
Tifanny berjalan dengan gontai menuju rumahnya. Sore ini ia di berhentikan bekerja oleh managernya. Alasannya adalah Nino membuat keluhan lagi.
"Nino benar-benar keterlaluan!" Lirih Tifanny.
"Walau pun aku dipecat dari restoran pizza, aku tidak akan pernah menemuimu," Tifanny mempercepat langkahnya. Ia ingin segera sampai rumah untuk membuat lamaran kerja. Tifanny akan mencari kerja esok hari.
"Kakak, sudah pulang?" Tanya Meghan saat melihat kedatangan kakaknya.
"Iya, ini kakak pulang," Tifanny berusaha tersenyum.
"Kakak, besok adalah hari ujian masuk perguruan tinggi. Doakan aku ya? Semoga aku bisa mengerjakan semua soalnya dengan benar," Meghan berkata dengan semangat.
"Ya ampun, ujian Meghan sudah di depan mata. Berarti jika Meghan di terima, uang itu harus sudah ada," batin Tifanny.
"Kakak, kenapa?" Meghan melihat Tifanny hanya diam saja.
"Tidak. Kakak tidak apa-apa. Semoga sukses untuk esok hari ya? Kakak antarkan ke tempat tesnya," Tifanny mengelus lembut rambut Meghan.
"Kakak kan harus bekerja."
"Kan bisa izin dulu masuk lebih siang," Tifanny berkilah.
"Baiklah, kak. Nanti antarkan Meghan ya?"
"Iya, sayang."
****
Tifanny mengantarkan Meghan untuk ujian hari ini.
__ADS_1
"Sayang, semangat ya? Kakak tahu kamu bisa!" Ucap Tifanny sebelum Meghan masuk ke dalam ruangan tes.
"Iya kak. Meghan pasti bisa!"
"Semoga keinginanmu tercapai! Ayo cepatlah masuk! Nanti kau terlambat."
"Dadah kakak!" Meghan melambaikan tangannya.
Tifanny melihat Meghan masuk ke dalam ruangan tes. Setelah Meghan masuk, Tifanny langsung melajukan motornya lagi untuk mencari pekerjaan yang baru.
"Bagaimana ini? Jika Meghan lolos, berarti uang untuk kuliahnya harus segera ada," Tifanny bergumam sendiri sambil melajukan motornya.
Tifanny menyimpan lamaran di setiap restoran, toko buku, dan lainnya. Langkah Tifanny terhenti saat ia melihat lowongan pekerjaan sebagai pemandu karaoke.
"Haruskah aku melamar pekerjaan sebagai pemandu karaoke?" Tifanny menatap info lowongan kerja itu.
Nino hanya tersenyum dari dalam mobilnya. Sedari tadi ia mengikuti langkah Tifanny.
"Fann, kau hanya mempersusah dirimu sendiri. Kau tidak tahu bagaimana karaoke itu," Nino terus memperhatikan Tifanny yang sedang menyimpan lamaran.
1 minggu kemudian....
Tifanny mendapatkan panggilan dari tempat karaoke sebagai pemandu lagu.
"Sayang, pengumuman hasil ujianmu kapan?" Tanya Tifanny sebelum ia berangkat untuk datang ke tempat wawancara.
"1 minggu lagi kak," ucap Meghan sambil memakan makanannya.
"1 minggu lagi ya," Tifanny tersenyum kecil tetapi hatinya berteriak. Di mana ia mendapat biaya Meghan jika Meghan diterima di fakultas kedokteran.
__ADS_1
"Kakak kenapa?" Meghan memperhatikan wajah kakaknya.
"Tidak, kalau begitu kakak pergi bekerja dulu. Habiskan sarapanmu!"
"Hati hati ya kak?"
"Iya," Tifanny segera berlalu dari hadapan Meghan.
Selama seminggu ini, Tifanny berangkat untuk mencari pekerjaan. Meghan menyangka Tifanny berangkat bekerja karena kakaknya tidak pernah mengatakan sudah dipecat dari restoran pizza.
Tifanny berangkat ke tempat karaoke dan mengikuti wawancara kerja.
"Anda diterima," ucap HRD yang mewawancarainya.
Seperti biasa, Tifanny menanda tangani sebuah kontrak kerja sebelum memulai bekerja.
"Kau boleh memulai kerja hari ini," tutur HRD itu.
Tifanny pun diarahkan oleh seniornya untuk segera bekerja hari ini.
"Apakah aku harus memakai ini?" Tifanny memperhatikan seragam yang ketat, terlebih roknya pun mini.
"Kak, mohon maaf. Apakah saya boleh memakai baju saya saja?" Tifanny merasa tidak nyaman melihat seragam itu.
"Tidak. Kau harus memakai seragam itu. Jangan aneh aneh! Nanti bos memarahiku!" Kata senior Tifanny dengan wajah yang masam.
"Cepatlah pakai! Jangan memperlambat kerjaku," gerutunya.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih.😊😊...
__ADS_1