Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Mood Tifanny


__ADS_3

"Aku kesiangan," Nino terbangun dari sofa yang ada di ruang tengah. Semalam Tifanny benar-benar mengusirnya dari dalam kamar.


Nino berlari menuju kamarnya, ia mandi dengan asal dan bersiap-siap dengan terburu-buru.


"Tifanny ke mana?" Nino mencari keberadaan istrinya yang sedari tadi tidak ia lihat di dalam kamarnya.


"Mungkin sedang berjalan-jalan," gumam Nino lagi. Nino mengambil tas kerjanya dan keluar dari dalam rumah dengan tergesa.


"Aku sudah menunggumu dari tadi," Tifanny berdiri di pinggir mobil suaminya dengan kedua tangan yang di lipat di dadanya.


"Sayang, kau mau ke mana? Mengapa sudah rapi?" Mata Nino memperhatikan penampilan Tifanny yang sudah ekstra rapi.


"Hari ini aku akan ikut ke kantormu. Tidak apa-apa kan?"


"Ke kantorku?" Nino tampak terkejut.


"Iya. Kau keberatan?" Tifanny memelototkan matanya.


"Ti-tidak, sayang. Ayo masuklah!" Nino membukakan pintu mobil untuk istrinya.


"Aku sudah membuatkanmu sarapan," Tifanny mengeluarkan roti berisi slai cokelat Nut*ela dari kotak makanan.


"Sayang, itu cokelatnya kebanyakan. Aku kurang suka," Nino menolak secara halus.


"Padahal aku sudah membuatkannya untukmu tapi kau tidak mau memakannya," mata Tifanny berkaca-kaca.


"Baiklah, sayang. Aku makan. Tolong suapi aku! Aku sedang menyetir," Nino akhirnya mengiyakan.


"Nah begitu dong," Tifanny tersenyum senang. Ia pun menyuapi Nino dengan roti isi yang dibuatnya.


"Enak," Nino tersenyum dan menoleh sekilas kepada istrinya.


Mobil Nino pun sampai di area kantor milik keluarganya.


"Ayo sayang!" Nino turun dan membukakan pintu untuk Tifanny.


Semua karyawan yang berlalu lalang tampak menatap Nino dan Tifanny dengan tatapan bertanya-tanya.


"Itu istri tuan Nino," bisik karyawan yang sedang berlalu lalang di lobby kantor.


"Ruanganmu di mana?" Tanya Tifanny saat mereka akan masuk ke dalam lift.


"Di lantai 14," Nino menuntun tangan istrinya.


Mereka pun sampai di lantai 14 tepatnya di ruangan milik Nino. Ruangan Nino berada tepat di samping ruangan ayahnya.


"Daddy mana?" Tifanny mengintip dari pintu saat melewati ruangan mertuanya.


"Daddy sedang ke Wales," Nino membukakan pintu.

__ADS_1


Tifanny pun masuk ke dalam ruangan pribadi suaminya. Ia menatap semua barang yang ada di dalam ruangan itu dengan tatapan kagum. Kagum karena ruangan suaminya begitu bersih, wangi dan terawat. Tifanny tersenyum saat melihat foto pernikahannya dengan Nino terpajang di atas meja kerja.


"Mengapa kau memajangnya?" Tifanny bertanya dengan sumringah.


"Karena hari pernikahan kita adalah salah satu hari terbaik dalam hidupku," Nino mendekat ke arah Tifanny dan mencium rambut istrinya.


"Terima kasih. Maafkan aku untuk semalam," Tifanny menatap Nino dengan perasaan bersalah.


"Tidak apa. Kau sudah makan? Sudah minum susu dan vitaminnya?" Tanya Nino dengan lembut dan penuh perhatian.


"Sudah," Tifanny mengangguk cepat.


"Syukurlah. Duduklah di sini!" Nino menuntut Tifanny untuk duduk di sofa yang ada di depan meja kerjanya.


"Ini bantal dan selimut. Kau bisa tidur jika bosan."


"Iya. Aku ingin menonton kartun kesukaanku dulu di ponsel," Tifanny mengambil bantal dan selimut yang disodorkan suaminya. Ia pun langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa. Nino hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.


Jam terus berputar. Nino cukup sibuk hari ini karena harus berkutat dengan dokumen-dokumen yang sangat penting. Setiap Arley pergi ke luar kota atau luar negeri, pekerjaan Nino memang menjadi double dan lebih berat.


Nino menoleh ke arah Tifanny yang sedang tertawa menonton kartun kesukaannya. Seketika lelahnya sirna ketika melihat istrinya tertawa.


Saat Nino memeriksa dokumen-dokumen penting. Seseorang tampak mengetuk pintu.


"Masuk!" Seru Nino kepada seseorang yang sedang berdiri di depan pintu.


"Tuan, ada dokumen yang harus anda tanda tangani segera!" Kata wanita itu dengan suara yang mendayu-dayu. Ia berdiri tepat di samping Nino yang tengah terduduk.


"Baiklah. Aku periksa dulu," jawab Nino tanpa menatap wanita yang berdiri di sampingnya. Ia membaca semua tulisan tanpa terlewat satu pun.


Tifanny pun melirik. Ia bangun dari posisi tidurannya dan menatap wanita itu dengan tatapan tidak ramah. Wanita itu menatap Tifanny balik. Ia pun tersenyum kepada Tifanny.


"Nona, tolong berdiri 5 langkah dari suamiku!" Tifanny menjauhkan wanita itu dari sisi Nino.


"Sayang, dia kan hanya mengantarkan dokumen!" Nino berkata kepada istrinya.


Tifanny tidak menjawab ucapan Nino. Ia sibuk menilik penampilan wanita itu.


"Nona, besok anda pakai rok yang lebih panjang ya?" Pinta Tifanny dengan suara yang tegas.


"Kenapa, Nona?" Wanita itu bertanya dengan bingung.


"Ya jika penampilanmu terlalu terbuka seperti ini, itu kurang baik. Besok ganti rokmu menjadi selutut minimal ya?" Pinta Tifanny lagi.


"Baik Nona," jawab wanita itu dengan pasrah.


"Ini sudah ku tanda tangani. Kau bisa kembali ke ruanganmu!" Nino menyerahkan dokumen yang sudah ia tanda tangani.


"Saya permisi keluar tuan, Nona!" Wanita itu tersenyum canggung. Ia pun segera berlalu dari hadapan Nino dan Tifanny.

__ADS_1


"Sayang, mengapa kau menyuruhnya mengganti rok?" Nino menatap istrinya.


"Oh begitu. Jadi kau suka dia memakai rok kurang bahan seperti itu?" Tifanny berkacak pinggang di hadapan Nino.


"Sayang, bukan begitu-"


"Sudahlah. Kau memang biawak ya?" Tifanny menatap tajam kepada suaminya.


"Aku suamimu bukan biawak, sayang," Nino berusaha mencairkan suasana.


"Sudahlah. Besok aku akan memakai rok mini dan pergi berjalan-jalan ke luar rumah," Tifanny berbaring lagi di atas sofa.


"Sayang, jangan begitu!" Nino menghampiri Tifanny untuk membujuk.


"Jangan mendekatiku! Kau memang tega!" Tifanny tiba-tiba terisak.


"Ya ampun! Mengapa Tifanny jadi emosian seperti ini? Harusnya anak Kai yang emosian begini," keluh Nino di dalam hatinya.


****


Hannah dan Steve sudah menemui Bobby ke kota Cambridge. Mereka sudah melamar Bianca secara langsung kepada Bobby dan juga keluarganya. Bobby sangat gembira karena sahabatnya saat SMA kini akan menjadi besannya. Pernikahan Alden dan Bianca akan diadakan 4 bulan lagi. Bianca pun tak lupa mengabari Tifanny dan keluarganya atas berita lamaran itu.


"Ma, kenapa empat bulan lagi? Kenapa tidak seminggu lagi saja?" Alden merengek tatkala Hannah dan Steve baru pulang dari rumah Bobby di Cambridge.


"Kau pikir pernikahan itu semudah kau mengeluarkan upil dari hidungmu?" Hannah membentak putra bungsunya.


"Empat bulan terlalu lama, Ma," Alden uring-uringan kepada ibunya.


"Sabar, Den! 4 bulan lagi kau akan serumah dengan Bianca," Steve menenangkan putranya itu.


"Sudah syukur 4 bulan lagi, tadinya kami merencanakan menikahkan kalian satu tahun lagi," timpal Hannah.


"Tapi, Ma-"


"Diamlah! Atau mama akan benar-benar mengundurkan pernikahanmu menjadi tahun depan!" Ancam Hannah.


"Baiklah Ma," Alden pun mengalah. Ia mencoba bersabar dengan waktu empat bulan lagi yang ia rasa terasa sangat lama.


"Oh iya, Alden kami sudah mengurus wedding organizer dan semua vendor-vendor yang terlibat. Dua hari lagi kau harus menjalani sesi foto prewedding," beri tahu Steve kepada Alden.


"Benarkah, Pa? Alden bebas memilih temanya kan?" Alden bertanya dengan riang.


"Iya. Terserah padamu," Steve tersenyum menatap wajah putranya yang kali ini terlihat sangat bahagia.


"Baiklah," dengan gembira Alden berlari menaiki tangga untuk mencapai kamarnya. Alden segera menelfon Nino dan Kai sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.


"Nino, Kai? Tolong kalian persiapkan pesta lajang untukku!" Seru Alden saat mereka melakukan panggilan video grup.


Hallo semua! Mohon maaf author hanya mengupdate semampunya ya karena author sedang kurang enak badan. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, komen atau hadiah ya? Terima kasih karena masih membersamai novel ini. 🤗

__ADS_1


__ADS_2