Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Salah Strategi


__ADS_3

Musim dingin sudah terlewati dan digantikan dengan musim semi. Suhu udara pun perlahan menghangat ke titik 13 derajat celcius. Nino sedang mengemas barang-barang yang akan ia bawa hari ini. Nino berencana membawa keluarganya untuk menikmati musim semi.


"Kak, sebenarnya kita mau ke mana?" Tanya Meghan dengan bingung.


"Kakak ingin mengajak kak Fanny, kau dan papa berlibur menikmati musim semi," Nino memasukan makanan ke keranjang piknik.


"Biar papa bantu," David mengambil tikar dan memasukannya ke dalam bagasi mobil.


Setelah cukup bersiap, Nino masuk kembali ke dalam kamarnya. Ia masih melihat Tifanny yang terlelap tidur. Di masa-masa kehamilannya, Tifanny memang tampak menjadi sering tidur.


"Sayang, bangun!" Nino mengusap pipi Tifanny yang masih terlelap.


"Ada apa? Aku masih mengantuk," jawab Tifanny dengan suara yang serak.


"Ayo kita pergi piknik dan menikmati musim semi!" Nino berbisik.


Tifanny pun langsung membuka matanya ketika mendengar perkataan Nino.


"Kau bilang piknik?" Tifanny bertanya dengan gembira.


"Iya, sayang. Ayo kita piknik! Kau mau kan?" Nino merapikan rambut Tifanny yang berantakan.


"Aku mau," Tifanny mengangguk dengan cepat.


"Kalau begitu bersiaplah!" Nino berdiri dan mengambilkan handuk kimono untuk istrinya.


Tifanny langsung mengambil handuknya dengan cepat. Ia pun masuk ke kamar mandi dengan terburu buru karena saking bersemangat.


"Hati-hati, sayang! Nanti kau terpeleset," seru Nino yang melihat istrinya setengah berlari masuk ke dalam kamar mandi.


"Aku tunggu di bawah ya?" Nino berteriak.


Nino pun berkumpul bersama Meghan dan juga David di ruang tengah. Tak lama, Tifanny pun turun dengan wajah yang ceria.


"Sayang, kita akan ke mana?" Tanya Tifanny kepada Nino yang masih terduduk di sofa.


"Kau ingin ke mana, sayang?" Nino balik bertanya.


"Aku ingin pergi melihat lumba-lumba di Skotlandia. Musim semi seperti ini mereka akan terlihat di perairan Skotlandia," jawab Tifanny dengan riang.


"Sayang, Skotlandia sangat jauh. Bagaimana jika kita melihat bunga Camelia dan Magnolia bermekaran saja sembari menikmati bekal yang kita bawa?" Nino berkata dengan hati-hati. Ia takut istrinya akan marah padanya karena wanita hamil biasanya akan lebih sensitif.


"Baiklah, ke mana saja asal tidak di rumah," Tifanny menyetujui.


"Ayo Meghan kita masuk mobil!" Tifanny menggandeng tangan Meghan dan meninggalkan Nino dan David yang masih terduduk.

__ADS_1


"Pa? Mengapa masa kehamilan Tifanny sangat tenang ya?" Nino menoleh ke arah ayah mertuanya.


"Tifanny memang tidak suka merepotkan orang lain. Papa yakin dia pun memiliki keinginan, tetapi dia menahannya karena takut merepotkanmu. Ibunya pun seperti itu. Merasa tidak suka merepotkan orang lain termasuk kepada papa," David tersenyum.


"Ternyata kebaikannya menurun dari mama ya, Pa?" Nino tersenyum. Ia bersyukur Tifanny sangat penurut dan tidak meminta yang tidak-tidak.


"Kalau begitu ayo kita berangkat!" David beranjak dari duduknya.


****


Alden mulai menjalankan saran dari Kai. Ia tidak mengejar-ngejar Bianca lagi. Alden pun tidak menelfon dan mengganggu gadis itu seperti biasanya. Ia ingin trik yang diberikan oleh Kai berhasil.


Satu hari sudah terlewati, Alden tidak keluar dari kamarnya sama sekali. Meskipun begitu, hatinya sangat ingin menemui Bianca.


"Aku harus tahan. Ini baru sehari. Setelah ini aku akan mendapatkannya," gumam Alden sembari mengoper channel televisi yang tengah ia tonton.


Alden terus memindahkan dari satu channel ke channel lainnya. Matanya menatap televisi tetapi pikiran dan hatinya dipenuhi dengan gadis yang bernama Bianca.


"Gila!! Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya," Alden melemparkan remote televisi yang sedang ia pegang.


"Tapi aku harus kuat. Setelah ini aku akan memetik hasil yang manis," Alden tersenyum ketika membayangkan Bianca menerima cintanya.


Sementara itu, Bianca merasa heran karena seharian ini Alden tidak datang menemui dan mengganggu seperti biasanya.


"Dia juga tak ada menghubungiku seharian ini," Bianca melihat layar ponselnya. Tidak ada panggilan video, panggilan suara maupun chat yang dikirimkan Alden kepadanya. Setelah Alden berhasil mendapatkan nomor Bianca yang baru, pemuda itu memang sangat suka menghubungi Bianca walau tak jarang Bianca membiarkan panggilannya.


"Alden, kau membuatku khawatir," Bianca menghembuskan nafasnya gusar.


Bianca mengetik sebuah pesan teks di aplikasi chatting berwarna hijau.


"Apa kau baik-baik saja?" Ketik Bianca. Tetapi ia tak kunjung mengirim pesan itu ke nomor Alden. Bianca merasa ragu, apa ia harus mengirimkan pesan itu atau tidak?


Alden yang sedang membuka chatnya bersama Bianca pun tersenyum ketika melihat keterangan "mengetik".


"Aku ingin tahu dia mengirim pesan apa. Apa pesannya berbunyi Alden aku merindukanmu. Ah tidak tidak. Sepertinya pesannya adalah Alden aku sepi tanpamu dan aku ingin bersamamu. Kai, kau memang sahabatku, saranmu sangat jitu!" Alden tertawa sendirian di dalam kamar.


"Anakmu kenapa?" Tanya Hannah yang sedang menguping aktifitas anak bungsunya di dalam kamar.


"Apa dia masih sehat?" Steve menempelkan telinganya di pintu kamar Alden.


"Seharian anak itu tidak keluar kamar. Aku heran, apa yang dilakukannya di dalam. Biasanya dia akan pergi dari pagi sampai malam hari. Aiden bilang dia sedang mengejar Bianca," bisik Hannah pada suaminya.


"Semoga saja putraku benar-benar berubah karena Bianca," harap Steve. Steve memang ingin melihat putranya berubah karena Kai dan Nino pun sudah mendapatkan pasangan dan memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Steve ingin Alden pun seperti Nino dan Kai. Menjadi dewasa dan memiliki keluarga yanh bahagia.


Bianca yang sudah mengetik pun menghapus pesan yang akan dikirimkan kepada Alden.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak boleh mencarinya. Untuk apa? Dia pasti sedang bersenang-senang dengan wanita lain," Bianca menaruh kembali ponselnya di atas nakas.


"Mengapa tidak ada pesan? Bianca tidak jadi mengirimkanku pesan?" Alden menatap layar ponselnya terus menerus.


"Tidak boleh. Tidak bisa seperti ini. Bianca harus merindukanku. Tadi dia sudah mengetik," Alden merengek sendirian di dalam kamar.


"Aku merinding," Hannah bergidik ngeri mendengar suara rengekan putra bungsunya.


"Sudahlah, biarkan saja dia!" Steve meninggalkan pintu kamar Alden.


"Tadi hampir berhasil. Walaupun Bianca tidak mengirimkanku pesan, tetapi dia pasti merasa kehilanganku. Oke, aku akan melanjutkan ini semua," Alden tersenyum.


Seminggu sudah terlewati, tetapi Bianca tak kunjung mencari keberadaan Alden. Sebenarnya Bianca sangat kehilangan perhatian dari pemuda itu, tetapi ia tidak boleh mencarinya.


"Jadi, hanya itu perjuanganmu? Aku rasa dia sudah lelah dan menyerah mendekatiku," Bianca membaringkan tubuhnya di kamar. Entah mengapa hatinya sangat kecewa karena Alden tak menunjukan batang hidungnya selama tujuh hari ini. Sekedar mengirimkan pesan padanya pun tidak.


"Aku merindukanmu," gumam Bianca. Ia pun menutup matanya dan berusaha untuk tertidur.


Di lain tempat, Alden merasa saran yang Kai berikan sudah tidak menunjukan peningkatan apapun. Malah itu membuat hubungannya dengan Bianca merenggang.


"Aku tidak kuat. Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku merindukan Bianca," Alden menyabet mantelnya yang tergantung. Kemudian ia berlari dan masuk ke dalam mobil.


Tengah malam, Alden melajukan mobilnya menuju kediaman Bianca.


"Kai, saranmu benar-benar payah! Bukan Bianca mencariku, tapi malah aku yang menderita," Alden menggerutukan giginya menahan kesal.


Tak lama kemudian, Alden sampai di depan rumah Bianca. Alden berlari dengan cepat menuju pintu. Ia mengetuk pintu dengan sangat keras.


"Ca! Buka!" Alden berteriak. Ia seperti tengah menggerebeg pelaku kejahatan.


"Ca, buka! Atau aku dobrak!" Alden berteriak.


Bianca yang baru memejamkan matanya pun sudah pergi ke alam mimpi. Lelahnya hari ini mencari kerja menjadi faktor Bianca begitu pulas di dalam tidurnya.


"Apa dia sudah tidur?" Alden berlari ke arah jendela kamar yang Bianca tempati.


Alden berdiri di depan jendela yang gordennya terbuka. Ia melihat Bianca tengah tertidur dengan sangat nyenyak.


Alden menyentuh kaca itu. Ia memperhatikan raut wajah damai gadis yang kini memenuhi hari-harinya.


"Ca, aku merindukanmu! Aku benar-benar merindukanmu," bisik Alden sembari menatap Bianca dari kaca.


Note : Jangan lupa mampir di novel author satu lagi ya, judulnya Pernikahan Karena Dendam 😘


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...

__ADS_1


__ADS_2