Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Pulang Kembali Ke Inggris


__ADS_3

Sesudah dari Cathedral Cove, Tifanny dan Nino memutuskan untuk pulang ke Inggris karena waktu liburan sudah berakhir. Musim panas akan segera berlalu, yang berarti Tifanny harus segera memulai kuliahnya. Nino sudah mendaftarkannya menjadi mahasiswa semester 7 di Jurusan Bisnis dan Manajemen. Sama seperti saat ia berkuliah di Harvard. Sementara Nino akan mulai bekerja di perusahaan ayahnya. Kepulangan Tifanny dan Nino disambut suka cita oleh semua keluarganya. Mereka berharap, Nino dan Tifanny segera diberikan keturunan.


"Kau siap? Ini hari pertamamu kuliah," Nino menatap Tifanny yang sudah berpenampilan rapi.


"No, aku deg-degan!" Tifanny menyentuh dadanya.


"Kau ini! Kau hanya akan kuliah saja. Ayo kita berangkat ke kampus!" Nino membawakan tas Tifanny seperti orang tua membawakan tas anaknya.


"Nino, aku bisa bawa sendiri," Tifanny tertawa melihat Nino yang membawa tasnya.


Lima belas menit kemudian mereka tiba di universitas tempat Tifanny akan menuntut ilmu.


"Semangat untuk hari pertamamu! Jangan nakal-nakal ya?" Ucap Nino saat Tifanny turun dari mobilnya.


"Iya. Kau juga semangat bekerja ya?" Tifanny melambaikan tangannya kepada Nino, kemudian ia segera masuk ke area kampus.


Tifanny langsung berjalan ke kelasnya. Tifanny mendudukan dirinya di deretan kursi pertama. Ia begitu bahagia bisa kuliah lagi. Mata kuliah pertama adalah mengenai Metodologi Penelitian.


Seorang dosen muda pun tampak masuk ke dalam kelas dengan begitu berwibawa. Tifanny langsung membulatkan matanya saat melihat dosen itu.


"Justin?" Gumam Tifanny saat melihat Justin adalah dosennya untuk mata kuliah Metodologi Penelitian.


"Selamat pagi semuanya!" Justin tampak membuka kelas. Ia memperhatikan semua mahasiswa dan mahasiswinya. Kemudian tatapannya terkunci saat melihat Tifanny. Justin tampak kaget bertemu dengan teman lamanya. Tifanny dan Justin memang berteman saat mereka kuliah di Harvard University.


Justin pun tampak bersikap profesional dan dia pun menjelaskan materi secara runtut dan jelas. Mata kuliah berakhir, Tifanny berjalan ke luar kelas dan memutuskan singgah di kantin untuk menunggu mata kuliah kedua yang akan diadakan satu jam lagi.


"Fann?" Justin mendatangi meja Tifanny dan duduk di depannya.


"Justin? Ku pikir kau sudah tidak mengenaliku."


"Masa iya aku tidak mengenalimu. Lama kita tidak bertemu, kau tambah cantik ya?" Justin tampak memperhatikan penampilan Tifanny.


"Biasa saja. Masih sama seperti dulu. Oh iya, kau tahu sekarang Elora di mana?"


"Elora di Amerika. Dia bekerja di World Bank. Kau sudah memiliki kekasih?" Tanya Justin lagi.

__ADS_1


"Syukurlah, aku senang Elora berhasil. Aku sudah menikah sekarang."


"Me-menikah?" Justin tampak terkejut.


"Iya. Aku sudah menikah. Kau sudah menikah?" Tifanny bertanya sekenanya.


"Belum," Justin menggelengkan kepalanya.


"Siapa suamimu?"


"Suamiku Nino."


"Nino si playboy teman kita saat kuliah?" Justin tercengang kembali mendengar perkataan Tifanny.


"Iya. Nino Walsh. Dia suamiku," Tifanny merasa risih saat Justin menyebut suaminya playboy.


"Aku tidak mengerti, Fann. Mengapa gadis baik-baik sepertimu mau dengan Nino pria tidak baik itu?" Justin bertanya dengan kesal.


"Justin, dia pria baik sekarang," Tifanny seolah tidak terima.


"Aku tidak bisa," Tifanny merasa Justin seperti bukan Justin yang dulu lagi.


"Baiklah. Apa boleh aku meminta nomor ponselmu?"


Tifanny tampak ragu untuk memberikan nomor ponselnya.


"Untuk keperluan perkuliahan," Justin berkilah.


"Baiklah," Tifanny pun memberikan nomor ponselnya.


***


"Kak, sedang apa kau di sini?" Tanya Alden yang muncul di belakang mereka dengan tiba-tiba.


"Alden, kakak tadi mencarimu. Tetapi kau tidak ada. Ternyata kau ada di sini. Kemarilah! Kita makan siang bersama," ajak Aiden ketika melihat adiknya.

__ADS_1


"Jadi, kalian adik kakak?" Tanya Bianca tidak percaya. Bagaimana bisa seorang pria menyebalkan seperti Alden memiliki kakak sebaik Aiden, begitu pikirnya.


"Bukan urusanmu!" Alden menatap Bianca dengan tidak ramah.


"Kak, sedang apa kau di sini bersamanya? Kau sedang bertransaksi dengannya?" Alden menatap sinis kepada Bianca.


"Bertransaksi? Maksudnya?" Aiden tampak tidak mengerti. Begitu pun dengan Bianca.


"Ya, dia kan wanita simpanan sugar daddy, kak. Kali saja kakak ingin menyewanya juga," Alden menarik sudut bibirnya ke atas.


"Jaga bicaramu!" Aiden tampak tidak terima.


"Kakak akan mengkhianati Cassie dengan wanita seperti ini? Sampah dibandingkan dengan berlian," Alden tertawa mengejek.


"Apa salahku padamu?" Bianca bangun dari duduknya. Ia menatap Alden dengan geram.


"Simpanan sugar daddy? Jaga mulutmu jika tidak ingin ku robek!" Bianca menunjuk wajah Alden.


"Memang benar kan? Aku melihatnya langsung!" Alden menantang.


"Kau benar-benar pria gila! Tidak mengenalku tetapi kau menuduhku yang tidak tidak," nada bicara Bianca tampak berapi-api.


"Alden, minta maaf pada gadis ini!" Aiden berdiri dari duduknya.


"Untuk apa aku meminta maaf pada dia, kak? Seperti tidak ada pekerjaan saja."


"Minta maaf atau kakak laporkan kepada mama!" Aiden meninggikan suaranya.


"Aku tidak mau. Menjijikan sekali harus minta maaf padanya. Kakak tidak tahu kan kelakuannya? Dia pernah menyiram wajahku kak. Sudahlah, aku pergi saja dari pada melihat kalian!" Alden bergegas meninggalkan mereka.


"Bianca, maafkan adikku! Dia memang seperti itu," Aiden tampak tidak enak hati.


"Tidak apa-apa. Aiden aku senang bertemu denganmu. Terima kasih untuk traktir makan siangnya ya. Aku pergi dulu!" Bianca langsung pergi meninggalkan Aiden.


"Simpanan sugar daddy? Aku pikir dia gadis yang sangat baik," Aiden menatap punggung Bianca yang menjauh.

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2