Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Mengerjai


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Tifanny berjalan ke bagian tata usaha fakultas untuk menyimpan surat berisi permohonan izin penelitian.


"Anda saudari Tifanny Stuart?" Tanya seorang pria yang merupakan pekerja tata usaha.


"Iya, pak. Saya Tifanny," Tifanny merasa bingung.


"Ada surat untukmu. Kau bisa mengambil di rak surat," jawab pegawai tata usaha itu lagi.


"Surat apa ya, pak?" Tifanny semakin bingung.


"Lihat saja ya?"


"Baik, pak. Terima kasih," Tifanny segera berjalan ke arah rak surat yang berada di depan tata usaha fakultas.


Tifanny pun mengambil surat itu dan ia membaca mengenai surat keterangan dari dekan. Dekan mengganti dosen pembimbing Tifanny dari Mr. Anthony menjadi Mrs. Winny.


"Mengapa surat keterangan ini mendadak dan tanpa pemberitahuan kepadaku ya? Tapi baguslah, agar aku tidak dekat dengan Justin. Aku tidak ingin Nino salah paham," Tifanny tersenyum melihat surat keterangan yang dikeluarkan langsung oleh dekan.


Setelah dari tata usaha, Tifanny langsung masuk ke dalam kelasnya untuk mengikuti mata kuliah Metode Penelitian. Kebetulan yang mengajar adalah Justin.


Tifanny lagi-lagi heran karena melihat dosen yang masuk bukanlah Justin.


"Selamat pagi mahasiswa dan mahasiswi. Saya Mr. Patrick menggantikan Mr. Justin untuk mengajar kalian di mata kuliah Metodologi Penelitian. Mr Justin dipindah tugaskan dan ditarik untuk mengajar jurusan Keuangan. Jadi, dia sudah tidak mengajar lagi kelas jurusan Bisnis dan Manajemen" Dosen yang bernama Mr. Patrick memberitahukan.


Lagi-lagi Tifanny merasa lega, entah mengapa dia ingin sekali menjaga perasaan Nino.


Sementara itu di ruang kerjanya Nino tengah terduduk sambil membaca pesan Tifanny yang memberitahukan jika dosen pembimbingnya tiba-tiba diganti.


"Ini langkah pertama yang aku ambil Justin! Lihat saja langkah selanjutnya!" Nino tersenyum.


****


"Kebetulan dia di sini, aku akan mengerjainya sedikit," Alden tersenyum senang melihat Bianca. Ia seperti mendapatkan mainan baru.


"Hey wanita! Kau kenapa?" Alden menghadang jalan Bianca.


"Aku sedang mencari ponselku. Sepertinya terjatuh di sekitar sini," Bianca menjawab dengan panik. Dia tidak menyadari jika yang tengah berbicara dengannya adalah pria yang ia benci.


"Aku menemukannya. Aku sudah menyimpannya di dalam kamarku. Masuklah!" Alden membukakan pintu apartemennya.

__ADS_1


"Benarkah?" Raut wajah Bianca tampak lega mendengar ucapan Alden.


"Ayo masuklah!" Suruh Alden lagi.


Bianca pun langsung masuk ke dalam kamar apartemen Alden.


"Mana ponselku?" Tanya Bianca saat mereka sudah berada di dalam kamar.


"Itu di dalam aquarium itu!" Alden menunjuk aquarium yang tidak terisi air.


"Mengapa kau menyimpannya di sana?" Bianca bertanya dengan heran.


"Agar aman."


"Aku ambil ya?" Bianca mendekati aquarium itu dan langsung memasukan tangannya.


"Apa ini?" Bianca mengangkat sebuah benda yang bergerak berak.


Matanya pun membulat ketika melihat tangannya mengangkat seekor laba-laba yang cukup besar. Bianca berteriak dan melepaskan laba-laba itu dari tangannya. Kemudian Bianca meloncat-loncat untuk mengusir segala bentuk ketakutannya.


"Haha, rasakan itu!" Alden tertawa-tawa melihat Bianca yang ketakutan.


Bianca mengusir segala ketakutannya, kemudian dengan menyampingkan rasa takutnya, Bianca mengambil laba-laba itu. Ia mendekati Alden dan menarik bajunya.


"Hey, apa yang kau-"


Dengan cepat, Bianca memasukan laba-laba itu ke dalam baju Alden. Alden langsung membulatkan matanya saat melihat laba-laba itu masuk ke dalam bajunya. Alden pun berteriak dan menggerak gerakan bajunya agar laba-laba peliharaannya dapat keluar dari dalam baju yang tengah ia kenakan.


"Haha, rasakan itu!" Bianca tertawa melihat raut wajah Alden.


Bianca hendak pergi dari kamar Alden, tapi Alden langsung memeluknya dari belakang.


"Mau ke mana kau? Kau harus membayar karena telah menjahiliku. Ayo temani aku malam ini! Lebih baik melayaniku dari pada melayani om-om," Alden menjatuhkan Bianca ke atas kasur. Tentu saja Alden hanya ingin menakuti Bianca saja.


"Dasar pria kurang ajar!" Bianca segera bangkit dan menampar pipi Alden, kemudian Bianca menendang perut Alden hingga pemuda itu jatuh tersungkur ke atas keramik.


"Rasakan itu!" Bianca menatap Alden geram dan langsung berlari keluar.


"Kurang ajar!" Maki Alden.

__ADS_1


Tiga hari kemudian, Bianca dipanggil oleh kantor manajemen apartemen.


"Mengapa saya dipecat, pak?" Bianca menatap HRD tempatnya bekerja dengan terkejut.


"Karena anda sudah melakukan kekerasan kepada saudara Alden yang merupakan penghuni apartemen ini. Kami tidak bisa mentolerir segala bentuk kekerasan, apalagi itu dilakukan kepada mitra kami. Anda boleh keluar dan ini sedikit pesangon dari kami!" HRD memberikan amplop kepada Bianca.


"Tapi pak-"


"Mohon untuk tidak membuang waktu saya. Saya harus melakukan pekerjaan yang lain," nada bicara HRD itu mulai kesal.


Dengan pasrah, Bianca pun segera mengambil amplop itu dan keluar dari ruangan HRD.


"Alden, aku menbencimu!" Bianca berteriak sambil berjalan kaki.


Saat Bianca naik bus, ia mendapatkan telfon dari agen pencari asisten rumah tangga. Setelah kejadian di apartemen Alden, pagi harinya Bianca menemukan ponsel miliknya. Ponselnya ternyata diamankan oleh petugas keamanan apartemen. Bianca mendapatkan panggilan karena saat di kota Cambridge, Bianca memang melamar ke banyak perusahaan maupun agen.


"Ini panggilan wawancara? Baiklah, saya akan segera ke sana," Bianca tersenyum senang.


Bianca pun segera naik bus untuk datang ke agen khusus untuk menyalurkan asisten rumah tangga.


"Aku tidak peduli walaupun aku harus bekerja sebagai asisten rumah tangga, yang penting aku bisa mengirim uang untuk adik-adikku. Aku tidak boleh berdiam diri," Bianca tersenyum memandangi jalanan kota Birmingham dari kaca bus.


Sesampainya di tempat agen itu, Bianca langsung di wawancarai mengenai keterampilannya dalam mengurus rumah. Tak cukup sulit, Bianca dinyatakan diterima.


"Kebetulan hari ini ada yang memerlukan tenaga asisten rumah tangga. Kau bisa langsung bekerja hari ini. Ini alamat clien kita! Kami hanya sebagai petantara atau penyalur," Atasan Bianca memberikan secarcik kertas yang berisikan alamat majikan baru untuk Bianca.


"Terima kasih, Bu sudah menjadi perantara saya dalam mendapatkan pekerjaan. Kalau begitu saya permisi," Bianca menuduk sopan dan segera keluar setelah dipersilahkan.


"Semoga aku bekerja untuk orang yang tepat," Bianca tersenyum menatap alamat yang ada di tangannya.


Bianca turun di halte bus dan berjalan masuk ke dalam gerbang sebuah perumahan hunian kelas atas.


"Rumahnya mewah-mewah," Bianca takjub menatap rumah-rumah mewah yang terjejer di sisi kiri dan kanan.


"Sepertinya ini alamatnya!" Bianca memperhatikan rumah yang memiliki cerobong perapian lebih dari satu.


Bianca memencet bel, tak lama seorang pria membuka pintu rumah.


"Kau?" Keduanya berteriak saat melihat wajah satu sama lain.

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2