
4 hari kemudian...
Tifanny sedang di cerca oleh dosen dosen yang menguji sidang proposalnya hari ini. Tampak Tifanny memakai jas almamater dan sedang berdiri di depan aula fakultas.
Sidang proposal dilakukan secara terbuka, artinya setiap mahasiswa boleh menonton sidang itu.
Nino, Kai, Alden, Arabella dan Clara tampak menonton Tifanny yang tengah di cecar pertanyaan oleh dosen-dosen penguji.
"Aku berharap dia gagal," Arabella menyikut tangan Clara yang ada di sampingnya.
"Aku juga sangat berharap dia gagal dan disuruh kembali untuk mencari judul lagi dari awal," Clara tersenyum sinis.
Tetapi di luar dugaan mereka, Tifanny bisa menjawab semua pertanyaan dosen penguji dengan lancar. Dosen penguji pun tampak puas dengan jawaban dari Tifanny. Rupanya gadis itu memang mempersiapkan semuanya dengan baik.
"Dia benar-benar hebat!" Nino tersenyum menatap Tifanny.
"Lihatlah, Kai!" Alden menyikut tangan Kai.
Mereka pun mengarahkan tatapannya kepada Nino yang sedari tadi tersenyum menatap Tifanny.
Sesudah Tifanny sidang, giliran Nino yang maju ke depan. Ia pun bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan penguji dengan baik. Sementara Kai dan Alden kebagian jadwal sidang esok hari.
Mahasiswa mahasiswa yang sudah sidang ujian proposal segera ke luar dari aula setelah mereka di nyatakan lulus dan secara resmi bisa memulai skripsinya. Mereka yang lulus merayakan kelulusan di lapang kampus.
Semua orang tampak menyalami Nino, dan banyak sekali mahasiswi-mahasiswi yang memberikan Nino balon, bunga dan juga selempang yang terbuat dari cemilan-cemilan.
"Fann, selamat ya?" Justin memberikan buket yang berisi makanan untuk Tifanny.
"Terima kasih Justin," Tifanny menerima buket makanan itu. Justin sendiri sudah melaksanakan sidang ujian proposalnya kemarin.
"Fann, selamat ya?" Elora berlari ke arah Tifanny dengan membawa selempang. Kemudian ia memakaikan selempang bertuliskan "Siap untuk menikah" di tubuh Tifanny.
"El, ini baru sidang proposal belum sidang skripsi," Tifanny tertawa melihat tulisan di selempang itu.
__ADS_1
"Pokoknya semakin dekat menuju hari pernikahan," Elora tertawa.
Tifanny, Justin dan Elora pun segera berpose untuk koleksi foto di feed akun media sosial mereka.
"Ehem!" Nino mendekat ke arah Tifanny.
Mereka yang tengah berselfie pun segera menghentikan aktifitasnya dan memandang Nino.
"Fann, selamat ya?" Nino menyodorkan tangannya.
"Terima kasih. Selamat juga untukmu ya?" Tifanny balas menyalami Nino.
"Ini untukmu!" Nino memberikan buket mawar yang besar kepada Tifanny.
"Terima kasih, Nino," Tifanny merasa senang melihat bunga pemberian dari Nino. Tak lupa Nino memberikan sebuah buket yang berisi pecahan dollar.
"Buketnya lain dari yang lain," Tifanny tertawa melihat buket yang berisikan puluhan lembar uang dollar.
"Ya kan biar anti mainstream," jawab Nino dengan asal.
"Benar sudah siap nikah? Baiklah, sesudah wisuda aku akan melamarmu," goda Nino yang membuat pipi Tifanny langsung bersemu merah. Sementara Justin dan Elora hanya memandang Nino dengan tidak suka. Mereka takut Nino mempermainkan Tifanny.
"Lihatlah, Cla!" Arabella meraih tangan Clara dan menunjuk ke arah Tifanny dan Nino yang tengah tersenyum satu sama lain.
"Kurasa sebentar lagi akan ada yang jadian," Arabella memanasi Clara.
"Diamlah!" Bentak Clara. Ia mengepalkan tangannya dengan geram. Tak lama ia segera mendatangi Tifanny dan Nino.
"Nino, aku ingin bicara denganmu!" Clara menarik tangan Nino.
"Aku tidak mau."
"Kita perlu bicara," Clara memaksa.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku pergi ya No?" Tifanny berpamitan kepada Nino, kemudian ia segera berjalan menjauh di ikuti dengan Justin dan Elora.
"Katakan padaku jika ini hanya sebuah gurauan!" Clara tersenyum sinis.
"Maksudmu?" Nino tampak tidak mengerti.
"Kau hanya punya misi lain kan mendekati Tifanny? Ayolah, aku lebih cantik dari dia! Tak mungkin kau meninggalkanku untuk mengejar gadis seperti dia," Clara menatap tajam ke arah mantan kekasihnya.
"Sayangnya aku memang menginginkan dia," jawab Nino dengan senyum sinisnya.
"Dengar ya, No! Aku tidak akan pernah membiarkan kau bersama dengan gadis seperti dia!"
"Jika aku yang menginginkannya, kau bisa apa?"
"Lihat saja nanti! Aku akan memastikan kau memohon kembali lagi kepadaku," ucap Clara. Kemudian ia segera pergi dari hadapan Nino.
****
Beberapa bulan kemudian...
Hubungan Nino dan Tifanny sudah semakin dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Tak lupa sesekali, Tifanny mengajak Meghan dan berjalan jalan bertiga. Nino setiap hari mengantar dan menjenput Tifanny ke kampus. Tifanny pun tidak menolak, lagi pula sekalian untuk berhemat ongkos bus atau taksi, begitu pikir Tifanny.
Tifanny sudah tidak menghiraukan makian dan ancaman keluarganya, toh dekat atau tidak dekat dengan Nino tetap saja ia akan di musuhi. Jadi, Tifanny memilih dekat sekalian saja dengan Nino. Tetapi hubungan mereka belum maju ke tingkat yang lebih serius. Tifanny dan Nino masih berstatus sebagai teman saja.
"Ini sudah pertengahan desember. Semester akan segera berakhir," Nino menatap kalender yang ada di kamarnya.
Kai dan Alden pun sudah memberikan peringatan batas waktu taruhan mereka.
"Apa aku harus jujur kepada Tifanny tentang taruhan ini? Ku rasa aku memang jatuh cinta pada gadis itu. Dia gadis pertama yang bisa membuatku nyaman selain Odelia (cinta pertamanya)," Nino berbicara sendiri.
"Aku harus putuskan, aku harus berkata jujur padanya," Nino bertekad.
"Tapi bagaimana jika aku kalah taruhan? Aku tidak menginginkan mobil milik Alden dan apartemen milik Kai. Aku hanya ingin diriku selamat dari mengerjakan skripsi mereka."
__ADS_1
"Ah, aku punya ide. Aku akan menyatakan perasaanku kepada Tifanny di hari terakhir taruhan dan tentu saja di saksikan oleh Kai dan Alden. Setelah itu, taruhan selesai tanpa Tifanny tahu jika selama ini aku mendekatinya untuk taruhan. Dengan seperti itu, aku bisa mendapatkan 2 hal yang ku inginkan, menang taruhan dan mendapatkan Tifanny. Tifanny tetap tidak boleh tahu mengenai taruhan ini," Nino membulatkan tekadnya.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...