
3 tahun kemudian...
Meghan baru saja selesai dengan program studi kedokteran S1nya. Ia mengikuti wisuda dengan ditemani oleh keluarganya termasuk oleh Tifanny, Nino, David dan keponakannya Archie. Saat ini Archie sudah menginjak usia tiga tahun.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Nino yang melihat istrinya tengah hamil tua.
"Aku baik-baik saja," Tifanny menggandeng Nino untuk berjalan. Kakinya pun terlihat membengkak, karena usia kandungan anak keduanya sudah menginjak 9 bulan.
"Archie jangan menarik rambut Aunty!" David mengambil tangan Archie yang sedang menarik narik rambut Meghan.
Mereka pun masuk ke dalam aula universitas. Para wisudawan dan keluarga dipisah untuk tempat duduknya.
"Selamat ya? Akhirnya keinginanmu untuk menjadi dokter sebentar lagi tercapai," Tifanny memeluk adik kesayangannya.
"Terima kasih, kak," Meghan tersenyum bahagia. Ia pun melihat keadaan sekitar dan terlihat mencari keberadaan seseorang.
"Kau pasti mencari kak Aiden?" Nino menebak. Pasalnya sudah tiga tahun ini Meghan dekat dengan Aiden.
Meghan tidak diperbolehkan berpacaran oleh David sebelum dirinya menyandang gelar S1. David tidak ingin percintaan membuyarkan konsentrasi putrinya untuk belajar dan meraih mimpinya.
"Iya, paman ke mana ya?" Meghan memperlihatkan raut wajah yang kecewa.
"Hey, little girl!" Teriak seseorang dengan suara yang terengah-engah.
"Paman, kau datang?" Senyum Meghan mengembang melihat Aiden datang pada hari wisudanya.
"Tentu saja. Aku kan sudah berjanji akan datang. Dan satu lagi, sudah tiga tahun, tetapi kau masih memanggilku paman,'" Aiden mencebikan bibirnya.
Meghan pun tertawa melihat raut wajah pemuda yang ada di hadapannya.
"Untukmu!" Aiden memberikan sebuket bunga dan boneka yang memakai baju toga.
"Terima kasih, paman," Meghan menerima bunga dan boneka itu dengan bahagia.
"Aiden, terima kasih sudah datang pada hari wisuda Meghan," ucap David.
"Sama-sama, Om," Aiden tersenyum.
"Om, bolehkah aku mengajak Meghan makan siang setelah ini?" Harap Aiden kepada David.
__ADS_1
"Silahkan saja. Lagi pula kami akan berfoto studio esok hari," Tifanny menyela.
"Terima kasih, Fann," Aiden tersenyum tulus.
"Pa, Meghan sudah lulus sekarang. Berarti boleh kan ya?" Nino menoleh ke arah ayah mertuanya.
"Boleh apa?" David tampak tidak mengerti.
"Sudahlah nanti saja dibahasnya, Meghan pergi dulu!" Meghan menarik tangan Aiden dan berlalu dari sana.
"Kita akan ke mana?" Tanya Meghan saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kan aku sudah bilang untuk mengajakmu makan siang," jawab Aiden sembari melajukan mobilnya menembus jalanan kota Birmingham.
Akhirnya tempat yang mereka tuju pun telah terlihat di depan mata, Aiden memarkirkan mobilnya lalu keluar dari dalam mobil.
"Silahkan, tuan putri!" Aiden membukakan pintu mobilnya untuk Meghan.
"Terima kasih, paman," Meghan berucap dengan tulus.
"Paman lagi!" Gerutu Aiden. Meghan yang mendengar hanya tertawa dan terus berjalan ke dalam area restoran.
"Iya, masa iya tukang kebun universitas," ketus Aiden.
"Paman sedang PMS? Mengapa galak sekali dari tadi?" Meghan tergelak melihat ekspresi wajah Aiden.
"Kalau begitu, kau harus makan apa yang dipesan olehku."
Tak lama pesanan yang Aiden pesan saat reservasi pun datang.
"Apa tidak kebanyakan, paman? Kita kan hanya berdua?" Meghan melihat makanan yang memenuhi meja.
"Makanlah!" Ucap Aiden.
Meghan pun mulai menyendok makanan yang ada dan memakannya.
"Little girl?" Gumam Aiden yang masih terdengar oleh Meghan.
"Hemm?" Meghan masih mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Usiaku sudah tidak muda," Aiden memulai pembicaraan.
"Aku tahu. Paman sudah tua."
"Aku serius," Aiden menampakan wajahnya yang serius.
"Lalu?"
"Kau sudah lulus sekarang. Apakah aku bisa meminta jawabanmu sekarang?" Aiden menggenggam tangan Meghan.
"Sejujurnya aku tidak ingin berpacaran, paman!" Jawab Meghan setengah berbisik.
"Aku dan kakak pernah mengalami trauma. Trauma saat papa meninggalkan mama," lanjut Meghan lagi.
"Siapa yang akan memintamu untuk menjadi pacarku?" Aiden tersenyum. Ia merogoh sesuatu ke dalam saku jas yang ia kenakan.
"Aku memintamu untuk menjadi istriku," Aiden membuka kotak cincin yang ia ambil dari saku jasnya.
"Istri? Tapi aku belum jadi dokter," Meghan merasa bingung.
"Setelah menikah, kau bisa melanjutkan pendidikanmu untuk menjadi seorang dokter. Aku tidak akan mengekangmu," Aiden mengusap tangan Meghan.
"Tapi-" Meghan masih tampak bingung.
"Jadi, kau tidak mau? Apakah selama ini kau tidak pernah menyukaiku?" Kata Aiden dengan sedih.
Meghan pun terdiam dan tampak berpikir.
"Sepertinya aku tidak bisa, paman."
"Kenapa?" Tanya Aiden dengan suara yang tercekat.
"Karena kau malah melamarku secara langsung begini bukannya meminta restu pada papa," Meghan tersenyum.
"Jadi kau mau?" Aiden tersenyum senang.
"Iya. Tapi paman harus melamarku secara langsung kepada papa. Paman ini sudah berumur tapi malah mengenyampingkan hal penting seperti itu. Pintalah anak gadis kepada ayahnya!"
"Little girl, maafkan aku! Aku terlalu bersemangat. Besok aku akan menemui ayahmu," ujar Aiden dengan senyum yang tak memudar di wajahnya.
__ADS_1