
Tifanny membuka kedua matanya, ia melihat Nino tengah menatapnya sambil tersenyum.
"Mengapa kau melihatku seperti itu?" Tifanny menatap Nino dengan heran.
"Aku hanya ingin melihat wajah istriku yang baru bangun tidur," jawab Nino masih dengan senyum sejuta wattnya.
Tifanny bangun dan secara refleks melepaskan selimut yang membungkus tubuh polosnya.
"Apa ini?" Tifanny berteriak dan menarik kembali selimut itu sampai ke lehernya.
"Jadi, semalam bukan mimpi?" Tifanny menepuk-nepuk pipinya.
"Tentu saja. Kau ini kenapa?" Nino tertawa melihat raut gusar dari wajah Tifanny.
"Berarti aku? Aku sudah bukan gadis lagi?" Tifanny menelan ludahnya dengan berat.
"Iya, sekarang kau wanita dewasa. Kau bukan gadis polos lagi," Nino berkata dengan puas. Puas karena menjadi pria yang pertama untuk Tifanny.
"Aku harus mandi," Tifanny segera masuk ke dalam kamar mandi dengan memakai selimut.
Sementara itu, Nino tampak mengusap noda darah yang ada di seprei kasur dengan tersenyum.
"Ternyata bukan mimpi?" Tifanny merasakan nyeri di area sensit*fnya. Ia juga melihat tubuhnya dari pantulan cermin.
"Sikap Nino yang sangat lembut berhasil membuatku terhipnotis. Seperti itu adalah mimpi. Aku tidak boleh goyah, aku pasti wanita ke sekian yang menemani Nino tidur. Dia sudah pasti melakukannya tidak memakai perasaan," Tifanny tersenyum dengan getir.
Setelah mandi, Tifanny dan Nino pun berjalan jalan kembali di sekitar danau Tekapo. Nino membawakan Tifanny sarapan. Mereka pun makan bersama-sama di pinggir danau.
"No, setelah ini kita akan ke mana?" Tifanny memakan sandwich yang ada di tangannya.
"Kita akan ke kota Christchurch lagi," jawab Nino sambil mengunyah makanannya.
"Di sana kita akan pergi ke destinasi wisata apa?" Tanya Tifanny mengusir kecanggungan di antara mereka.
"Aku ingin nonton bioskop. Mari kita menonton film sekuel Jasson!" Ajak Nino kepada Tifanny.
"Ayo! Aku mau," Tifanny mengangguk cepat.
Setelah sarapan, mereka pun segera berkemas untuk pergi ke Christchurch. Perjalanan membutuhkan waktu tiga jam.
"Menyenderlah ke bahuku!" Nino menepuk bahunya.
Dengan canggung, Tifanny pun merebahkan kepalanya di pundak Nino. Nino pun melajukan mobilnya untuk sampai di kota Christchurch.
"Nino, kau yakin akan menonton film ini? Bukannya kau mengidap phobia terhadap darah yang banyak?" Tifanny bertanya ketika mereka sudah berada di area studio film.
"Kau masih ingat?" Nino balik bertanya dengan gembira.
__ADS_1
"Tentu saja," Tifanny mengiyakan.
"Jadi, aku masih spesial di hatimu?"
"Sejak kapan kau spesial di hatiku?" Tanya Tifanny dengan canggung.
"Jadi, aku tidak pernah spesial di hatimu ya?" Nino merasa kecewa mendengar jawaban dari Tifanny.
"Sudahlah! Ayo kita masuk!" Tifanny menggandeng tangan Nino untuk masuk ke studio tiga.
Film sudah di mulai, sekuel film menceritakan pertarungan Jasson melawan Freddy, pembunuh yang bisa membunuh korban di dalam mimpinya. Nino hanya diam saja mengingat jawaban dari Tifanny.
"No, kau ini kenapa?" Tifanny bertanya kepada Nino sambil memakan pop cornnya.
"Aku kira, aku cukup istimewa untukmu," Nino berkata dengan dingin.
"Tadi aku hanya bercanda. Kau istimewa karena kau adalah suamiku," jawab Tifanny dengan lembut.
"Benarkah?" Wajah Nino kembali berbinar.
"Tentu saja. Suka atau tidak suka, kau adalah suamiku yang harus aku patuhi," Tifanny menimpali.
Nino pun semakin gembira mendengar jawaban Tifanny.
"Terima kasih, sayang!" Nino merebahkan kepalanya di dada Tifanny.
"Aku ingin seperti ini agar tidak takut," Nino melingkarkan tangannya di pinggang Tifanny.
"Sudahlah, lagi pula tadi malam dia sudah menyentuh semuanya," batin Tifanny. Ia pun kembali memakan pop corn yang ada di tangannya.
"Fann, kok tidak seram ya?" Nino terus tersenyum menyaksikan cuplikan film satu persatu.
"Tidak seram apanya? Ini sangat menyeramkan," Tifanny menutup wajahnya dengan tangan.
****
Bianca membawa kotak nasinya untuk makan siang di depan apartemen. Saat ia berjalan, Bianca tersandung dan makanan yang ada di kotak bekalnya berhamburan ke tanah.
"Ya ampun! Padahal aku sangat lapar," Bianca berjongkok dan menatap sedih makanan yang tercecer di atas tanah.
"Nona, kau tidak apa-apa?" Suara seorang pria terdengar oleh Bianca. Suaranya sangat lembut dan merdu bagaikan angin yang tersepoy di musim gugur.
"Aku tidak apa-apa, tuan," jawab Bianca tanpa menoleh.
"Biar aku bantu," pria itu berjongkok dan membantu membereskan kotak bekal makanan Bianca.
Bianca menatap wajah pria yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Wajahnya sangat tampan. Tapi, mengapa dia sangat mirip dengan pria menyebalkan itu? " Batin Bianca saat melihat pria yang ada di hadapannya yang tak lain adalah Aiden.
"Terima kasih," Bianca mengambil kotak makanan miliknya dari tangan Aiden.
"Nona, kau pekerja di apartemen ini?" Tanya Aiden yang melihat Bianca memakai seragam.
"Iya. Aku seorang office girl di sini," jawab Bianca tanpa rasa malu.
"Kau ini sangat jujur!" Aiden tersenyum.
"Tentu saja aku jujur. Memangnya aku harus mengatakan jika aku pemilik komplek apartemen ini? Tuan, kau sangat lucu!" Bianca tertawa.
"Maksudku, kau tidak malu dengan pekerjaanmu."
"Untuk apa aku malu, tuan? Tidak ada yang salah dengan pekerjaanku. Pekerjaanku adalah pekerjaan yang baik. Yang harus malu itu adalah seseorang yang mengambil hak milik orang lain," jawab Bianca dengan tegas.
"Kau sangat unik! Oh iya, bekal makanan ini adalah makan siangmu?" Aiden merasa tertarik.
"Iya. Tapi sudah tumpah. Makannya nanti saja jika sudah di rumah," Bianca berdiri. Aiden pun ikut berdiri.
"Aku akan mentraktirmu makan. Ayo ikut aku!" Aiden berjalan di hadapan Bianca. Tak lama, ia pun menoleh kembali saat tidak mendengar suara langkah kaki mengikutinya.
"Ayo! Aku tidak akan berniat jahat kepadamu," lanjut Aiden yang masih melihat Bianca mematung di tempatnya.
"Tuan, mengapa anda sangat baik mau mentraktir seseorang yang tidak anda kenal?" Tanya Bianca saat mereka sudah berada di cafe yang ada di sebelah apartemen.
"Aku hanya teringat mama. Aku membayangkan jika mama belum makan."
Bianca pun tersenyum mendengar jawaban Aiden. Ia sangat menyukai pria yang menyayangi kedua orang tua.
"Orang tua anda sangat beruntung, tuan!" Kata Bianca dengan jujur.
"Aku yang beruntung memiliki mereka," Aiden menyeruput moccacino yang ada di dalam gelasnya hingga tandas.
"Oh iya, siapa namamu?" Tanya Aiden.
"Namaku Bianca. Nama anda siapa, tuan?" Bianca menyeruput jus apel yang ada di dalam gelasnya.
"Namaku Aiden," jawab Aiden dengan tenang.
"Aiden?" Bianca langsung tersedak ketika mendengar kata Aiden.
"Tuan, apakah kau-"
"Kak, sedang apa kau di sini?" Tanya Alden yang muncul di belakang mereka dengan tiba-tiba.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...
__ADS_1