Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
The Hobbiton


__ADS_3

"Nino, aku ingin ke The Hobbiton!" Tifanny merengek kepada Nino sesudah menonton film.


"Kau ingin sekali ke sana?"


"Iya, aku ingin melihat langsung rumah Hobbit," jawab Tifanny dengan cepat.


"Baiklah, kita pergi ke 501 Buckland Road, Matamata," Nino menyetujui.


"Berapa jam perjalanannya?" Tanya Tifanny dengan semangat.


"14 jam dari kota Christchurch."


"Hah? 14 jam?" Tifanny terbelalak.


"Iya, 14 jam. Ayo jangan buang-buang waktu!" Nino menggenggam tangan Tifanny menuju mobil.


"Nino, terima kasih!" Tifanny tersenyum.


"Iya, sama sama. Ayo!" Ajak Nino lagi.


Mereka pun segera melakukan perjalanan ke rumah hobbit yang ada di Matamata.


"Nino, kau lelah?" Tifanny menatap Nino yang tengah menyetir.


"Untukmu aku tidak lelah."


"Kau ini gombal sekali," Tifanny mengusap pipi Nino.


"Menyenderlah kepadaku lagi jika kau lelah!" Nino mengambil tangan Tifanny dan mencium buku-buku jarinya.


"Baiklah," Tifanny pun menyenderkan kepalanya di bahu Nino yang tengah menyetir.


"Aku putarkan lagu ya supaya kau tidak bosan!" Nino menyetel tape yang ada di dalam mobil dan menghubungkannya dengan ponsel.


Terdengar lagu At My Worst terputar dari tape mobil.


"Aku ingat saat kau.menyanyikan lagu ini untukku," Tifanny tertawa saat ia mengenang masa kuliah.


"Iya, tapi akhirnya aku patah hati," Nino berpura-pura sedih.


"Siapa suruh kau menjadikan aku barang taruhan?" Tifanny tertawa lagi saat mengenang masa lalu mereka.


"Kau sudah tidak marah?"


"Tidak. Semua telah berlalu."


"Tapi aku serius, ini lagu untukmu!" Kata Nino dengan bersungguh-sungguh.


"Baiklah, terima kasih."


"Kau tidak mempunyai lagu untukku?" Tanya Nino dengan kecewa.


"Emm," Tifanny tampak berfikir.


"Jadi, tidak ada?" Nino merasa kecewa.


"Ada. Lagu Justin Bieber Feat Dan +Say berjudul 10.000 Hours," jawab Tifanny cepat.


Nino pun dengan cepat memutar lagu yang di sebutkan oleh Tifanny. Hatinya langsung berbunga-bunga ketika mendengar lirik lagu itu.


"Jadi, sepuluh ribu jam atau sisa hidupmu kau akan mencintaiku?" Tanya Nino dengan senang.

__ADS_1


"Emm, bagaimana ya?"


"Katanya tadi lagu ini untukku?" Nino bertanya dengan tidak sabar.


"Iya, iya. Lagu ini untukmu."


"Jadi, benar kau sudah jatuh cinta padaku?" Tanya Nino lagi.


"Jika itu biarkan waktu yang menjawabnya," timpal Tifanny.


Nino pun merasa senang karena sudah ada kemajuan di dalam hubungan mereka.


14 jam kemudian mereka tiba di 501 Buckland Road, Matamata. Nino dan Tifanny langsung membooking hotel yang ada di sekitar The Hobbiton karena waktu sudah menunjukan malam hari.


"Ayo kita makan!" Ajak Nino saat mereka sudah berada di kamar hotel.


"Aku tidak lapar. Kan kita sudah makan saat beristirahat tadi."


"Baiklah kalau begitu. Kau lelah?" Nino memijit kaki Tifanny yang sudah membaringkan tubuhnya.


"Tidak. Kan aku tidak menyetir. Kau pasti lelah. Mau aku pijat?" Tawar Tifanny kepada Nino.


"Kepalaku sedikit migrain, bisakah kau memijatnya?" Nino menyentuh kepalanya.


"Bisa. Kemarilah!" Tifanny terduduk. Nino langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Tifanny. Dengan lembut, Tifanny langsung memijat kepala Nino.


"Pijatanmu enak sekali," Nino bergumam saat Tifanny memijat kepalanya.


"Sekarang giliran aku yang memijatmu ya?" Nino langsung terbangun. Tifanny langsung melihat gelagat yang mencurigakan saat melihat wajah Nino.


"Tidak, aku tidak mau," Tifanny langsung mengambil selimut dan membungkus tubuhnya.


"Ayo kita ulangi lagi kejadian malam kemarin!" Nino menarik selimut itu.


Nino memicingkan matanya saat mendengar seseorang membangunkannya secara terus menerus.


"Ayo katanya kau akan membawaku ke The Hobbiton!" Tifanny menggoyangkan tubuh Nino yang masih terbungkus selimut.


"Sebentar lagi. Aku masih lelah," Nino menjawab dengan suara yang serak.


"Aku inginnya sekarang. Ayo!" Tifanny terus merengek.


"Baiklah," Nino bangun dan langsung berdiri hingga otomatis selimut yang menyelimuti tubuhnya terjatuh.


Tifanny langsung memalingkan wajahnya saat melihat tubuh polos Nino. Wajahnya bersemu merah.


"Mengapa kau malu-malu seperti itu? Bukannya semalam kau sudah melihat?" Nino begitu menikmati rona malu wajah istrinya.


"Ih, kau ini! Cepatlah masuk ke kamar mandi!" Tifanny masih memalingkan wajahnya.


Nino pun mengambil handuk dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Setelah bersiap-siap mereka langsung berangkat ke The Hobbiton yang merupakan tempat wisata legendaris di New Zealand untuk penggemar film trilogi The Lord Of The Rings.


"Ini rumah Bilbo, Frodo, dan lain-lain kan?" Tifanny menunjuk rumah kecil yang ada di atas bukit.


Seorang pemandu wisata tampak menemani tour wisata Nino dan Tifanny hari ini di area wisata The Hobbiton. Pemandu wisata menjelaskan mengenai scene-scene film yang dilakukan di The Hobbiton. Tifanny terus terpana melihat tempat syuting film kesukaannya.


"Jika kau masuk ke dalam film, kau ingin menjadi siapa?" Nino bertanya di sela-sela tour mereka.


"Aku ingin menjadi tokoh Frodo agar aku bisa menyeimbangkan kedamaian dunia," jawab Tifanny dengan cepat.


"Kalau begitu, aku akan menjadi tokoh Samwise untuk menemani dan melindungimu selama di dalam perjalanan dalam rangka mengantarkan cincin ke Gunung Doom di Mordor untuk dihancurkan," Nino menoleh kepada Tifanny.

__ADS_1


"Tapi Samwise mempunyai pasangannya sendiri yaitu tokoh Rosie Cotton."


"Kalau begitu aku Samwise dan kau istrinya. Bagaimana?"


"Tidak. Aku ingin tetap jadi tokoh Frodo Beggin," Tifanny menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, aku jadi pasangan Frodo Beggin saja," Nino tidak mau kalah.


Sementara itu pemandu tour yang mendengar percakapan mereka hanya menggelengkan kepala mendengar keributan seperti anak kecil itu.


"Nino, ini sangat indah! Hanya saja terlalu ramai," Tifanny mengusap keringatnya saat mereka beristirahat di depan rumah Hobbit.


"Ini memang tempat wisata teramai. Jika kau ingin yang sepi, harus pergi ke Cathedral Cove yang merupakan tempat syuting Narnia," Nino mengeluarkan botol air mineral dan memberikannya kepada Tifanny.


"Jadi, film Narnia syuting di New Zealand juga?"


"Iya. Cathedral Cove adalah pantai yang sangat indah. Tempatnya di Auckland. Kau ingin ke sana?"


"Iya, aku mau."


"Baiklah, ayo kita ke sana."


Nino dan Tifanny mengakhiri tournya hari itu dan langsung pergi menuju Cathedral Cove yang ada di kota Auckland. Sebelumnya Tifanny dan Nino pulang ke hotel untuk checkout. Setelah checkout mereka langsung pergi ke kota Auckland yang lumayan dekat dari Matamata.


"Waw indah sekali!" Tifanny berdecak kagum melihat hamparan pasir yang luas ketika sampai di Cathedral Cove yang berada di bagian selatan Mercury Bay, Semenanjung Coromandel.


"Mengapa tempat ini dinamakan Cathedral Cove?" Tifanny merasa heran melihat pantai tapi dinamakan Cathedral Cove.


"Karena gua di pantai ini melengkung seperti Katedral," Nino memperhatikan setiap sudut pantai yang cukup tenang dan sepi.


"Oh iya, ini adalah tempat syuting film Narnia: Prince Caspian," lanjut Nino.


"Iya. Aku tahu. Aku ingat scene filmnya," Tifanny langsung menarik Nino untuk masuk ke dalam air.


"Fann, bajuku basah!" Protes Nino saat semua bajunya basah.


"Kalau tidak ke pantai tidak asik jika tidak bermain air," Tifanny mencipratkan air pantai ke arah Nino.


Nino pun berlari dan membalas Tifanny. Untuk beberapa saat mereka tampak bahagia dan berlari larian mengejar ombak.


"Fann?" Nino menoleh ke arah Tifanny yang terduduk di sampingnya. Mereka tengah duduk di sisi pantai.


"Hmmm?"


"Jika kau bisa masuk ke dalam cerita Narnia. Kau ingin menjadi tokoh siapa?"


"Edmund," jawab Tifanny singkat.


"Hey, mengapa harus dia? Kan dia biang masalah. Gara-gara dia, saudara-saudaranya harus mendapatkan masalah," Nino tampak tidak setuju.


"Iya. Tapi dia sangat keren di Film Narnia dua dan tiga."


"Mengapa tidak jadi Susan saja agar aku bisa menjadi Pangeran Caspian?"


"Bukankah tokoh Susan dan Pangeran Caspian tidak akan bersama? Pada akhrinya mereka terpisah di dunianya masing-masing," Tifanny langsung menoleh ke arah Nino.


"Bukankah kita juga akan berpisah dan hidup di dunia kita masing-masing? Berarti pada akhirnya nasib kita seperti Susan dan Pangeran Caspian," Tifanny menatap Nino dengan sendu.


"Mengapa kau selalu berkata perpisahan? Kemarilah!" Nino menarik Tifanny ke dalam pelukannya.


"Berpikirlah seolah-olah kita akan terus bersama!" Bisik Nino saat ia mendekap istrinya.

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2