Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Finding Bianca


__ADS_3

Akhir pekan tiba, Nino dan Tifanny berangkat ke apartemen Sean untuk melancarkan rencana mereka.


Sebelumnya Tifanny sudah ditelfon oleh asisten Sean untuk datang ke apartemen bosnya itu, untuk membawakan dokumen yang berisi laporan keuangan yang telah di audit dalam periode 3 bulan ini.


"Sayang, hati-hati! Aku hanya akan memberimu waktu selama 5 menit di dalam," ucap Nino saat Tifanny berjalan menuju kamar apartemen Sean.


"Iya, tenanglah!" Tifanny segera berjalan ke dalam apartemen Nino.


Sementara itu, Nino menunggu tak jauh dari pintu masuk kamar apartemen Sean. Nino menyalakan timer di ponselnya. Apartemen ini pasti kedap suara, jadi Nino hanya akan memastikan istrinya berada di dalam kamar apartemen Sean selama 5 menit saja.


"Nona Tifanny! Senang melihat anda datang ke sini," Sean tersenyum.


Tifanny hanya membalas dengan senyuman.


"Masuklah!"


Tifanny masuk ke dalam kamar apartemen Sean.


"Nona Tifanny sebentar!" Sean mengambil ponselnya.


"Aku harus menghubungi tuan Nino jika target sudah datang," Sean mengetik pesan kepada nomor Nino.


"Aku sudah di halaman apartemenmu. Jangan kunci pintu apartemennya!" Balas Nino.


"Oke."


Sean pergi ke dapur dan mengambilkan minuman untuk Tifanny. Sean menyimpan gelas yang berisi wine di meja yang ada di depan Tifanny.


"Nona Tifanny, anda cantik sekali!" Sean menyentuh pundak Tifanny.


"Tuan, tolong yang sopan!" Tifanny menghempas tangan Sean dari atas pundaknya. Tifanny berdiri dan menjauh dari Sean.


"Nona, aku akan membayarmu. Temani aku dan temanku hari ini!" Sean menyeringai jahat dan mendekati Tifanny.


"Tolong!" Tifanny berteriak. Tifanny pun mengacak ngacak rambutnya juga menyobek lengan bajunya. Tifanny kemudian terduduk di lantai sembari menangis.


"Nona, apa yang anda lakukan?" Sean tampak kebingungan.


"5 menit," gumam Nino. Kemudian ia berjalan ke pintu kamar Sean dan membukanya.


"Tifanny? Apa yang kau lakukan pada istriku?" Nino berteriak dan mencengkram kerah kemeja Sean.


"Istri?" Sean tampak kebingungan.


"Dia istriku! Dasar ber*ngs*k!" Nino meninju wajah Sean.


"Tolong aku!" Tifanny berpura-pura menangis ketakutan.


"Aku tidak melakukan apapun kepada istrimu. Aku juga tidak tahu menahu jika Nona Tifanny adalah istrimu," Sean tampak ketakutan.


"Aku tidak terima. Aku akan menjebloskanmu ke penjara," Nino mengambil ponselnya.


"Kau tidak akan bisa melakukan itu!" Sean hmemukul Nino dari belakang. Nino pun bergerak cepat, ia memukul Sean bertubi-tubi hingga pria itu tidak sadarkan diri.


Nino menelfon polisi dan 15 menit kemudian, polisi tiba di apartemen Sean.


Polisi langsung memborgol Sean dan membawanya ke kantor polisi. Begitu pun dengan Tifanny dan juga Nino yang dibawa untuk menjadi saksi.


"Sayang, apa tidak apa-apa aku melakukan ini?" Tanya Tifanny saat mereka dalam perjalanan pulang setelah dimintai keterangan.


"Tidak. Ini hanya jalan darurat saja. Karena kita tidak memiliki bukti apapun untuk setiap kasus pelecehan yang ia lakukan. Kita hanya perlu satu alat bukti saja. Aku sudah tahu data-data karyawannya yang pernah dilecehkan oleh Sean. Aku pun sudah memberikan mereka saran untuk melapor. Odelia juga akan melaporkan kekerasan rumah tangga yang Sean lakukan. Kebetulan saat itu dia langsung melakukan visum," jelas Nino.


"Tenang saja! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan! Aku akan selalu melindungimu. Sangat berbahaya sekali jika manusia macam Sean berkeliaran dengan bebas," lanjutnya.


Tifanny pun mengangguk mendengar penjelasan Nino.


Esok harinya, berita Sean ditangkap polisi tersebar di kantor. Wanita-wanita yang pernah dilecehkan Sean pun berlomba-lomba datang ke kantor polisi untuk memberikan pengaduan dan laporan. Termasuk Odelia yang ikut melaporkan Sean karena kekerasan rumah tangga yang di alaminya.


*****


Beberapa hari ini Cassie selalu menghubungi Alden, tetapi Alden selalu mengabaikan panggilan dari kekasihnya itu.


"Jika kau terus menerus menolak panggilanku, aku akan datang ke rumahmu dan membuat keributan di sana," Cassie mengirimkan sebuah pesan berisi ancaman.


Alden pun dengan terpaksa menemui wanita itu ke rumahnya.


"Ada apa?" Tanya Alden dengan dingin saat ia sampai di rumah Cassie.


"Antar aku bertemu dengan teman-temanku," Cassie merajuk manja.


"Baiklah," Alden pun mengantarkan Cassie menuju rumah teman-temannya.


Alden hanya menjadi penonton untuk acara Cassie dan teman-temannya. Hari ini mereka tampak mengadakan Bridal Shower untuk salah satu teman Cassie yang akan menikah. Mereka tampak asik mengobrol satu sama lain dan menghiraukan keberadaan Alden yang merupakan satu-satunya pria di tempat itu.


"Aku sudah tidak tahan," Alden bangkit dari duduknya.


"Honey, kau mau ke mana?" Cassie berdiri dan menarik tangan Alden.


"Aku ingin pulang. Aku bosan. Di sini aku seperti boneka saja. Seperti orang bodoh," wajah Alden terlihat memerah.

__ADS_1


"Honey, kau mempermalukanku!" Cassie berbisik.


Semua teman-teman Cassie tampak menonton adegan sepasang kekasih yang tengah bertengkar itu.


"Sudahlah, Cass. Aku benar-benar sudah bosan. Aku tidak bahagia menjalin hubungan denganmu. Kebahagiaanku seperti terampas. Memang sepertinya ini hanya obsesi masa laluku saja. Aku tidak pernah menyadari betapa memuakannya menjalin hubungan dengan wanita sepertimu. Aku jadi heran dengan kak Aiden, mengapa dia bisa betah berlama lama menjalin hubungan dengan wanita sepertimu?" Alden berteriak.


"Waw, sepertinya seru!" Bisik teman-teman Cassie. Mereka pun merekam adegan yang ada di hadapannya.


"Apa maksudmu? Aku sudah meninggalkan kakakmu agar bisa bersamamu," Cassie berteriak.


"Meninggalkan? Aku tidak pernah memintamu untuk meninggalkan kakakku. Kau sama saja dengan mantan-mantan kekasihku. Bahkan kau rela memberikan tubuhmu untukku tepat dua hari saat kita baru berpacaran. Jika saja kau tidak menyusulku ke Norwegia saat itu, mungkin aku tidak akan terjebak dalam hubungan si*lan ini! Kehadiranmu di Norwegia menghancurkan kebahagiaan yang sedang aku rasakan dan bodohnya aku baru menyadari sekarang. Kau benar-benar wanita memuakan!" Alden menunjuk wajah Cassie.


"Baru beberapa hari berhubungan denganmu sudah membuat hidupku tidak nyaman. Bahkan aku kehilangan seseorang karenamu," Alden menatap wanita itu dengan tajam, bak elang yang mengintai mangsanya.


"Aku akhiri hubungan toxic ini!" Alden pergi berlalu meninggalkan tempat acara Cassie dan teman-temannya.


"Haha, kasihan Cassie dicampakan," bisik teman-teman Cassie yang menonton adegan itu secara langsung.


"Dia tidak bisa melakukan ini padaku," mata Cassie memerah menahan tangis. Ia mengambil tasnya di atas meja dan berlari mengejar Alden.


"Turun!" Cassie menghalangi mobil Alden yang akan melaju.


"Minggir atau kau ku tabrak!" Alden berteriak dari kaca mobilnya yang dibiarkan terbuka.


"Aku tidak mau. Mari kita bicarakan ini baik-baik! Jika kau tidak suka dengan sikapku, aku akan berubah untukmu," Cassie mulai menangis sambil terus menghalangi mobil Alden dengan tubuhnya.


"Aku tidak mau berhubungan lagi dengan wanita menyebalkan seperti dirimu. Minggir atau aku benar-benar nekat untuk menabrakmu!" Ancam Alden.


"Aku hitung sampai 3. 1,2-"


Cassie segera menyingkir dari mobil Alden ketika ia melihat kesungguhan di wajah pria itu. Alden pun meninggalkan Cassie dan mengemudikan mobilnya menuju kota Cambridge.


"Ca, aku tidak kuat. Aku ingin bertemu denganmu," Alden melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Seolah tidak sabar bertemu dengan wanita yang beberapa hari ini selalu mengganggu pikirannya.


1 jam 47 menit kemudian, Alden sampai di kota Cambridge. Alden saat ini berada di depan rumah Bianca.


Alden turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu. Saat Alden akan mengetuk pintu, seseorang membuka pintu terlebih dahulu.


"Alden?" Sapa Bobby saat melihat anak dari sahabatnya ada di depan rumahnya.


"Paman?" Alden tersenyum sopan.


"Bianca mana?" Bobby mengarahkan tatapannya ke arah mobil Alden.


"Bukankah Bianca pulang?" Alden tampak kebingungan.


"Maksudmu? Bianca tidak ada di sini. Dia tidak pulang. Ada apa sebenarnya?" Nada Bicara Bobby terdengar panik.


"Bianca berkata jika ia akan pulang untuk mengambil sesuatu. Mungkin tidak jadi ya? Karena aku di apartemen. Mungkin Bianca pulang lagi ke rumah mama," Alden berbohong.


Alden terpaksa berbohong karena tidak ingin membuat Bobby semakin khawatir jika mengatakan ia tidak tahu keberadaan Bianca selama ini.


"Tadi aku langsung ke sini dan tidak ke rumah," Alden berusaha meyakinkan Bobby.


"Oh begitu. Paman kira ada apa," Bobby akhirnya mempercayai ucapan Alden.


"Masuklah dulu! Kau pasti lelah menyetir dari kota Birmingham ke kota Cambridge," ajak Bobby kepada putra sahabatnya.


"Tidak usah, paman. Aku harus kembali ke kota Birmingham. Kalau begitu aku pamit, paman. Maaf mengganggu. Sampaikan salamku untuk bibi dan adik-adik Bianca," Alden berkata semanis mungkin. Yang pasti, Alden ingin penilaian Bobby terhadapnya baik.


"Baiklah jika begitu. Hati-hati di perjalanan!" Bobby menepuk bahu Alden.


"Aku pergi, paman," Alden berjalan menuju mobilnya dan pulang kembali ke kota Birmingham.


"Ca, kau di mana?" Alden berbicara sendiri saat ia dalam perjalanan pulang.


Alden tampak berpikir keras ke mana Bianca akan pergi.


"Oh iya, Tifanny kan sepupunya," Alden seperti menemukan secercah harapan untuk menemukan Bianca.


Alden pun langsung pergi ke rumah Nino saat ia sudah sampai di kota Birmingham.


"Aku mencari Bianca. Apa kau tahu keberadaannya di mana?" Alden langsung bertanya kepada intinya saat ia menemui Tifanny dan juga Nino.


"Bianca-" Tifanny hendak menjawab.


"Kami tidak tahu di mana keberadaannya," potong Nino dengan cepat.


"Hey, aku bertanya kepada istrimu!" Alden mendelik kesal kepada sahabatnya itu.


"Tifanny tidak tahu. Iya kan, Fan?" Nino menyentuh tangan Tifanny.


"I-iya. Aku tidak tahu di mana Bianca. Bukankah dia bekerja di rumahmu?" Jawab Tifanny pada akhirnya.


"Sudahlah, Fann. Wajahmu itu terlalu terlihat jika berbohong. Aku hanya ingin bertemu dengan Bianca. Di mana dia sekarang? Ayolah, Fann! Aku ini teman sekelasmu saat di universitas. Beri tahu aku di mana Bianca ya?" Alden memamerkan senyumnya yang tampak menawan.


"Aku tidak tahu," Tifanny menggeleng.


"Fann, tolong beri tahu aku!" Alden merengek.

__ADS_1


"Mengapa tidak kau cari saja? Aku kan sudah pernah berkata jangan permainkan wanita baik-baik! Di mana harga dirimu, hah? Kau memakan bekas kakakmu. Mengerikan sekali!" Nino bergidik ngeri.


"No, semua orang memiliki kesalahan. Dulu saja kau menjadikan Tifanny sebagai bahan taruhan, dia kan wanita baik-baik. Lalu, aku tidak melakukan apapun dengan wanita itu. Jadi, kau salah jika kau berkata aku memakannya," Alden berkata dengan kesal.


"Sayang, dia benar. Kau pernah menjadikanku barang taruhan," Tifanny menoleh ke arah suaminya.


"Sayang, itu kan dulu," Nino berusaha membujuk agar Tifanny tidak marah padanya.


"Sudahlah, mengapa kalian jadi bertengkar? Beri tahu saja di mana Bianca!" Alden memotong.


"Kami tidak tahu," Nino teguh pada pendiriannya.


"Kau menyebalkan! Padahal sebelum kau menikah ke mana-mana kita selalu berdua," Alden berdiri dan menendang pelan kaki Nino. Lalu ia berlalu dari rumah sahabat dari masa kecilnya itu.


"Bianca, kau di mana?" Alden seolah frustasi karena seharian ini ia tidak menemukan gadis itu.


"Aku lelah. Sebaiknya aku pulang saja dulu dari pada celaka," Alden mengarahkan mobilnya menuju kediaman kedua orang tuanya.


Saat tiba di rumah, Alden melihat rumahnya sudah di dekor untuk acara ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya yang akan diadakan malam ini.


Alden berjalan dengan lemas menuju kamarnya.


"Bodohnya kau Alden! Kau belum memghubungi Bianca," Alden buru-buru mengambil ponselnya dan menelfon nomor Bianca.


"Tidak aktif," Alden melempar ponselnya ke atas kasur.


Alden merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya. Ia menatap langit-langit kamarnya. Alden menoleh ke arah ponselnya, ia membaca lagi pesan yang dikirimkan Bianca padanya saat di Norwegia.


"Iya. Aku merindukanmu. Segeralah pulang!"


Alden tersenyum membaca pesan terakhir yang dikirimkan Bianca padanya. Pesan itu dikirim saat Alden membeli tiket pesawat ke kota dan meninggalkan Bianca di desa Reine saat mereka di Norwegia.


Alden memutar lagu untuk mengusir sepi. Ia memutar lagu Heartbreak Anniversary dari Giveon yang sangat mewakili perasaannya saat ini.


"I still see the messages you read,


I'm foolishly patient can't get past the taste of


your lips,


Don't wanna let you out my head,


Just like the day that I met you the day I thought forever,


Said that you love me but that'II last for never,


It's could outside like when you walked out my life,


Why you walk out my life?"


Terjemahan lagu:


"Aku masih melihat pesan-pesan yang telah kau baca,


Aku bersabar dengan bodohnya tidak bisa melupakan rasanya bibirmu,


Tidak ingin membiarkanmu pergi dari pikiranku,


Sama seperti hari di mana kita bertemu hari yang aku kira akan selamanya,


Berkata bahwa kau mencintaiku tapi itu tidak bertahan lama,


Di luar sedang dingin seperti saat kau pergi dari hidupku


Mengapa kau pergi dari hidupku?"


"Mengapa kau pergi?" Alden bergumam.


Saat Alden masih galau dengan lagu yang ia dengar, pintu kamarnya terdengar diketuk dari luar.


Sesaat kemudian, Hannah langsung masuk ke dalam kamar putra bungsunya.


"Keluarlah! Acara akan di mulai. Ganti bajumu!" Perintah Hannah dengan dingin.


"Aku seperti ini saja," Alden berjalan melewati Hannah dengan tidak bersemangat.


"Kenapa anak itu?" Hannah menatap ponsel Alden dan mematikan lagu yang masih berputar.


"Dia sedang galau?" Tanya Hannah saat melihat lagu yang tengah didengar oleh Alden.


Alden melihat banyak saudaranya di dalam rumahnya, tetapi ia tidak melihat keberadaan Aiden kakaknya. Alden terduduk dan meminum air yang tersuguh di atas meja.


Satu jam acara telah terlewati, Alden merasa bosan dengan suasana yang sangat ramai.


"Aku ke kamar saja," Alden hendak berdiri dari duduknya, tetapi kedatangan dua orang mencegah niatnya itu.


"Kak Aiden? Bianca?" Gumam Alden saat melihat Aiden menggandeng tangan Bianca masuk ke dalam rumah.


"Maaf aku terlambat. Aku tadi menjemput Bianca terlebih dahulu," Aiden merasa tidak enak.

__ADS_1


"Menjemput?" Alden merasa kecolongan.


...Hallo readers tersayang, author infokan lagi ya. Author membuat naskah tetap 2 episode ya? Terdiri dari 2000 kata lebih untuk bab ini. Hanya saja author satukan dalam satu episode agar episodenya tidak terlalu banyak karena ini sudah masuk 100 episode lebih. Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2