
Pagi-pagi, Bianca dan Bobby langsung pulang ke rumah milik Tifanny dan juga Meghan. Bianca memang harus bekerja sedangkan Bobby tidak ingin mengganggu acara pengantin baru hari ini. Bobby dan Bianca berpamitan terlebih dahulu sebelum meninggalkan hotel. Sikap Bobby kepada David masih sedikit dingin.
Setelah sampai di rumah Tifanny, Bianca langsung bersiap untuk bekerja, sedangkan Bobby akan pulang esok hari ke kota Cambridge.
"Hey, gadis udik!" Alden menunjuk kepada Bianca yang tengah mengepel lantai apartemen. Akan tetapi, Bianca tidak menjawab sapaan yang begitu memuakan baginya itu.
"Hey, kau yang di sana yang sedang mengepel!" Alden berteriak.
"Apa?" Bianca balas berteriak.
"Tolong bersihkan lantai di depan kamar apartemenku!" Suruh Alden dengan tatapan dingin.
"Kau menyuruhku?" Bianca menyipitkan matanya.
"Bukan menyuruh. Bukankah itu pekerjaanmu?"
"Kau tidak sedang mengerjaiku kan?" Bianca merasa curiga.
"Tentu saja tidak. Lantai di depan kamar apartemenku benar-benar kotor," Alden masih meninggikan suaranya.
Bianca pun mengalah, ia langsung berjalan ke arah kamar apartemen Alden. Alden pun mengekorinya di belakang.
"Kau sengaja melakukan ini?" Bianca melihat ceceran es krim di lantai.
"Tidak, sepertinya anak kecil yang ada di kamar sebelah yang menumpahkan es krim di lantai ini."
Bianca pun tidak menjawab ucapan Alden, ia segera membersihkan ceceran es krim itu dengan telaten.
"Baby?" Teriak Fiona yang tiba-tiba datang kembali ke apartemen Alden. Fiona langsung memeluk Alden dengan agresif.
Bianca bergidik melihat pemandangan di depannya.
"Ada apa kau ke mari lagi, Fi?" Alden melepaskan pelukan Fiona.
"Baby, mengapa kau melepaskan pelukanku? Kau malu karena ada gadis ini?" Fiona menunjuk Bianca dengan jarinya.
"Untuk apa malu terhadap gadis seperti dia?" Alden menatap Bianca dengan dingin.
__ADS_1
"Baby, kau tidak merindukan tubuhku? Biasanya kau sangat bersemangat jika bertemu denganku. Sudah lama kita tidak bermain," Fiona bergelayut manja di bahu Alden.
"Ternyata kau seorang pria yang liar ya?" Bianca memandang jijik pria yang ada di hadapannya
"Apa urusannya denganmu? Aku yakin, kau pun wanita bebas. Iya kan? Tidak usah munafik! Kita hidup di bumi bagian Barat, bukan tinggal di Timur, bukan juga di Selatan atau di Utara," Alden menyipitkan matanya.
"Kau tidak mengenalku, kau tidak pantas berspekulasi kepada orang lain jika kau tidak mengenalnya," jawab Bianca dengan geram.
"Halah, sok suci! Aku yakin, wanita sepertimu tidak jauh berbeda dengan kehidupanku. Terlebih sepertinya kau seorang wanita yang membutuhkan banyak uang, pasti kau sering menemani para sugar daddy untuk mendapatkan uang tambahan. Iya kan?" Alden tersenyum sinis sambil menatap wajah Bianca.
"Jaga mulutmu itu! Seenaknya saja kau menilai seseorang yang bahkan kau pun tidak tahu nama orang itu," Bianca menunjuk wajah Alden dengan jarinya.
"Namamu Bianca kan?" Alden menatap name tag yang ada di seragam kerja Bianca.
"Baby, aku tahu wanita susah seperti dia. Dia pasti akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan uang," Fiona tersenyum meledek.
"Coba saja baby kau pinta dia untuk menemanimu. Pasti dia mau jika kau memberikan uang," tambah Fiona dengan senyum yang merendahkan.
"Tutup mulutmu wanita murahan!" Teriak Bianca kepada Fiona.
"Katakan sekali lagi kata-kata yang kau ucapkan barusan!" Fiona mendatangi Bianca dan menjambak rambutnya.
"Lepaskan!" Bianca melepaskan tangan Fiona dari rambutnya dengan kasar.
"Fi, sudahlah jangan membuat kegaduhan di sini!" Alden menarik tangan Fiona.
"Urus wanita murahan mu ini!" Bianca menatap tajam kepada Alden dan berlalu dari sana.
"Kurang ajar wanita itu! Aku akan membuat perhitungan padanya!" Alden menatap Bianca dengan penuh kebencian.
"Baby, ayo kita masuk ke dalam apartemenmu! Aku merindukanmu," Fiona mengusap perut Alden.
"Fi, pulanglah! Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi," Alden segera masuk ke dalam apartemennya.
"Sial*n!" Umpat Fiona saat Alden lagi-lagi mengabaikan keberadaannya.
****
__ADS_1
Sore hari Alden di telfon oleh ibunya. Ibunya menyuruh Alden untuk menjemput kakaknya yang bernama Aiden di bandara. Aiden baru saja tiba di Inggris. Selama beberapa tahun ini, kakak Alden memang berdiam diri di Amerika Serikat.
Alden melajukan mobilnya menuju Bandar Udara International kota Birmingham. Saat ia melewati halte bus, Alden melihat Bianca sedang memeluk seorang pria paru baya dengan mesra. Alden menepikan mobilnya untuk melihat adegan selanjutnya, terlihat Bianca menggerak-gerakan tangannya seperti seseorang yang meminta uang. Tak lama, pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang pounds dari dalam dompetnya.
"Haha, wanita menjijikan! Ternyata dia benar-benar wanita murahan. Aku benci wanita sok suci seperti dia. Emm, sebentar, aku seperti pernah melihat om-om itu. Tapi di mana? Sudahlah, tidak penting," Alden kembali memajukan mobilnya meninggalkan halte bus itu.
Kejadian sebenarnya...
"Papa yakin akan pulang hari ini? Tidak besok?" Bianca bergelayut manja di tangan ayahnya, Bobby. Sepulang kerja, Bianca memang langsung mengantarkan ayahnya ke halte bus. Bobby akan naik bus untuk sampai di kota Cambridge.
"Bi, papa harus bekerja di pabrik. Papa hanya diberikan cuti satu hari," Bobby mengusap rambut putri tercintanya.
"Bianca masih kangen papa. Nanti datang lagi ya?" Bianca memeluk ayahnya dengan manja.
"Iya, sayang," Bobby mengelus punggung Bianca.
"Pa, ini uang simpanan Bianca. Papa bawa untuk keperluan adik-adik sekolah," Bianca memberikan uang simpanannya kepada Bobby.
"Bagaimana denganmu, Bi?"
"Bianca kan masih ada simpanan. Cukup sampai hari gajian nanti," Bianca menenangkan.
"Baiklah, sayang. Jangan terlalu berhemat ya? Makanlah makanan yang bergizi!" Bobby menerima uang itu dan memasukannya ke dalam dompet.
"Bianca masih rindu," Bianca memeluk tubuh Bobby lagi.
"Kau memang gadis papa yang manja!" Bobby tersenyum dan membalas pelukan putrinya.
"Tapi pa, bolehkah Bianca meminta uang untuk ongkos ke rumah?" Bianca menggerak-gerakan tangannya.
"Ya ampun, Bi! Kata papa jangan lupa untuk selalu menyisakan uang di dompetmu!" Bobby mengambil dompetnya lagi dan memberikan beberapa lembar pounds kepada Bianca.
"Ambil lagi saja semua ya uangmu?" Bobby merasa khawatir anaknya akan kehabisan uang.
"Tidak, Pa. Untuk naik bus saja! Bianca lupa tidak membawa uang tambahan," Bianca mengambil uang di tangan ayahnya dengan gembira.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...
__ADS_1