
Nino dan Tifanny langsung mengurus kepindahannya ke rumah baru yang ada di lingkungan perumahan Boston Villages. Arley dan Eliana tidak bisa membantu kepindahan anak dan menantunya, karena mereka harus langsung pergi ke kota Brusel untuk mengurus bisnis yang ada di sana.
"No, aku bantu!" Kai yang rumahnya berada di samping rumah Nino membantu menurunkan barang.
"Biar aku saja Kai. Kau pun baru pindah lagi kan ke rumahmu?" Nino merebut dus yang Kai pegang. Selama ini Kai memang tinggal di rumah kedua orang tuanya karena istrinya tengah hamil.
"Tidak apa-apa," Kai membantu membawa dus yang lain.
"Alula mana?" Tanya Nino saat mereka memindahkan barang bersama.
"Sedang tidur bersama Jasper. Dia tidak tahu kau pindah hari ini," Kai menyimpan barang Nino di teras.
"Bagaimana? Apakah semalam sukses?" Goda Kai saat mereka sudah selesai membereskan barang. Kini Kai dan Nino terduduk di kursi yang ada di teras rumah.
"Sukses apanya?" Nino meminum cokelat hangat yang ada di atas meja.
"Masa kau tidak mengerti," Kai mendelik kesal.
"Oh itu. Belum, aku belum melakukannya," jawab Nino jujur.
"Segeralah bawa Tifanny bulan madu! Di sana hubunganmu dengan dia akan semakin dekat. Percayalah padaku! Aku pernah mengalaminya," Kai ikut meminum cokelat hangat yang ada di atas meja.
"Benarkah hubungan kita akan lebih dekat jika pergi bulan madu?" Nino tampak ragu.
"Benar. Dulu hubunganku dan Alula sangat dingin, kau pun tahu bagaimana awal-awal pernikahan kami. Hubungan kami dekat semenjak pergi bulan madu. Pergilah berbulan madu!" Titah Kai sekali lagi.
Nino tampak menimbang-nimbang.
"Baiklah, Kai. Aku akan pergi bulan madu dengan Tifanny. Tapi ke mana ya?" Nino tampak bingung.
"Terserah kau saja. Ke luar negeri lebih bagus," Kai memberikan saran.
"Baiklah, akan aku pikirkan," Nino menyeruput cokelat hangat di gelasnya sampai tandas.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya? Aku takut Alula bangun dan mencariku. Nanti aku dan Alula akan mengunjungimu lagi," Kai bangkit dari duduknya.
"Iya, Kai. Terima kasih sudah membantuku pindahan rumah."
"Iya," Kai tersenyum dan langsung pulang ke rumahnya yang ada di sebelah rumah Nino.
"Kai, sudah pulang?" Tifanny mencari keberadaan Kai.
"Dia sudah pulang," Nino berdiri dari duduknya.
"Maaf ya aku tidak membantumu memindahkan barang, tadi aku mengepel dulu lantai dan membersihkan semua debu yang ada di kamar."
"Tidak apa, memang itu sudah menjadi tugasku. Terima kasih ya sudah membersihkan rumah?" Nino mengusap rambut Tifanny sambil tersenyum.
"Papa mana?" Tanya Nino.
"Papa sudah berada di kamarnya. Sedang bersama Meghan. Ayo kita masuk!" Tifanny menarik tangan Nino masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Malam harinya.....
Tifanny sedang menikmati udara malam di jendela kamarnya. Nino mendekati Tifanny dan memeluknya dari belakang.
"Fann?" Bisik Nino di telinga istrinya.
"Iya?" Jawab Tifanny dengan gugup.
"Aku ingin kau melanjutkan kuliah lagi."
Tifanny langsung membalikan tubuhnya menghadap Nino.
"Aku sudah tidak ingin kuliah lagi," Tifanny berkata dengan sedih.
"Tidak ada kata terlambat. Aku ingin kau melanjutkan lagi kuliah. Aku akan mengurus kepindahanmu dari Harvard University ke Birmingham University. Kau masih terdaftar sebagai mahasiswa di sana. Nanti kau mengulang lagi dari semester 7. Ya?" Nino mencoba membujuk.
"Apakah aku bisa?" Tifanny tampak ragu.
"Tentu saja bisa. Kau dulu mahasiswi yang rajin. Ingat papamu! Kau ingin membahagiakannya bukan?" Nino membujuk sekali lagi.
Tifanny tampak berfikir.
"Baiklah. Aku akan kuliah lagi. Lalu, bagaimana denganmu?"
"Aku akan bekerja di perusahaan Daddy untuk menafkahimu, papa dan Meghan. Bagaimana pun aku sekarang kepala keluarga dan tidak boleh mengandalkan uang dari kedua orang tuaku lagi," Nino menyempilkan rambut Tifanny ke belakang telinganya.
"Terima kasih ya?" Tifanny tampak terharu dengan pemikiran Nino. Ia seperti tidak melihat Nino yang dulu. Nino yang gemar berpesta saat di Amerika kini sudah bertransformasi menjadi Nino yang dewasa.
Tifanny pun mengangguk. Bagaimana pun ia memang sudah menjadi seorang istri.
Nino menutup matanya dan memajukan wajahnya. Tifanny pun ikut menutup matanya.
"Kakak?" Meghan menggedor pintu kamar Tifanny.
Nino dan Tifanny langsung terlonjak kaget mendengar suara ketukan pintu yang lumayan keras.
"Sebentar, aku buka dulu pintunya!" Tifanny berjalan membuka pintu.
"Ada apa Meghan?" Tanya Tifanny kepada adiknya.
"Kakak, Meghan tidak bisa tidur. Barusan Meghan menonton film The Exorcist. Seram sekali! Meghan ingin tidur dengan kakak ya?" Meghan langsung memeluk kakaknya.
Tifanny langsung menoleh ke arah Nino.
"Tidak apa-apa. Malam ini tidurlah dengan Meghan!" Ucap Nino lembut.
"Benar tidak apa-apa?" Tifanny menatap wajah Nino dengan perasaan tidak enak.
"Iya, tidak apa-apa," jawab Nino lagi.
"Baiklah, aku tidur di kamar Meghan malam ini ya?" Tifanny berjalan ke luar dari kamarnya.
__ADS_1
"Aku harus benar-benar membawa Tifanny bulan madu," Nino mengusap wajahnya. Lalu ia segera mengambil ponselnya di atas nakas. Nino langsung menelfon asisten ayahnya agar mengurus visa untuk keberangkatannya ke luar negeri.
****
Alden mencari keberadaan kakaknya di bandara, tetapi Aiden belum terlihat.
"Kakak ke mana sih?" Alden berkata dengan kesal.
"Hey adik kecilku!" Aiden tiba-tiba muncul di belakang Alden.
"Kau lama sekali!" Alden menggerutu.
"Maaf!" Aiden tertawa melihat wajah Alden.
"Ayo pulang!" Ajak Alden dengan dingin. Alden memang tampak selalu merenggangkan hubungannya dengan Aiden. Aiden lebih tua tiga tahun dari Alden.
Sepanjang perjalanan, Alden hanya diam dan tidak berkata sepatah kata apapun kepada Aiden. Tidak terasa mobil yang mereka tumpangi tiba di kediaman kedua orang tuanya. Alden langsung ke luar dan masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Aiden.
"Anak itu tidak berubah!" Aiden menggelengkan kepalanya. Ia pun langsung ke luar dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam rumah.
"Aiden sayang?" Hannah, ibu dari Alden dan Aiden menyambut kedatangan putra sulungnya.
"Ayo sayang mama bawakan kopermu!" Hannah menggusur koper milik Aiden.
"Aiden, putra papa yang hebat!" Steve langsung memeluk putra pertamanya.
"Ayo kita makan malam bersama! Kau pasti lapar," ajak Hannah.
Mereka pun terduduk di kursi meja makan untuk makan malam. Tampak Alden juga sudah ikut terduduk di meja makan.
"Bagaimana bisnismu di Amerika?" Tanya Steve dengan bangga.
"Semua baik dan berjalan lancar, Pa. Perusahaanku tambah besar karena mendapat sokongan dana dari pengusaha-pengusaha terkenal yang ada di Amerika," jawab Aiden.
"Papa bangga padamu. Nah Alden tiru kakakmu ini! Kerjaanmu hanya pesta, pesta dan pesta. Kapan kau akan berhasil seperti kakakmu? Jangan jadi anak tidak berguna!" Seru Steve kepada Alden.
"Iya, contohlah kakakmu! Berhentilah bermain-main! Kakakmu sudah menjadi orang sukses, harusnya kau malu masih bermain-main!" Hannah menimpali.
Alden yang sedang memakan makanannya pun tampak kesal dengan perkataan kedua orang tuanya.
"Oh iya, bagaimana hubunganmu dengan Cassie?" Tanya Steve kepada Aiden.
Alden yang tengah mengunyah langsung menghentikan makan malamnya ketika mendengar nama Cassie disebut.
"Baik. Aiden akan segera melamar Cassie," sahut Aiden dengan mantap.
"Aku kenyang!" Alden mendorong piringnya dan langsung naik ke atas tangga untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Shit!" Umpat Alden saat ia sudah berada di dalam kamarnya.
Cassie adalah perempuan pertama yang Alden cintai, tapi Cassie tidak memiliki perasaan apapun kepadanya dan malah jatuh cinta kepada Aiden. Singkat cerita Cassie pun berpacaran dengan Aiden, bahkan hubungan mereka sudah terjalin lebih dari lima tahun. Itulah mengapa Alden tidak pernah berusaha dekat dengan Aiden, terlebih kedua orang tua mereka sering membanding-bandingka Alden dan Aiden. Aiden yang selalu dibangga-banggakan dan Alden yang selalu di anggap sebelah mata oleh kedua orang tuanya.
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...