Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Mengakhiri Hubungan


__ADS_3

Sepulang mengantarkan Meghan ke rumahnya, Nino segera melajukan mobil miliknya ke tempat billiard yang ada di kawasan Massachusetts, Amerika Serikat. Ia menemui Kai dan Alden yang sudah sampai terlebih dahulu di sana.


"Maaf, aku terlambat!" Ucap Nino saat ia masuk ke ruang billiard yang sudah mereka sewa secara pribadi.


"Kau habis dari mana?" Tanya Kai sembari membungkukan badannya untuk menembak bola putih yang ada di meja billiard.


"Jangan ditanya, Kai! Pasti Nino sedang berusaha mendekati Tifanny!" Timpal Alden yang sedang memegang tongkat billiard di tangannya.


"Ya, itu kalian tahu, mengapa masih bertanya?" Nino segera mengambil tongkat billiard dan memberikan kapur pada ujung tongkat billiard itu.


"Bagaimana? Apa ada kemajuan?" Kai menyimpan tongkatnya dan mendudukan dirinya di kursi yang ada di dekat meja billiard.


"Belum," jawab Nino pendek. Ia segera membidik bola putih yang ada di atas meja.


"Percayalah padaku! Hubungan kau dan Tifanny tidak akan pernah ada kemajuan selama kau masih berpacaran dengan Clara," Kai mengambil kaleng coca c*la dan meminumnya.


"Kai, mengapa kau memberi tahu Nino? Harusnya biarkan saja dia! Biarkan kita yang menang, Kai! Kau tahu? Judul skripsiku di tolak. Aku seperti ingin menyerah saja. Jika kita menang, kita tidak akan pusing memikirkan skripsi," celoteh Alden. Ia ikut terduduk di samping Kai yang tengah meminum coca c*la miliknya.


"Aku hanya memberikan sedikit strategi dalam mendekati tipe gadis seperti Tifanny. Percayalah, tipe gadis seperti dia tidak akan mau dengan pria yang sudah memiliki kekasih," timpal Kai kemudian.


Nino pun meresapi nasehat Kai. Ia pun menyadari jika ingin lebih dekat dengan Tifanny, Nino harus memutuskan Clara terlebih dahulu.


"Kai, diamlah! Atau ku sumpal mulutmu dengan tongkat billiard ini!" Alden mengambil tongkat billiard yang ada di sampingnya.


"Memangnya kau berani?" Jawab Nino sambil menoleh ke arah Alden.

__ADS_1


"Ya, tidak. Aku hanya menggertak Kai," Alden menyimpan kembali tongkatnya.


"Kai, sepertinya kau memahami sekali perasaan gadis baik-baik!" Nino menatap Kai dan tersenyum.


"Ya, aku sudah sangat hafal tipe gadis seperti dia. Gadis baik baik seperti itu tidak akan mau jadi duri di dalam hubungan orang lain," Kai memberikan analisanya dan menatap ke sembarang arah.


"Bagaimana dengan Arabella? Apa kau pikir dia wanita baik-baik?" Alden tertawa meledek.


"Dia bukan wanita baik-baik," Kai meneguk minumannya sampai tandas.


"Lalu mengapa kau tidak memutuskannya?" Tanya Nino penasaran.


"Aku hanya malas saja. Malas untuk mencari perempuan lain. Memikirkan judul skripsi saja sudah membuat kepalaku pusing. Belum lagi aku harus menyiapkan diriku untuk ujian masuk program magister setelah S1 selesai. Memikirkannya pun kepalaku langsung sakit," Kai memijit keningnya.


"Judul skripsimu juga di tolak Kai?" Alden tertawa seolah menemukan teman senasib dan sepenanggungan.


"Jika judulmu di tolak, mengapa kau memberikan strategi kepada Nino? Kau ini bagaimana?" Alden menggerutu kepada Kai.


"Ya, kita lihat saja nanti! Apakah Nino berhasil menang taruhan ini atau tidak? Bersiaplah No, skripsiku dan Alden menunggu!" Kai menepuk bahu Nino pelan.


"Tidak, aku tidak akan mengerjakan skripsi kalian. Baiklah, aku akan memutuskan hubunganku dengan Clara," Nino memutuskan. Ia pun segera mengambil ponsel miliknya dan menelfon Clara untuk bertemu malam ini juga.


*****


"Honey, ada apa?" Tanya Clara saat mereka sampai di taman yang ada di area perumahan Clara. Nino memang meminta bertemu di taman yang ada di kawasan tempat tinggal Clara.

__ADS_1


"Cla, aku ingin kita mengakhiri hubungan ini!" Ucap Nino tanpa basa basi. Ia sungguh sangat berpengalaman dalam memutuskan wanita seperti ini.


"Tunggu, kau sedang bercanda kan?" Clara tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Tentu saja aku serius. Aku ingin hubungan kita sampai di sini saja," jawab Nino dengan enteng. Sejujurnya Nino tidak pernah mempunyai rasa kepada Clara. Ia memacari Clara karena Clara adalah wanita yang cantik.


"Katakan di mana letak kesalahanku?" Mata Clara mulai berkaca-kaca.


"Aku menyukai gadis lain."


"Siapa wanita murahan yang sudah menggodamu? Katakan kepadaku!" Clara berteriak.


"Kau tidak perlu mengetahuinya. Sudah ya? Berarti kita sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi sekarang," Nino berdiri dari duduknya.


"Aku tidak mau putus denganmu," Clara bangkit dan memeluk Nino dari belakang.


"Aku sungguh mencintaimu. Aku tidak ingin berpisah darimu," Clara terisak di punggung Nino.


"Sudahlah, Cla! Masih banyak laki-laki lain," Nino melepaskan tangan Clara.


"Tidak. Aku hanya ingin kau," Clara memeluk Nino kembali.


"Aku tidak bisa. Aku pergi, Cla!" Nino melepaskan tangan Clara dan segera beranjak pergi dari sana.


"Mengapa jadi begini?" Clara berteriak.

__ADS_1


"Siapa gadis itu? Aku harus mencari tahunya. Aku akan membuat perhitungan dengannya," Clara mengepalkan tangannya dengan geram.


Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗


__ADS_2