
David langsung pergi ke kota Cambridge untuk mencari kedua anaknya. Ia berfikir jika Tifanny dan Meghan masih ada di kota itu. Setiap hari, ia selalu mendatangi rumah Bobby dengan harapan pria itu mau memberi tahu keberadaan kedua anaknya.
"Mari kita bicara!" Kata David kepada Bobby yang baru membuka pintu.
"Baiklah," Bobby mengalah. Mereka pun langsung duduk di kursi yang ada di halaman rumah Bobby.
"Di mana putriku?" Tanya David langsung pada inti permasalahan.
"Aku bilang mereka sudah tidak tinggal bersamaku," jawab Bobby dengan raut wajah yang dingin. Ia begitu membenci mantan kakak iparnya itu karena sudah menelantarkan Tifanny dan Meghan bertahun-tahun lamanya.
"Aku mohon, Bob! Aku ayahnya," David memelas kepada Bobby.
__ADS_1
"Sekarang kau baru berkata jika kau ayahnya? Ke mana saja kau selama tiga tahun ini?" Bobby tersenyum seakan senyumannya itu meledek David yang duduk di hadapannya.
"Selama tiga tahun ini aku mencari keberadaan mereka."
"Mencari? Kau tidak serius dalam mencari anakmu. Jika kau seorang ayah yang bertanggung jawab, harusnya kau dapat menemukan mereka saat tahun pertama mereka pergi. Harusnya kau langsung pindah ke negara ini dan lebih keras mencari mereka," Bobby meninggikan suaranya.
"Mengapa kau sangat emosional? Ini urusan keluargaku!" David menajamkan alisnya.
"Sangat emosional? Tentu ini juga masalahku. Kau tidak tahu bagaimana kehidupan kedua putrimu selama ini? Selain putus kuliah, Tifanny mencari uang untuk kebutuhan adiknya yang seharusnya kau yang penuhi!"
David tampak terkejut mendengar ucapan Bobby. Selama tiga tahun ini dia tidak pindah ke Inggris, karena David pikir Bobby bisa mencukupi segala kebutuhan kedua anaknya.
__ADS_1
"Kau dan keluargamu hidup bergelimang harta di Amerika Serikat. Tapi putri sulungmu harus banting tulang bekerja untuk adiknya. Sekarang pun dia bekerja sebagai seorang pengantar pizza. Kau tidak tahu bagaimana kerasnya hidup mereka!"
"Aku tidak tahu keadaannya akan begini. Tolong Katakan padaku di mana kedua putriku!" David menitikan air matanya.
"Semua sudah terlambat. Mereka sudah hidup tenang tanpamu sekarang. Kehadiranmu hanya akan membuka luka mereka kembali terbuka. Biarkan keponakanku hidup dengan tenang!" Bobby berbicara dengan tegas.
"Aku ayahnya! Aku berhak untuk kedua putriku! Aku berhak untuk hidup dengan mereka!" David berteriak.
"Seharusnya itu kata yang kau ucapkan dari dulu. Sekarang semuanya sudah terlambat. Mereka sudah bisa hidup dengan baik. Tidak akan ada yang suka memukul Tifanny lagi," Bobby menyindir kelakuan David yang selalu memukul putrinya.
"Aku tahu selama ini aku salah. Aku mohon katakan di mana keberadaan kedua anakku. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya! Yang aku inginkan sekarang adalah bersama dengan mereka. Aku berjanji tidak akan memukul Fanny lagi," David memohon dengan isak tangis.
__ADS_1
"Meghan dan Fanny bernasib buruk karena memiliki ayah sepertimu. Kau mengkhianati ibu mereka, lalu kau menikahi wanita yang Fanny dan Meghan benci. Kau dan istrimu pun memperlakukan mereka begitu buruk, seakan-akan mereka adalah benalu di keluargamu. Aku tidak akan pernah memberitahukan keberadaan mereka. Aku ingin kedua keponakanku hidup damai dari pada di sakiti terus oleh ayah kandung mereka," Bobby berdiri dan langsung masuk ke dalam rumahnya.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih.😊😊...