
Tifanny melirik ke arah Nino yang sedari tadi tidak bersuara. Dari perjalanan sampai rumah, Nino tidak mengatakan sepatah kata apapun kepada Tifanny. Tifanny pun enggan untuk bertanya karena merasa takut dimarahi.
Nino keluar dari kamar tanpa bersuara. Tifanny hanya menghembuskan nafasnya pelan.
"Kakak sudah pulang?" Meghan masuk ke dalam kamar diikuti dengan David.
"Ke mana saja kamu, Nak? Suamimu sangat mengkhawatirkanmu," David bertanya dengan wajah yang lelah.
Sepulang bekerja, David memang langsung menjemput Meghan ke kampus dan juga segera mencari keberadaan putri sulungnya setelah Nino memberitahu Tifanny tidak ada di dalam rumah.
"Iya, kak Nino sangat mengkhawatirkan kakak. Tadi kami berpencar mencari kakak," timpal Meghan.
"Maafkan Fanny ya, Pa? Maafkan kakak ya, Meghan?" Tifanny merasa tidak enak hati.
"Tadi Fanny membantu tetangga kita melahirkan. Fanny ikut ke RS," ungkap Tifanny dengan perasaan yang merasa bersalah.
"Lain kali ke mana pun kau pergi, kau wajib untuk mengabari suamimu. Dia suamimu. Kau tidak boleh pergi ke luar rumah tanpa seizinnya. Kasihan Nino, dia sudah lelah bekerja ditambah harus mencari keberadaanmu," David memberikan nasehat.
"Tadi ponsel Fanny ketinggalan. Lain kali, Tifanny akan menghubungi Nino."
"Baiklah. Kalau begitu Meghan izin ke kamar. Ada tugas kuliah yang belum diselesaikan," ucap Meghan.
"Iya. Semangat ya?"
"Papa juga izin ke kamar ya. Papa ingin istirahat. Besok ada jadwal operasi," David ikut pamit.
"Iya. Sekali lagi maafkan Fanny ya?" Tifanny menatap bergantian ke arah adik dan ayahnya.
"Jangan dipikirkan! Segeralah istirahat! Kasihan cucu papa yang ada di perutmu," David mengelus kepala putri sulungnya. Ia dan Meghan pun keluar dari kamar Tifanny.
Tak lama, Nino masuk dengan membawa segelas susu.
"Ini minumlah!" Nino menyodorkan gelas berisi susu khusus ibu hamil.
"Terima kasih," Tifanny mengambil susu yang dibuatkan suaminya dan meminumnya hingga tandas.
Nino pun terduduk dan menyentuh kaki Tifanny.
"Apa kakimu pegal?" Nino memperhatikan kaki istrinya.
"Tidak. Tidak pegal sama sekali," Tifanny menggelengkan kepalanya.
"Kau lapar? Aku akan membuatkanmu makan malam ya?" Nino hendak beranjak lagi dari duduknya.
"Tidak perlu. Aku sudah makan tadi di kantin Rumah Sakit," Tifanny menahan tangan Nino agar tidak pergi.
"Duduklah!" Pinta Tifanny.
Nino pun terduduk di samping Tifanny.
"Maafkan aku!" Tifanny langsung memeluk tubuh Nino.
"Maaf karena pergi tanpa memberitahumu! Aku hanya sangat bosan di rumah. Pekerjaanku sekarang hanya berdiam diri di kamar. Aku tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah. Aku bosan," bulir air mata keluar dari matanya. Tifanny merasa sangat bersalah kepada suaminya.
Nino membalas pelukan Tifanny. Ia mendekap tubuh istrinya dengan hangat.
"Kau tahu mengapa aku bertindak demikian?" Nino melepaskan pelukannya dan mengeringkan pipi Tifanny dengan jari-jarinya.
__ADS_1
"Aku bersikap seperti itu karena aku mengkhawatirkanmu. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu dan anak kita. Apalagi kau sempat masuk ke Rumah Sakit akibat terjatuh. Salahkah aku ingin melindungimu dan anak kita?" Nino menatap Tifanny dengan mata yang teduh.
"Maafkan aku jika kau merasa terkekang! Aku berjanji setelah pulang bekerja aku akan membawamu jalan-jalan keluar. Kau mau?" Lanjutnya.
"Aku mau," Tifanny mengangguk dengan cepat.
"Terima kasih karena sudah menyayangiku dan menjagaku," Tifanny memeluk lagi Nino. Ia merasa selalu nyaman dan aman berada di pelukan suaminya.
"Tidak apa-apa. Jangan diulangi lagi ya! Aku mohon," bisik Nino. Tangannya mengelus rambut Tifanny.
****
"Menikah?" Alden melihat langit-langit kamarnya.
"Dia berbeda dengan wanita yang selama ini pernah aku kencani," gumamnya lagi.
"Aku harus meminta saran kepada Kai dan Nino," Alden bangkit dari tidurnya dan menelfon Nino dan Kai.
"Alula melahirkan? Wah sekarang kau sudah beranak dua, Kai?" Alden tertawa.
"Iya, maaf, maaf! Aku tidak tahu. Kemarin-kemarin aku sibuk memperjuangkan sesuatu," celoteh Alden lagi.
"Besok aku ke rumahmu. Aku ingin curhat," Alden terkekeh.
"Ya bisa, Kai. Aku juga manusia normal," Alden mengerucutkan bibirnya.
"Berisik. Sudahlah aku akhiri dulu. Pokoknya besok aku datang ke rumahmu," Alden menutup sambungan telfonnya.
Keesokan harinya Alden datang ke rumah Kai dan Alula. Ia membawa bermacam-macam kado untuk bayi Alula.
"Bukankah anak keduamu perempuan? Masa iya aku harus membelikannya robot-robotan?"
"Oh iya. Aku kan sudah mempunyai anak perempuan ya?" Kai menggaruk rambutnya yang tidak terasa gatal.
"Sayang, kau mulai pikun?" Alula bertanya dengan gemas.
"Baru mempunyai anak dua kau sudah menjadi seseorang yang pelupa," Alden menepuk keningnya.
"Sayang, Chelsea juga sudah melahirkan. Bayinya laki-laki," Kai memberitahukan.
"Iya, sayang. Aku tahu. Aku ingin menjenguknya. Tapi kau tahu bagaimana kondisiku," jawab Alula dengan sedih.
"Nanti saja aku jenguk mereka terlebih dahulu ya? Nanti setelah luka caesarmu mengering dengan sempurna dan kondisimu sudah benar-benar pulih, kau boleh menjenguk anak Chelsea dan Cleon," Kai memberikan ide.
"Baiklah, sayang. Aku setuju. Aku masuk dulu ke kamar ya? Alden, aku tinggal dulu!" Alula berpamitan. Ia pun dituntun oleh Bibi May atau asisten rumah tangganya untuk masuk ke dalam kamar.
"Kai, hampir semua teman-teman kita sudah berkeluarga ya?" Alden berkata dengan nada sedikit sedih.
"Iya. Kau kapan?" Kai tersenyum dengan setengah mengejek.
"Telfon Nino dulu, Kai! Aku ingin bercerita," suruh Alden dengan terburu-buru.
"Baiklah. Aku telfon dulu dia," Kai mengambil ponselnya dan menelfon Nino.
"Cepatlah, Kai! Aku sudah kebelet ingin curhat," Alden tampak tidak sabar.
"Sudah. Dia bilang akan datang," Kai menaruh ponselnya di atas meja. Alden melirik walpaper ponsel sahabatnya. Ia melihat foto Kai dan Alula yang tengah menggendong Jasper. Terlihat keluarga itu sangat harmonis dan bahagia dengan senyum yang terlihat sangat menggambarkan kebahagiaan rumah tangga mereka.
__ADS_1
30 menit kemudian, Nino baru tiba di rumah Kai.
"Kau terjebak macet, No?" Alden menyindir.
"Hehe, maaf ya tadi aku sulit mencari taksi," Nino menjawab celotehan Alden.
"Mengapa kau baru datang?" Tanya Kai yang juga ikut kesal menunggu kedatangan sahabatnya. Tampak meja sudah penuh dengan piring makanan yang mereka cicipi sedari menunggu kedatangan Nino.
"Aku membawa Tifanny berjalan-jalan dulu. Dia butuh udara segar," Nino mendudukan dirinya.
"Aku menyuruhmu ke mari karena aku ingin meminta saran. Sekarang aku sudah berpacaran dengan Bianca. Horee!!!!" Alden berteriak kegirangan sendirian.
Kai dan Nino pun saling berpandangan.
"Kalian tidak senang? Mengapa wajah kalian sangat datar?" Alden berdecak kesal.
"Baru berpacaran? Aku pikir kau melamarnya," Nino meminum air mineral yang ada di atas meja.
"Aku pikir juga begitu. Aku sudah jadi ayah dua anak. Nino sebentar lagi juga akan segera jadi ayah dan kau senang karena baru sebatas resmi berpacaran?" Kai tertawa meledek.
"Diamlah, Kai! Tertawamu begitu menyebalkan!" Alden menggerutu.
"Nah itu yang ingin aku ceritakan juga. Saat aku resmi berpacaran dengannya. Aku mengajaknya ke apartemenku untuk, ya kalian tahulah," Alden menggerak-gerakan alisnya.
"Lalu? Bianca mau?" Nino bertanya dengan penasaran karena Bianca adalah sepupu istrinya.
"Tidak. Dia bilang dia tidak akan melakukannya sebelum menikah," Alden berkata dengan lesu.
"Bisa-bisanya kau mengajak hal seperti itu kepada seorang gadis polos?" Nino merasa tidak mengerti akan jalan pikiran Alden.
"Ya, nikahi saja dia bod*h!!" Kai menyuruh sambil menggerutu. Merasa gemas akan tingkah sahabatnya yang ajaib itu.
"Menikah? Aku kira aku masih terlalu muda," Alden membaringkan tubuhnya di atas sofa.
"Muda dari mana? Seusiamu cocok sudah menikah. Lihatlah teman-temanmu! Mereka sudah mempunyai keluarga dan memiliki tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Kau masih saja asik bermain-main dengan duniamu yang tidak penting itu," Kai menggerutu.
"Halah, Kai. Kalau saja tidak ada insiden waktu dulu, kau juga tidak akan dulu menikah. Iya kan?" Alden balas menggerutu.
"Ya, itu. Memang sudah takdirnya harus seperti itu. Tapi aku bersyukur karena hidupku lebih bahagia dari sebelumnya. Saat kau menikah, ada seseorang yang bisa berbagi keluh kesah denganmu. Ada seseorang yang menyemangatimu dan merawatmu ketika sakit. Ada seseorang yang menyambutmu ketika kau pulang dan lelah bekerja," Kai mengungkapkan dengan panjang lebar.
"Kai benar. Menikahlah agar kau tahu rasanya seperti apa!" Nino bersuara.
Alden pun tampak merenung.
"Belum tentu kau akan mendapatkan gadis seperti itu lagi. Gadis seperti Bianca akan pergi jika kau hanya bermain-main dengannya. Selama ini kau selalu mendapatkan gadis yang tidak jelas. Ya seperti Fiona dan calon kakak iparmu itu," sambung Nino.
"Iya. Nikahilah dia sebelum dia berpaling kepada orang lain. Gadis baik-baik butuh kepastian bukan hanya sebagai tempat untuk berlabuh dan bermain-main. Sudah saatnya kau menikah," Kai mendukung.
Lama Alden terdiam. Ia sedang bergelut dengan hati dan pikirannya. Alden memijat pelipisnya yang menandakan jika ia tengah dilanda kebingungan yang besar. Kai dan Nino pun menunggu jawaban dari pemuda itu. Alden pun tiba-tiba terbangun dan duduk dengan tegak. Ia menatap Kai dan Nino bergantian.
"Baiklah. Besok aku akan melamarnya," ucap Alden dengan mantap.
CATATAN:
Terima kasih kepada readers yang masih setia dengan novel ini, yang sudah membaca, memberikan like, komentar dan juga bintang 5 maupun hadiahnya. Mohon maaf karena author belum membalas komentar kalian satu persatu, bukan author sombong mungkin karena rutinitas author di real life sekarang bertambah. Author ingin memberitahukan jika Novel ini sebentar lagi akan tamat. Ikuti terus kisahnya ya. Jangan ke mana-mana 😁
Oh iya, author sudah menyediakan grup chat. Di sana nanti diberitahukan untuk karya selanjutnya yang akan author publish. Bila ingin masuk silahkan saja klik untuk masuk ya. 🤗🤗
__ADS_1