Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Usaha Nino Lagi


__ADS_3

Nino mengikuti kegiatan Tifanny hari ini. Ia ingin berbicara sekali lagi kepada Tifanny. Nino ingin memberikan Tifanny kesempatan satu kali lagi, sebelum ia memakai cara paksa agar Tifanny mau menikah dengannya.


Saat Tifanny keluar dari tempat kerjanya untuk istirahat, Nino menghadang jalan gadis itu.


"Kau lagi!" Tifanny berdecak pelan ketika melihat Nino yang ada di hadapannya.


"Jadi, apa kau sudah berubah pikiran?" Tanya Nino dengan ekspresi wajah yang dingin.


"Sampai kapan pun jawabanku adalah tidak. Mengapa kau tidak mencari wanita lain saja? Mengapa harus aku?" Tifanny menatap kesal pria yang berdiri di hadapannya.


"Simple saja, aku menginginkanmu karena kau gadis baik-baik," batin Nino di dalam hatinya.


"Aku hanya menginginkanmu," ucap Nino.


"Aku tidak mau. Jangan pernah memaksaku lagi! Minggirlah kau menghalangi jalanku!" Tifanny sedikit mendorong tubuh Nino dan melewati pria itu.


"Baiklah, Fann. Kau sudah memilih. Jangan salahkan aku jika aku berbuat hal yang tidak kau sukai!" Nino menatap Tifanny yang berjalan menjauh darinya.


Nino segera masuk ke dalam restoran, tempat Tifanny bekerja.


"Aku ingin bertemu dengan manager di sini!" Pinta Nino kepada salah satu karyawan yang masih ada di sana.


****


Setelah selesai dengan makan siangnya, Tifanny segera masuk kembali ke dalam restoran pizza untuk bekerja. Ia segera mengambil beberapa dus pizza yang akan di antarkan hari ini.


"Fann, kamu di cari pak manager tuh!" Ucap salah seorang temannya.


"Ada apa ya?" Tifanny tampak cemas.


"Aku tidak tahu," ucap temannya.


Tifanny segera berjalan ke ruangan manager. Ia masuk dengan cemas karena takut sudah melakukan kesalahan.


"Duduk!" Pinta manager itu dengan wajah tak ramah.


"Ada apa ya, pak?"


"Tadi ada pelanggan tetap pizza kita mengadu. Dia mengeluh mengenai pelayanan restoran pizza kita. Dia bilang kau selalu menghindar untuk mengantarkan pizza ke rumahnya. Padahal orang itu ingin kau yang mengantar pizzanya. Aku sudah bertanya kepada teman-temanmu, dan mereka bilang, jika memang kau selalu menyuruh teman-temanmu untuk mengantarkan pizza itu ke rumah tuan Nino. Kau ini bagaimana? Mengapa kau sangat tidak profesional?" Cerocos manager itu tanpa jeda.


"Maaf, Pak! Saya hanya tidak nyaman bertemu dengan orang itu," Tifanny menundukan wajahnya.


"Ini!" Manager itu memberikan dua buah surat kepada Tifanny.


"Apa ini, pak?"


"Itu surat peringatan pertama dan kedua untukmu! Jika kau tidak profesional lagi dalam bekerja, aku akan memberhentikanmu sebagai karyawan di sini," bentaknya.


"Baik, pak. Saya mengerti," Tifanny mengambil surat peringatan itu.


"Sekarang kau boleh keluar!"


"Saya permisi, pak!" Tifanny ke luar dari ruangan managernya dengan langkah kaki yang gontai.


"Fann, maaf ya! Tadi pak manager mengumpulkan kita dan mendesak siapa yang menggantikanmu mengantar pizza ke rumah pria itu. Kami terpaksa mengatakannya," teman Tifanny merasa tidak enak.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Lagi pula ini salahku!" Tifanny tersenyum menutupi kekhawatirannya. Ia takut Nino melakukan hal yang tidak-tidak padanya. Tifanny takut kehilangan pekerjaannya, karena mencari kerja cukup sulit, belum lagi ia harus bersaing dengan sesama pencari kerja lainnya.


Sebelum pulang bekerja, Tifanny harus mengantarkan pizza pesanan Nino atau orang yang sudah membuat keluhan kepada managernya tadi.


"No, mengapa kau membuatku susah?" Tifanny berjalan ke arah rumah Nino.


"Ini pesananmu!" Tifanny memberikan pizza milik Nino dengan wajah yang ditekuk.


"Sayang, wajahmu kenapa? Masuklah dan beristirahat sebentar! Kau pasti lelah," Nino menarik tangan Tifanny untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Jangan kurang ajar!" Tifanny menarik tangannya.


"Bagaimana? Kau suka dengan caraku? Itu baru permulaan," Nino menyeringai jahat.


"Jangan melakukan hal yang tidak-tidak!" Tifanny memperingatkan. Ia segera pergi dari rumah Nino dan mengemudikan motornya.


*****


Malam hari...


"Kakak!" Meghan berteriak saat ia masuk ke dalam rumah.


"Kau sudah pulang, sayang?" Tifanny memeluk adik kesayangannya.


"Sudah, kak. Maaf ya kak, aku hari ini jarang di rumah. Kakak kan tahu, masuk ke jurusan kedokteran sangat susah. Aku harus berjuang dengan sangat keras. Apalagi kata guru BK ku, jurusan kedokteran menjadi jurusan terfavorit tahun ini. Sudah pasti, peminatnya sangat banyak kak," Meghan terduduk di kursi meja makan.


"Tidak apa, sayang. Lagi pula ada kak Bianca yang akan menemani kakak," Tifanny ikut terduduk di samping Meghan.


"Oh iya kak, tadi kak Nino datang menemuiku. Dia memberikan aku ini," Meghan mengeluarkan 5 batang cokelat dari dalam tasnya.


"Kak Nino baik ya kak?" Meghan membuka bungkus cokelat itu dan memakannya.


"Kakak, kenapa?" Meghan melambaikan tangannya di depan wajah Tifanny.


"Sayang, jika kak Nino menemuimu, kau tidak usah menemuinya ya?" Pinta Tifanny dengan hati-hati.


"Memangnya kenapa kak? Kak Nino orang yang baik. Meghan tidak menyangka kita bertemu lagi dengan dia di kota ini," Meghan memakan cokelat yang ada di tangannya.


"Kak Nino berjanji setiap hari akan memberikanku cokelat ini. Kakak tahu kan? Jika aku sangat suka cokelat ini. Semenjak kita berpisah dari papa, Meghan sudah tidak pernah memakan cokelat berkualitas premium ini lagi," kata Meghan sambil terus memakan cokelat yang ada di tangannya.


"Sayang, pelan-pelan makannya! Nanti kau tersedak!" Tifanny berdiri dan mengambilkan minum untuk Meghan.


"Maafkan kakak yang tidak bisa membelikanmu cokelat mahal itu!" Tifanny menatap wajah Meghan dengan sedih. Meghan pun langsung menyimpan cokelatnya dan berdiri dari duduknya.


"Kak, maafkan Meghan ya? Meghan tidak bermaksud menyinggung kakak," Meghan memeluk Tifanny dengan perasaan bersalah.


"Tidak. Kau tidak menyinggung kakak. Maafkan kakak yang belum bisa memenuhi segala kebutuhanmu."


"Tidak kak. Meghan merasa sudah sangat terpenuhi. Lagi pula seharusnya bukan kakak yang membiayai Meghan, tapi papa. Meghan benci papa!" Meghan tiba-tiba terisak di pelukan Tifanny.


"Jangan seperti itu sayang! Bagaimana pun papa adalah orang tua kandung kita. Jangan pernah membencinya!" Tifanny mengelus punggung adiknya.


"Tidak, Meghan benci papa. Dia pantas di benci, kak. Meghan tidak mau bertemu dengan dia lagi. Gara gara papa kita kehilangan mama dan gara gara papa hidup kita susah," Meghan semakin tersedu.


"Aku datang!" Teriak seseorang yang langsung masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Bi? Kau sudah pulang? Bagaimana? Kau diterima bekerja?" Tanya Tifanny kepada Bianca.


"Aku diterima bekerja, walau aku tadi bertemu dengan pria menyebalkan," raut wajah Bianca terlihat sangat kesal.


"Meghan kau kenapa?" Bianca mencolek punggung Meghan yang masih memeluk Tifanny.


"Meghan hanya sedang sedikit sedih!" Jawab Tifanny karena Meghan hanya diam saja.


"Meghan jangan sedih! Nanti kakak bawakan laki-laki tampan untukmu!" Celoteh Bianca yang membuat Meghan langsung mengangkat wajahnya.


"Bagaimana kakak mau membawakan aku laki-laki? Kakak saja dari dulu tidak punya pacar!" Cetus Meghan yang membuat Tifanny langsung tertawa.


"Kau ini anak kecil yang menyebalkan!" Bianca mencubit pipi Meghan dengan gemas.


****


Keesokan harinya....


Saat akan mengantarkan pizza pesanan Nino, perut Tifanny mendadak sangat sakit. Tifanny berjongkok untuk menahan sakit.


"Fann, kau kenapa?" Tanya salah seorang temannya yang melihat Tifanny meringis kesakitan.


"Perutku sakit!"


"Tamu bulanan?"


"Iya. PMS sepertinya," Tifanny masih memegang perutnya.


"Wajahmu sangat pucat, Fann. Biar aku saja yang mengantarkan pizza itu."


"Biar aku saja. Aku tidak akan mengatakannya kepada pak manager," Teman Tifanny langsung mengambil pizza yang tak lain adalah pesanan Nino.


"Tidak. Nanti aku diadukan lagi," Tifanny menolak.


"Aku akan menjelaskan keadaanmu kepada pelanggan kita yang ini. Pasti dia mengerti."


"Baiklah, tolong ya?" Tifanny masih berjongkok dan menahan sakit.


"Iya, Fann. Beristirahatlah dulu!"


Teman Tifanny mengambil pizza pesanan Nino dan langsung mengantarkannya.


"Tuan, Tifanny sedang sakit. Jadi dia tidak bisa mengantarkan pizza pesanan anda!" Ucap teman Tifanny yang mengantarkan pizza pesanan Nino.


"Sakit? Sakit apa?" Nino bertanya dengan raut wajah yang khawatir.


"Itu urusan wanita, tuan. Saya mohon jangan adukan dia ke manager lagi ya? Saya kasihan, dia harus membiayai adiknya!" Pinta teman Tifanny kepada Nino.


"Baiklah. Terima kasih sudah mengantarkan pizza ini," Nino menerima pizza itu.


"Kalau begitu, saya pamit tuan!"


"Iya," Nino mengangguk.


Setelah teman Tifanny berlalu, Nino segera mengambil ponselnya dan menelfon manager tempat Tifanny bekerja.

__ADS_1


"Maafkan aku, Fann! Aku harus melakukan ini agar kau mau menikah denganku. Menikahlah denganku! Aku akan memperlakukanmu dengan baik!" ucap Nino sebelum ia menelfon manager restoran.


Hallo Readers, maaf author baru update. Laptop milik otor nya error lagi. Baru normal subuh tadi. Jangan lupa like, komen dan vote ya readers, agar otor makin semangat melanjutkan novelnya 😘😘


__ADS_2