
Pagi harinya Alden melakukan panggilan video lagi kepada sahabat-sahabatnya.
"Hey, bagaimana? Apa kalian sudah merencanakan sesuatu untuk pesta lajangku?" Tanya Alden dengan narsis.
"Kita akan melangsungkan pestanya di mana?" Kai bertanya dengan mimik wajah yang serius.
"Di rumahku tidak bisa. Ada istriku yang sedang hamil, ada mertua dan juga adik iparku," Nino lebih dulu melakukan penolakan jika rumahnya dijadikan sebagai tempat pesta.
"Ya itu sulit. Kalau begitu di rumah Kai saja. Ungsikan Alula dan kedua anakmu dulu ya?" Alden menggerak-gerakan alisnya.
"Tidak usah di ungsikan. Memang Alula dan kedua anakku sedang di rumah mommy. Alasannya agar mommy bisa membantu mengurus Kimberly," jawab Kai.
"Nah bagus, Kai! Jadi, kita bisa membuat pesta lajangku di rumahmu," Alden tersenyum senang.
"Baiklah. Nanti aku izin dulu pada istriku. Aku harus memberikan alasan yang bagus agar dia mengizinkanku."
"Aku akan berbicara langsung kepada Alula agar dia mengizinkanmu," Alden tampak sangat bersemangat.
"Baiklah. Ku rasa itu ide bagus," Kai menyetujui.
Alden pun mengakhiri panggilan video grupnya di pagi itu. Ia pun langsung menelfon istri Kai agar Kai diizinkan untuk pulang ke rumahnya yang ada di rumah sebelah Nino.
"Ayolah, Al! Kau tidak kasihan pada temanmu yang fakir cinta ini? Pernikahanku hanya sekali seumur hidup lho. Masa iya sahabat-sahabatku tidak merayakannya," Alden memasang wajah memelas saat ia melakukan panggilan video kepada Alula, istri dari Kai.
"Benar kau akan menikah sekali seumur hidup?" Alula tampak tidak percaya.
"Benar. Aku tidak berbohong. Jika aku berbohong, belah saja dada Kai! Aku sampai menunda foto preweddingku agar bisa berkumpul bersama suamimu dan Nino. Kau tidak kasihan kepadaku?" Celoteh pria berambut blonde itu.
Alula pun tampak berpikir. Ia pun pernah melalukan pesta bridal shower untuk sahabatnya yang akan menikah. Alula pikir itu sangat menyenangkan, menghabiskan semalam suntuk bersama sahabat yang kita sayangi. Apalagi Kai akhir-akhir ini kurang tidur karena menemani Alula untuk menjaga kedua anaknya.
"Baiklah. Aku mengizinkan. Asal jangan ada wine di rumahku ya?" Alula memberikan persyaratan.
"Nah begitu dong. Pasti. Aku sudah tidak tertarik kepada wine," Alden menyanggupi persyaratan yang dibuat istri sahabatnya itu.
"Baiklah. Bye, Al!" Alden mengakhiri panggilan videonya.
Jika Kai sudah mengantongi izin dari istrinya, lain halnya dengan Nino. Ia merasa cemas karena mood Tifanny akhir-akhir ini sedang tidak baik.
"Aku harus berbicara kepada Tifanny sepulang kerja nanti," Nino menaruh ponselnya.
Sore harinya....
"Sayang, kau sudah pulang? Bagaimana dengan staff di kantor? Apa sudah diwajibkan semua memakai rok minimal selutut?" Sambut Tifanny saat Nino sampai di rumah.
"Sudah, sayang. Aku sudah mengedarkan surat berisi aturan memakai rok minimal selutut," jawab Nino sambil memeluk istrinya.
"Nah itu suamiku," Tifanny mengecup pipi Nino.
"Sayang?" Nino melepaskan pelukannya.
"Ada apa?" Tifanny memperhatikan mata biru suaminya yang sedang terlihat ragu.
"Aku ingin meminta izin," Nino memelankan suaranya.
"Jangan bilang kau meminta izin untuk menikah lagi!" Tifanny meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Sayang, mengapa kau berpikir ke arah sana? Terpikir di otakku saja tidak," Nino dengan buru-buru mengambil tangan istrinya.
"Lalu, kau meminta izin untuk apa?" Tifanny tampak tidak sabar.
"Aku ingin meminta izin untuk mengadakan pesta lajang untuk Alden. Kami sepakat untuk membuat pesta di rumah Kai," jelas Nino dengan suara yang takut.
"Benar hanya itu?" Tifanny menatap Nino dengan penuh selidik.
"Tentu saja. Hanya itu."
"Baiklah, aku mengizinkanmu. Asal jangan macam-macam! Pertama jangan membawa wanita, kedua tidak boleh ada alkohol dan jangan melakukan hal yang tidak-tidak!" Tifanny mengeluarkan aturannya.
"Tentu saja, sayang. Untuk apa kami membawa wanita? Aku sudah memilikimu, Kai sudah menikah, Alden juga akan menikah. Untuk apa kami membawa wanita? Dan untuk alkohol, kami tidak akan meminumnya. Percayalah!" Nino tersenyum.
"Iya. Aku percaya padamu. Kalau begitu ayo ganti bajumu dan kita makan malam bersama!" Tifanny menggandeng tangan suaminya menuju kamar.
****
Keesokan harinya...
Alden dan Nino sudah sampai di rumah Kai. Kai menyambut mereka dengan baju santainya.
"Jadi, mana dekorasi untuk pesta lajangku?" Alden memperhatikan rumah Kai yang tampak seperti biasanya.
"Tidak ada dekorasi. Kau pikir kita akan mengadakan bridal shower seperti yang dilakukan para gadis?" Kai mendelik ke arah Alden.
"Kai benar. Mengapa kau sangat childish?" Nino tertawa.
"Ah, tidak seru. Harusnya rumahmu di dekor dengan dekoran meriah lalu ada foto-foto kita bertiga terpajang dengan sangat banyak. Lalu, aku akan terkejut dan terharu melihat itu semua," Alden berkata dengan kecewa.
Alden pun masuk dengan wajah yang murung. Kai memandu mereka menuju ruang makan.
"Ayo makanlah! Aku sudah memasak untuk kalian," Kai mendudukan dirinya di kursi makan.
"Benar kau yang masak? Aku rindu masakanmu," Alden tersenyum. Moodnya seolah membaik karena Kai sudah menghidangkan masakan dengan tangannya sendiri.
"Iya. Aku yang memasak spesial untuk kalian. Makanlah!" Kai menyalakan lilin-lilin di meja makan agar terlihat lebih berwarna.
Mereka bertiga pun makan disertai dengan canda tawa.
"Kai, setelah ini kita akan melakukan apa?" Tanya Nino sambil membereskan piring-piring kotor bekas mereka makan
"Setelah ini ayo kita menonton film!" Ajak Kai dengan sukacita.
"Baiklah. Dipikir-pikir pesta kita seperti perayaan pesta anak kecil ya? Bachelor Party/pesta lajang biasanya identik dengan hal-hal yang bersifat bebas. Ya, kau tahulah. Pesta lajang kan dianggap sebagai kebebasan terakhir untuk mempelai pria," ucap Alden sambil menoleh ke arah kedua sahabatnya.
"Biar saja seperti ini. Aku tidak mau mengulang hal yang dulu. Minum wine, ke bar. Itu sudah bukan kehidupanku," timpal Nino.
"Nino benar. Itu juga sudah bukan kehidupanku," Kai mendukung.
"Aku harap kau pun sama. Tinggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat seperti itu! Setelah menikah habiskanlah waktumu dengan istrimu!" Kai bangkit dari duduknya.
"Baiklah," Alden tersenyum mendengar petuah kedua sahabatnya.
Kai memandu mereka menuju ruangan khusus untuk menonton film.
__ADS_1
"Kau ingin menonton apa?" Tanya Kai saat ia menyiapkan peralatan untuk menonton film.
"Aku ingin film Tom And Jerry. Bagaimana?" Lanjut Kai.
"Aku ingin Spongebob Squarepants saja atau Dorameon boleh," Nino menjawab dengan antusias.
"Sekalian saja kita menonton petualangan putri-putri Disney," Alden berkata dengan kesal.
"Jadi, kau ingin menonton apa?" Nino bertanya kepada Alden.
"Aku ingin menonton film horor saja. Sepertinya seru," Alden memberikan ide.
"Tidak. Aku suka bermimpi buruk jika menonton film horor," Nino menolak.
"Aku berikan opsi tengah saja. Kita menonton film Minion saja. Bagaimana?" Kai memberikan ide.
"Baiklah. Itu saja," Nino tersenyum senang.
Alden pun hanya pasrah karena dirinya kalah jika harus berdebat 1 lawan 2.
"Ini benar-benar pesta lajang yang paling unik yang pernah ada," ucap Alden saat mereka sudah selesai menonton.
"Kita seperti anak TK saja," lanjutnya.
"Ayo kita bermain game saja!" Nino memberikan ide.
"Game apa?" Kai tampak penasaran.
"Hal yang biasa dilakukan orang-orang timur saat pesta lajang yaitu permainan tanya jawab. Jadi, kita bebas mengajukan pertanyaan kepada si mempelai pria," Nino menjelaskan game yang dimaksud.
"Aku setuju. Seperti Truth or Dare ya?" Alden bertanya dengan riang.
"Ya, seperti itu."
"Baiklah. Aku yang mengajukan pertanyaan pertama," Kai memulai permainan.
"Mengapa kau begitu bodoh sampai memacari mantan kekasih kakakmu waktu itu? Apa otakmu sudah tidak berfungsi?" Kai menyampaikan uneg-unegnya.
"Kai, kau masih saja membahasnya!" Alden tampak salah tingkah.
"Jawab saja!" Pinta Kai dengan penuh penekanan.
"Karena waktu itu aku hanya terobsesi saja dengan masa laluku. Kalian kan tahu siapa itu Cassie. Kita satu sekolah dengannya. Tapi kan akhirnya aku sadar dan memilih bersama Bianca," Alden berkata dengan malu-malu.
"Baguslah jika akhirnya kau sadar. Sekarang aku. Apakah nanti kau akan takut pada istrimu?" Giliran Nino bertanya.
"Tentu saja tidak. Memang aku ini kalian? Perkumpulan suami takut istri. Aku tidak akan seperti kalian. Lihatlah nanti! Aku akan menjadi suami yang tidak tertindas," Alden berdiri dari duduknya.
Kai dan Nino pun saling berpandangan.
"Alden, seorang Kai pun bisa menjadi suami takut istri apalagi kau!" Nino tertawa.
"Lihat saja nanti! Aku harap kau termakan oleh ucapanmu sendiri! Aku yang pertama kali mentertawakanmu saat itu terjadi," tambah Kai yang membuat Alden langsung duduk seketika.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...
__ADS_1