
Alula berjalan dengan tergesa gesa menuju kamar perawatan suaminya. Ia datang ke Rumah Sakit dengan ditemani oleh kedua orang tua Kai.
"Al, tenang! Berjalanlah yang santai, mommy tidak ingin cucu mommy kenapa kenapa," ibu mertua Alula yang bernama Sofia mengingatkan.
"Alula khawatir dengan Kai," Alula menangis di depan ibu mertuanya.
"Jangan menangis! Kita akan mengetahui keadaan Kai sekarang," ayah mertua Alula menguatkan.
Mereka pun menuntun Alula berjalan menuju perawatan Kai.
"Alula?" Tifanny dan Nino yang sedang berdiri di depan ruangan Kai. memanggil Alula.
"Fann, Nino? Bagaimana Kai?" Suara Alula terdengar serak.
"Iya, bagaimana keadaannya No?" Sofia tak kalah panik.
"Kai ada di dalam," Nino menjawab.
Alula langsung menghambur masuk menuju kamar perawatan suaminya.
"Sayang?" Alula mendekati Kai yang terlihat memejamkan matanya.
Air mata di pipinya semakin deras ketika melihat Bedside monitor yang sudah dimatikan dan tidak menunjukan garis horizontal maupun garis lainnya.
"Sayang, mengapa kau pergi? Bagaimana dengan Jasper dan anak kita yang ada di dalam perutku?" Alula menangis di dada suaminya.
"Bangunlah! Aku tidak mau mengurus mereka sendirian. Aku tidak mau hidup sendiri," Alula semakin tersedu.
Sementara itu dua orang perawat yang ada di dalam ruangan Kai tampak saling melirik dengan ekspresi yang kebingungan.
"Kai? Bangun, Nak! Ini mommy," Sofia meneteskan air matanya.
"Mengapa jadi seperti ini?" Mata ayah Kai yang bernama William tampak memerah.
"Sayang, bangun! Bangun untuk kedua anak kita!" Alula menangis histeris dan menelungkupkan wajahnya di dada Kai yang masih terbaring.
Kai membuka matanya, ia melihat istri dan kedua orang tuanya menangis.
"Kalian kenapa? Padahal aku baru saja tidur," Kai berkata dengan wajah bantalnya.
"Kau tidak mati?" Alula menepuk nepuk pipi suaminya.
"Sayang, sakit!" Kai meringis.
"Kai, mommy pikir kau pergi," Sofia menciumi wajah putra tunggalnya.
"Kau mengagetkan Daddy!" William memegangi dadanya.
"Siapa yang meninggal? Sus, kalian tidak memberi tahu mereka?" Kai melirik kepada kedua perawat yang masih ada di dalam ruangannya.
"Maafkan kami, Nona! Sepertinya kalian salah paham, kami baru melepaskan membereskan Bedside monitor ini karena kondisi tuan Kaivan semakin membaik," jelas salah satu perawat.
"Mengapa kalian tidak mengatakannya dari tadi?" Alula menghapus air matanya.
"Maafkan kami, Nona! Kalau begitu, kami ke luar dulu dari ruangan ini," kedua perawat itu berpamitan dengan membawa Bedside monitor tadi.
"Sayang, kau lucu sekali!" Kai tertawa melihat ekspresi wajah istrinya.
"Diamlah! Itu tidak lucu," Alula mengerucutkan bibirnya.
"Kasihan istrimu, Kai. Tadi dia terburu-buru datang ke sini. Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Sofia.
"Tadi Kai membantu teman ketika akan dijahati oleh seseorang, Mom. Tapi Kai teledor dan malah terluka," jelas Kai kepada ibunya.
"Daddy bangga padamu. Tetaplah seperti itu! Membantu seseorang yang membutuhkan bantuan kita," William tersenyum.
"Maafkan aku, sayang! Kemarilah!" Kai merentangkan tangannya. Alula pun menghambur memeluk suaminya.
"Kau sangat takut ya kehilanganku?" Kai menciumi rambut Alula.
"Dari dulu kau tidak berubah. Senang sekali dengan bau rambutku," Alula tertawa.
"Padahal sampo kita sama. Mengapa aku merasa bau rambutmu selalu berbeda?" Kai tampak berpikir.
"Sudahlah. Mengapa kau jadi membahas hal yang tidak perlu? Mana yang sakit?" Alula memperhatikan setiap jengkal tubuh Kai.
"Tidak. Aku sudah tidak apa-apa," Kai menenangkan.
Tifanny dan Nino pun mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk ke dalam ruangan Kai.
"Sayang, Nino dan Tifanny ingin masuk. Daddy dan Mommy ke luar dulu ya? Daddy takut kita kena tegur Rumah Sakit jika terlalu banyak orang yang menjenguk," tutur William.
Kai dan Alula pun mengangguk.
"Sebentar ya om? Tante?" Tifanny dan Nino meminta izin.
"Tidak apa, No, Fan. Lagi pula tante dan om akan pergi ke kantin dulu. Kami lapar," ucap Sofia dengan senyum ramahnya. Mereka pun ke luar dari ruangan perawatan anaknya.
"Kai, terima kasih karena telah menolongku. Maafkan aku, karena aku kau terluka!" Tifanny menatap Kai dengan perasaan bersalah.
"Al, aku minta maaf! Karena menolongku, suamimu jadi terluka," Tifanny mengalihkan tatapannya kepada Alula.
Alula pun mendekati Tifanny dan mengelus pundaknya.
__ADS_1
"Mengapa kau meminta maaf? Aku malah bersyukur Kai dapat menbantumu. Malah aku akan sangat marah jika Kai tidak menolongmu. Kau juga temanku," Alula tersenyum kepada Tifanny.
"Al, terima kasih," Nino tersenyum senang.
"Ini bukan gara-gara kau, tetapi memang aku yang ceroboh," Kai berusaha menghilangkan rasa bersalah pada diri Tifanny.
"Kai, kau memang sahabatku. Terima kasih," tutur Nino dengan tulus.
"Sudahlah, ini bukan apa-apa. Kau pun selalu menemani dan membantuku dari dulu," ucap Kai kepada Nino.
"Ajaklah istrimu makan! Dari tadi sepertinya dia belum makan," lanjutnya.
"Iya. Aku pun lapar Kai. Aku bersama Tifanny ke kantin sebentar ya? Al, kau ingin menitip apa?" Nino menoleh kepada Alula.
"Tidak. Tadi saat aku ditelfon olehmu, aku baru saja makan," tolak Alula.
"Baiklah, kami ke kantin dulu," kata Tifanny.
"Iya, sana pergilah! Aku ingin berdua dengan istriku," Kai melirik kepada Alula sambil tersenyum.
Nino dan Tifanny pun pergi ke kantin yang ada di area rumah sakit untuk makan malam. Tifanny dan Nino memakan makanannya dengan hening.
"Sayang, kau kenapa?" Tifanny memperhatikan raut wajah Nino yang dingin dari tadi.
"Tidak. Aku baik-baik saja," Nino memaksakan senyumnya.
"Katakan padaku! Ada apa? Bukankah kau bilang agar kita harus selalu terbuka?" Tifanny menatap suaminya.
"Emm, aku melihat tadi kemejamu koyak. Apa Justin sudah melakukan sesuatu kepadamu?" Nino berkata dengan hati-hati.
"Ini yang membuatmu bersikap dingin kepadaku?" Tifanny tampak kecewa.
"Itu mengganggu pikiranku saja. Apa Justin melakukan sesuatu padamu?" Tanya Nino lagi.
"Jika dia sudah berbuat sesuatu kepadaku, apa kau masih mau menerimaku?" Tifanny menatap wajah Nino dengan hati yang sakit.
Hening, Nino tidak menjawab pertanyaan istrinya.
Tifanny pun tersenyum, setitik air mata terjatuh dari matanya.
"Kau tahu? Aku selalu menerimamu bagaimana pun masa lalumu. Aku menerima jika kau dulu adalah seorang pria yang memiliki banyak mantan kekasih dan pergaulan yang bebas. Tetapi kau sekarang malah mempermasalahkan apakah aku sudah disentuh oleh Justin atau tidak. Aku kecewa," Tifanny berkata dengan dada yang sesak. Ia segera berdiri dan meninggalkan Nino yang masih terduduk.
"Fann?" Nino berteriak dan mengejar langkah Tifanny. Tifanny berlari dan bersembunyi di dalam toilet wanita.
"Fann, kau ke mana?" Nino kehilangan jejak istrinya. Ia pun memutuskan untuk kembali ke dalam ruangan Kai.
"Kai? Kau melihat Tifanny?" Nino langsung masuk dan bertanya.
"Mengapa kau jadi menanyakannya padaku? Bukankah tadi dia ke kantin bersamamu?" Kai merasa bingung.
Nino pun hanya diam.
"Berceritalah! Alula sudah pulang dengan Mommy. Malam ini Daddy yang akan jaga. Daddy mengantarkan Alula dan Mommy pulang terlebih dahulu."
Nino pun terduduk di kursi yang ada di sebelah ranjang sahabatnya.
"Tadi kami bertengkar. Dia tidak terima ketika aku bertanya mengenai apakah Justin sudah melakukan sesuatu padanya? Karena aku melihat kemejanya bekas robekan," Nino bercerita kepada Kai.
"Kau ini mengapa bertanya seperti itu? Ya jelas saja dia marah," Kai berdecak kesal.
"Kau tahu? Kemeja istrimu bukan robek karena Justin, tetapi karena dia merobeknya untuk menghentikan pendarahan di perutku. Kau tidak melihatnya ketika aku terluka di sana?" Kai meninggikan suaranya.
Nino pun menggelengkan kepalanya.
"Justin tidak menyentuhnya. Dia hanya mencengkram tangan istrimu saja dan menjambak rambutnya. Dia tidak melakukan hal yang lain. Aku jamin itu, karena aku mengikuti mereka dan langsung ke luar saat mobil Justin berhenti," papar Kai lagi.
Nino pun mengusap wajahnya kasar. Merasa bersalah telah bertanya hal yang menyakiti Tifanny.
"Aku bertanya seperti itu karena ingin memastikan, Kai. Lebih baik bertanya kan dari pada aku membungkusnya rapat di dalam hatiku? Aku hanya tidak rela dia disentuh oleh pria lain. Aku cemburu. Aku mencintainya. Kau tahu itu kan?" Nino berkata dengan resah.
"Ya kau benar juga. Jika tidak ditanyakan, itu hanya akan menjadi sesuatu yang mengendap di dalam hatimu. Kalau begitu, carilah istrimu! Pasti dia belum jauh," perintah Kai dengan tegas.
"Baiklah, Kai. Aku pergi. Nanti aku kembali lagi," dengan tergesa Nino ke luar dari ruangan perawatan Kai untuk mencari istrinya.
*****
Alden dan Bianca berjalan menuju tempat untuk berkemah agar bisa melihat Aurora Borealis. Sepanjang jalan, Alden dan Bianca melihat ikan Cod tergantung di kediaman para warga. Memang, mayoritas mata pencaharian warga desa Reine adalah nelayan, maka dari itu desa ini dijuluki sebagai desa nelayan.
Alden dan Bianca akhirnya sampai di tempat yang strategis untuk berkemah sambil melihat Aurora Borealis yaitu di tempat yang gelap dan tanpa tersinari cahaya.
"Aurora Borealis akan muncul sampai dengan pukul 2 dini hari," urai Alden sembari mendirikan tenda otomatis miliknya.
"Tapi sekarang belum terlihat?"
"Sebentar lagi. Sabar saja!" Alden masih berkutat dengan tenda miliknya.
Setelah tenda berhasil didirikan, Alden menyalakan api unggun dengan kayu bakar dan korek api yang ia bawa. Tak lupa, Alden menggelar tikar di luar tenda untuk melihat Aurora Borealis.
"Kita akan tidur di dalam tenda berdua?" Bianca menatap Alden dengan seksama.
"Iya, bagaimana lagi? Jika kita membawa dua tenda, akan membutuhkan waktu yang banyak untuk mendirikan tenda yang satunya. Tenang saja! Aku tidak akan macam-macam."
"Baiklah," Bianca bernafas lega.
__ADS_1
Mereka pun terduduk di sebuah tikar sembari melihat ke atas langit. Tepat pukul 10 malam, yang mereka nantikan pun akhirnya terlihat.
"Alden, lihatlah itu Auroranya!" Bianca berkata dengan riang sembari menunjuk langit yang mulai berwarna hijau, orange dan kemerahan.
"Diamlah dan dengarkan suaranya!" Perintah Alden lembut.
"Memangnya Aurora bersuara?" Bianca tersenyum mengejek.
"Tentu saja. Aurora akan bersuara jika suasananya hening dan sepi juga jika tidak terdengar suara angin. Kebetulan suasananya hening. Maka diamlah dan dengarkan!"
Bianca pun menutup rapat bibirnya dan berusaha untuk mendengarkan suara Aurora Borealis.
"Aku masih belum bisa mendengar apapun," ujar Bianca.
"Iya, sepertinya karena angin yang berhembus lumayan kencang. Jadi tidak terdengar. Ada yang mengatakan jika suaranya seperti suara radio, ada pula yang mengatakan seperti gemercik air dan ada pula yang mengatakan jika suaranya seperti gulungan ombak," Alden menjelaskan.
"Wah, pengetahuanmu bagus juga ya tentang Aurora!" Bianca mengangguk-gangguk.
"Aku kan pernah membacanya," timpal Alden.
Mereka pun memusatkan kembali indra penglihatan mereka ke atas langit. Alden dan Bianca menatap Aurora itu dengan takjub.
"Aku terharu. Aku belum pernah melihat fenomena alam seindah ini," mata Bianca berkaca-kaca melihat cahaya Aurora yang memiliki perpaduan warna yang cantik.
"Iya, memang sangat indah. Orang-orang sering menyebutnya cahaya cantik di langit Utara," Alden tersenyum menatap Aurora itu. Bebannya karena merasa dibuang oleh kedua orang tuanya hilang sudah.
Alden pun melirik Bianca dan melihat gadis itu tersenyum menatap langit. Sifat usilnya pun muncul ketika melihat raut wajah damai wanita yang ada di sampingnya.
"Ca, kau tahu tidak?" Alden berkata dengan misterius.
"Ada apa?" Bianca menoleh kepada Alden.
"Konon orang-orang di Amerika Utara mengatakan jika Aurora adalah bentuk dari roh orang-orang yang sudah meninggal," Alden berkata dengan pelan.
"Dan orang-orang di Greenland berkata jika Aurora adalah perwujudan dari arwah-arwah bayi. Orang-orang di sana akan melarangmu untuk bersiul saat melihat Aurora," sambungnya.
"Me-mengapa dilarang?" Wajah Bianca berubah pias.
"Karena konon arwah-arwah bayi itu akan menghampirimu dan akan memotong kepalamu untuk bermain bola," Alden masih berbisik.
"Aku takut," Bianca langsung memelototkan matanya dan memeluk Alden.
"Padahal aku hanya berniat mengusilinya, tetapi mengapa aku jadi deg-degan?" Raut wajah Alden merona.
"Aku takut. Ayo lebih baik kita tidur saja!" Pinta Bianca lagi.
"Ca, tenanglah! Itu kan hanya legenda penduduk dari sana. Aurora itu kan murni penampakan alami alam," Alden berusaha meredam ketakutan Bianca.
Bianca pun melepaskan tangannya.
"Iya, itu hanya legenda kan?" Bianca mengusir ketakutan di dalam dirinya.
"Iya. Itu hanya legenda rakyat saja. Nikmati saja lagi ya pemandangannya?"
Bianca pun mengangguk, ia menghangatkan tangannya di depan api unggun sambil menikmati pemandangan Aurora Borealis yang sangat langka ia lihat.
"Ca, ayo kita tidur! Apinya sudah padam. Aku tidak membawa kayu lagi. Ini pun sudah pukul 12 malam," Alden melirik jam tangannya.
"Ayo! Aku pun sudah mengantuk," Bianca berdiri dan masuk ke dalam tenda.
"Kau hanya membawa sleeping bag satu?" Bianca menatap sleeping bag yang hanya satu di dalam tenda.
"Iya, Ca. Jika membawa dua, kita akan repot di jalan. Kau pakai saja! Aku tidak apa-apa."
"Benar tidak apa-apa?" Bianca merasa ragu karena udara dan cuaca sangat dingin.
"Benar. Lagi pula aku sudah memakai mantel yang tebal."
"Baiklah," Bianca masuk ke dalam sleeping bag tebal itu.
"Hangatnya," Bianca tersenyum. Matanya kemudian melihat Alden yang tertidur memunggunginya. Ia terlihat menggerak-gerakan tangannya untuk mengusir dingin.
"Alden, kemarilah! Kita pakai sleeping bagnya berdua," Bianca ke luar dari dalam sleeping bagnya.
"Memangnya bisa?" Alden menoleh.
"Bisa. Asal kita tidur menyamping," jawab Bianca.
"Boleh? Kau tidak apa-apa?"
"Boleh. Dari pada kau mati kedinginan. Cepatlah!"
Alden pun berdiri dan masuk ke dalam sleeping bag berwarna abu itu. Tubuhnya dan tubuh Bianca menempel satu sama lain di dalam sleeping bag. Seketika wajah Alden pun memerah.
"Jangan memikirkan yang tidak-tidak!" Bianca memunggungi Alden.
Alden pun berusaha memejamkan matanya dan mengusir pikiran kotornya.
"Ca? Kau sudah tidur?" Alden berbisik. Tetapi tidak ada sahutan dari Bianca.
"Sudah tidur ya?" Alden memastikan.
Alden pun kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Bianca dan menenggelamkan wajahnya di rambut gadis itu.
__ADS_1
"Ca sepulang dari Norwegia, sepertinya aku harus menemui dokter spesialis jantung karena sekarang setiap aku berdekatan denganmu, jantungku selalu berdetak tak karuan. Sepulangnya dari sini aku akan melakukan EKG untuk memeriksa jantungku," batin Alden kemudian ia berusaha untuk memejamkan matanya.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...