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi sahabatnya. Akan tetapi, panggilannya dialihkan.


Kai pun ke luar dari area kampus dan berjalan ke arah pedagang yang menjual boneka. Kai membeli sebuah boneka yang memakai toga, tak lama ia pun menghampiri istri dari sahabatnya itu.


"Ini untukmu. Aku mewakili sahabatku," Kai menyerahkan boneka teddy bear yang lumayan besar lengkap dengan baju dan topi toga.


"Kai?" Tifanny menoleh.


"Ini untukmu!" Kai mengulangi perkataannya dengan datar.


"Terima kasih, Kai," Tifanny menerima boneka itu dan tersenyum senang. Bagaimana tidak senang, dari tadi ia hanya memandangi orang-orang yang diberikan hadiah oleh kerabatnya.


"Sedang apa kau di sini?" Tanya Tifanny kepada pria yang sedang memakai mantel cokelat itu.


"Aku hendak mengambil surat keterangan mengajar istriku. Dulu dia mengajar di sini. Aku tidak tahu sedang ada sidang skripsi," jawab Kai sembari memperhatikan orang-orang yang masih berfoto di hamparan salju.


"Oh begitu. Aku pikir istrimu bukan seorang pengajar," Tifanny mengangguk-nganggukan kepalanya.


"Itu dulu sekarang Alula ibu rumah tangga. Oh iya, Nino pasti datang. Tunggulah dia! Aku pergi dulu ke arah fakultas MIPA," Kai langsung berjalan meninggalkan Tifanny.


Tifanny pun memutuskan untuk pulang dengan naik taksi seperti biasanya. Ia mengambil mantel dari dalam tas dan memakainya. Tifanny berjalan meninggalkan area kampus dan menunggu taksi yang lewat.

__ADS_1


Setelah beberapa menit menunggu, taksi tak kunjung datang. Tifanny pun menggosok-gosokan tangannya menahan dinginnya cuaca. Saat ia masih menunggu taksi, sebuah mobil berwarna hitam pun berhenti tepat di hadapannya.


"Hei, Fann!" Sapa Justin yang ke luar dari dalam mobil miliknya.


"Hei, Justin!" Tifanny memaksakan senyumnya.


"Kau mau pulang? Aku antarkan," Justin berbicara semanis mungkin.


"Terima kasih untuk tawarannya, tapi lebih baik aku naik taksi saja," Tifanny menolak sehalus mungkin.


"Ayolah, Fann! Aku hanya ingin mengantarmu pulang!" Justin mencengkram tangan Tifanny kasar.


"Justin, tolong singkirkan tanganmu!" Tifanny berkata dengan risau.


"Kenapa? Bukankah kita berteman?" Justin menyeringai jahat.


"Iya, maka dari itu bertindaklah sebagai teman pada umumnya!" Tifanny berusaha melepaskan cekalan tangan Justin.


"Aku bilang aku akan mengantarmu. Bila perlu aku akan mengantarmu ke tempat yang terbaik. Ayo!" Justin menarik tangan Tifanny dengan kasar.


"Justin lepaskan! Tolong!" Tifanny meronta dan berteriak.


"Masuk!" Justin terus memaksa Tifanny untuk masuk ke dalam mobilnya. Tifanny terus meronta, tetapi tenaganya kalah jauh dari temannya yang pernah ia kenal sangat baik itu.


"Tifanny?" Pria itu siapa?" Kai terlihat panik. Mobilnya baru saja ke luar dari gerbang kampus.


Kai memutuskan untuk mengikuti mobil Justin dan menelfon sahabatnya.


Sementara itu di sebuah restroan, Nino terus berusaha untuk pergi dari sana. Tetapi ayahnya terus saja memaksa agar Nino tidak pergi terlebih dahulu. Hari ini ada acara makan-makan untuk perayaan kerja sama yang baru saja di dapatkan oleh Arley bersama direksi dan seluruh staff kantor.


"Dad, Nino harus pergi!" Nino tampak resah dan frustasi sejak dari tadi. Ia memikirkan bagaimana kecewa istrinya saat ia tidak datang.


"Jangan seperti itu! Kau ingin membuat malu Daddy? Sebentar lagi saja," Arley berbisik dengan penuh penekanan.


Nino terus resah di tempat duduknya. Ia terus mengetuk-ngetukan sepatunya di atas lantai. Saat ia memikirkan Tifanny, ponsel Nino berdering.


"Iya, Kai?" Nino menjawab telfon dari sahabatnya.


"Apa? Aku segera ke sana!" Dengan wajah khawatir, Nino langsung berdiri dan hendak pergi dari sana.


"Mau ke mana? Tunggulah sampai acara ini selesai!" Arley mencegah putranya untuk pergi.


"Daddy jangan menahanku! Istriku sedang tidak baik-baik saja," Nino menaikan suaranya dan langsung berlari menuju parkiran restoran.


"Tifanny? Dia kenapa?" Arley pun tampak khawatir.

__ADS_1


*****


Alden sedang menatap perapian dengan tatapan sedih. Ia begitu tidak menyangka kedua orang tuanya sengaja mengirimnya ke negara Norwegia hanya demi alasan agar pernikahan Aiden dan Cassie berjalan dengan lancar. Alden dan Bianca memang langsung diberangkatkan oleh Hannah dan Steve setelah percakapan mereka beberapa waktu yang lalu.


Alden dan Bianca saat ini tinggal di rumah mendiang nenek Alden di desa nelayan yang ada di Norwegia. Rumah peninggalan nenek Alden ditempati oleh adik Steve yang berprofesi sebagai nelayan. Akan tetapi saat mereka datang, rumah itu tampak sudah ditinggalkan. Tetangga sekitar mengatakan jika paman Alden pindah ke ibu kota karena anaknya sudah wisuda dan mendapatkan pekerjaan yang cukup prestisius di kota Oslo. Alden dan Bianca pun memperoleh kunci rumah itu dari tetangganya. Mereka mendapatkan kunci rumah setelah berhasil menelfon paman Alden itu.


"Alden?" Bianca duduk di belakang Alden dengan iba. Bagaimana tidak iba? Saat Hannah dan Steve menyuruh mereka untuk pergi, Alden langsung murung dan tidak bersemangat.


"Kau sedih karena kakakmu akan menikah dengan Cassie?" Bianca mengelus bahu Alden lembut.


"Tidak. Aku tidak sedih tentang itu. Aku hampir sudah merelakan Cassie menikah dengan kakak. Aku hanya sedih, karena di dalam keluarga sendiri pun aku dianggap sebagai pengacau," Alden berbalik ke arah Bianca dan tersenyum lirih.


"Kau bukan pengacau," Bianca menatap Alden dengan iba.


"Buktinya mereka menjauhkanku sampai ke Eropa Utara. Kau tahu? Aku tidak pernah menyembunyikan cincin pernikahan kak Aiden dan Cassie," Alden menatap wajah Bianca dengan tatapan sedih. Untuk pertama kalinya, Bianca menatap wajah yang biasa menyebalkan itu menjadi sendu.


"Saat itu aku melihat semua orang tampak panik mencari cincin itu. Lalu, aku memutuskan untuk mencarinya dan aku menemukannya tepat di atas meja yang ada di kamarku. Aku ingat saat kak Aiden datang ke kamarku dengan membawa cincin itu. Mungkin dia lupa untuk mengambilnya lagi. Saat aku ke luar dari dalam kamar dengan membawa cincin itu, mama malah menuduhku jika aku mengambil cincinnya dan berusaha untuk menghilangkannya," Alden memaparkan kejadian sebenarnya kepada Bianca.


"Mengapa kau tidak mengatakannya?"


"Aku sudah mengatakannya, tetapi tidak ada yang percaya padaku. Ya, aku memang anak tak berguna. Kak Aiden yang selalu dibanggakan oleh mama dan papa," ucap Alden dengan wajah yang memerah menahan kesedihan.


"Sejak kecil aku memang selalu kalah dari kak Aiden. Perhatian kedua orang tuaku selalu untuk kak Aiden. Bahkan saat mereka tahu aku pun mencintai Cassie, mereka mati-matian menyuruhku untuk melupakan Cassie, karena kak Aiden pun menaruh hati padanya," lanjutnya.


"Dibalik sikap orang tuamu yang seperti itu, mereka juga sangat sayang kepadamu. Buktinya mereka membayarku untuk merubah sifatmu sedikit demi sedikit. Itu semua karena apa? Karena mereka menyayangimu. Orang tuamu tidak ingin kau hancur perlahan dengan sikapmu yang buruk," Bianca mengusap bahu Alden lagi.


"Tidak. Buktinya mereka lebih mendukung kak Aiden untuk bersama Cassie," Alden mengelak.


"Tentu saja mereka mendukung kak Aiden bersama nona Cassie, karena yang disukai oleh nona Cassie adalah kak Aiden. Maka dari itu, mereka mendukungnya. Jangan lihat orang tuamu dari sisi negatif saja! Selama ini segala fasilitas yang kau dapat adalah karena kasih sayang dari kedua orang tuamu. Mungkin mereka mengunggulkan kak Aiden karena mereka jarang bertemu dengan putra sulungnya. Selama ini kak Aiden tinggal di Amerika kan? Karena kantor utamanya pindah ke Inggris, jadi kak Aiden baru kembali. Bukan begitu? Jadi, orang tuamu lebih memanjakan kak Aiden karena mereka jarang bertemu dengannya. Sifat kak Aiden pun baik dan penurut jadi kedua orang tuamu sangat menyayanginya. Coba rubah sikapmu menjadi lebih penurut!" Bianca menasehati dengan hati-hati.


"Aku tidak tahu, Ca. Tetapi bercerita kepadamu membuat bebanku sedikit berkurang. Boleh aku memelukmu?" Alden menatap Bianca dengan penuh harap.


"Kemarilah!" Bianca memeluk Alden dengan erat.


"Tidak perlu ada yang dikhawatirkan! Ada aku di sini. Kau bisa bebas bercerita kepadaku. Jangan merasa kedua orang tuamu mengasingkanmu! Anggap saja ini adalah liburan antara majikan dan asistennya!" Bianca berbisik dan terus memeluk Alden.


"Iya. Aku akan menganggapnya liburan. Terima kasih, Ca," Alden balas mendekap Bianca.


"Mengapa sangat nyaman sekali dipeluk olehnya?" Alden memejamkan matanya.


Hallo readers yang masih setia menunggu cerita novel ini, author ingin meminta maaf karena kemarin tidak update. Bukan merasa malas atau tidak mood untuk melanjutkan cerita, akan tetapi author disibukan dengan kegiatan real life. Author sangat kaget ketika membaca sebuah status teman yang menyebutkan bahwa pendaftaran S2 di salah satu kampus negeri di Bandung sudah dibuka.


Author auto panik karena author berencana melanjutkan S2 di tahun ini. Ditambah TOEFL author yang sudah habis masa berlakunya. Sedangkan untuk daftar S2 tahun ini masih mengsyaratkan TOEFL sebagai syarat masuk disamping dengan tes. Maka dari itu, author meminta kemaklumannya ya. Author harus mempersiapkan diri untuk tes di tahun ini, author masih belum tahu tesnya apakah daring atau offline. Dan yang pasti kebingungan saat ini adalah mencari lembaga untuk TOEFL itu.


Author baca ada yang komen katanya jangan pindah lapak. Author tidak pindah ke mana mana ya, masih di Bandung eh maksudnya di NT. Author memulai cerita ini di NT berarti author pun harus mengakhirinya di sini. Itu prinsip author dan yang terakhir author sangat mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pembaca yang masih setia dengan novel ini. Tanpa ada kalian, author tidak akan bisa sejauh ini menulis novel. Pokonya terima kasih ya, jaga kesehatan kalian selalu! 😊

__ADS_1


__ADS_2