
Nino menatap jam yang ada di ruangannya. Ia sungguh tidak sabar untuk pulang dan bertemu dengan Tifanny. Setelah jam kerjanya habis, Nino langsung berlari keluar dari ruangannya. Arley yang melihat sikap putranya hanya tersenyum.
Sebelum pulang, Nino membelikan makanan dan minuman untuk Tifanny. Nino membelikan banyak sekali makanan yang enak karena Nino pikir pasti Tifanny mengalami mual muntah dan harus diberikan makanan yang enak-enak.
Nino pun membelikan beberapa boneka untuk istrinya. Nino teringat jika istri Kai sangat menyukai boneka saat tengah hamil anak pertamanya.
"Aku harap kau suka," Nino tersenyum sambil menyetir.
"Kak, bawaanmu banyak sekali!" Ucap Meghan saat Nino mengeluarkan semua bawaannya.
"Iya, untuk Tifanny," Nino terus mengeluarkan hadiah yang ia beli untuk istrinya. Ia membawa boneka-boneka terlebih dahulu ke kamar miliknya dan kamar Tifanny.
"Sayang, lihatlah! Aku membawa boneka!" Lapor Nino dengan ceria.
"Untuk apa kau membawa boneka?" Tanya Tifanny dengan heran.
"Bukankah jika orang yang sedang hamil menyukai boneka?" Nino merasa bingung.
"Siapa bilang? Aku tidak terlalu suka. Nanti boneka-boneka itu berubah seperti Chucky atau Annabelle dan berusaha untuk membunuhku," Tifanny bergidik ngeri.
"Aku pikir kau menyukainya," Nino berkata dengan kecewa.
"Berikan saja pada Meghan!" Ujar Tifanny dengan enteng.
"Baiklah," Nino membawa boneka-boneka itu kembali ke bawah dan memberikannya kepada Meghan. Meghan sangat senang ketika mendapat boneka-boneka dari kakak iparnya.
Nino masuk kembali ke dalam kamar dengan lesu dan melepaskan setelan kerjanya. Tifanny pun merasa iba dan bersalah.
"Sayang, kemarilah!" Tifanny mengulurkan tangannya ke arah suaminya. Nino menyambut tangan istrinya dengan hangat dan senyum yang sedikit dipaksakan.
"Sayang, kau tahu mengapa aku tidak ingin boneka?" Tifanny menatap Nino yang kini duduk di sampingnya.
"Karena kau takut bonekanya jadi hidup?"
"Bukan. Itu hanya alasan saja. Aku tidak mau ada boneka karena sudah ada kau di sini. Jika ada bonek di kamar kita, nanti aku tidak bisa memelukmu," Tifanny merayu Nino yang tengah sedikit bad mood.
"Benarkah?" Wajah Nino berangsur ceria kembali.
"Iya. Jika ada boneka, nanti kasur kita penuh dan aku tidak bisa memelukmu lagi. Bahkan aku takut nanti kita tidur dengan memiliki jarak. Aku ingin selalu berdekatan denganmu tanpa ada sekat apapun," rayu Tifanny lagi.
"Sayang, mengapa kau tidak mengatakannya dari tadi? Kalau begitu aku akan selalu memelukmu," Nino memeluk Tifanny dengan perasaan yang berbunga-bunga.
"Untung dia mempercayaiku," Tifanny bergumam dengan lega.
****
"Aku mencintaimu."
Bianca diam mematung mendengar ungkapan cinta dari pria yang kini tengah mendekapnya.
"Aku mencintaimu. Aku tidak mencintai Cassie. Selama ini kau selalu memenuhi pikiranku hingga aku seperti akan gila. Aku tidak pernah begini terhadap seorang wanita. Aku menginginkanmu," lirih Alden.
Perlahan, Bianca melepaskan tangan Alden yang kini melingkar di tubuhnya.
"Kau sedang mempermainkanku kan?" Bianca memutar tubuhnya menghadap Alden.
"Mempermainkanmu? Maksudnya?" Alden tampak tidak mengerti.
"Aku tahu kau berpisah dengan Cassie karena tidak disetujui oleh keluargamu dan kau merasa hubungan kalian tidak akan berjalan dengan baik. Maka setelah kau berpisah dengannya, kau mendatangiku hanya untuk mempermainkanku?" Mata Bianca tampak berkaca-kaca.
__ADS_1
"Mengapa kau berpikir sampai ke arah sana? Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Aku ke mari karena aku benar-benar menginginkanmu. Aku jatuh cinta kepadamu. Aku mohon terimalah aku berada di sisimu!" Alden mengambil tangan Bianca dan memegangnya erat.
"Aku tidak bisa tanpamu. Hidupku sepi. Terimalah aku menjadi kekasihmu!" lanjutnya.
"Kau ingin tahu jawabanku?" Bianca berkata dengan datar.
Alden mengangguk dengan cepat.
"Aku tidak bisa. Aku memang sempat memiliki perasaan terhadapmu, tapi itu semua berubah saat kau memutuskan untuk bersama dengan Cassie," Bianca menolak.
Wajah Alden pun seketika murung mendengar penolakan dari gadis yang dicintainya.
"Aku tahu kau masih memiliki perasaan terhadapku," Alden masih merasa yakin.
Alden yakin Bianca memiliki perasaan padanya karena saat di Norwegia, ia melihat Bianca menangis setelah percakapan mereka malam itu. Percakapan yang membahas jika Alden akan bersama Cassie. Alden yakin jika Bianca menyukainya, sama seperti dirinya yang menyukai Bianca.
"Tidak. Itu semua masa lalu. Aku hanya terbawa suasana saat kita berada di Norwegia. Aku sudah membuang perasaanku padamu dengan jauh," Bianca mengalihkan tatapannya ke arah lain.
"Kalau begitu lihat aku dan ulangi lagi perkataanmu!"
"Ini sudah malam. Pulanglah!" Bianca mengalihkan.
"Aku tidak mau pulang," Alden menolak.
"Aku mohon, pulanglah!"
"Jika aku tidak mau pergi dari rumah ini?"
"Kalau kau tidak ingin pergi, biar aku saja yang pergi dan tidur di luar. Kau ingin begitu?" Bianca menatap Alden.
"Aku hitung sampai 3!" Sambungnya.
"Baiklah. Aku pergi. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan membuktikan bahwa aku benar-benar menginginkanmu," Alden keluar dari rumah Bianca.
"Mengapa saat aku berusaha untuk melupakanmu, kau muncul dan memberiku sebuah harapan?" Bianca berbicara sendiri dan langsung mematikan lampu kamarnya.
Pagi harinya, seperti Biasa Bianca pergi untuk mencari lowongan pekerjaan. Saat ia membuka pintu, Alden sudah ada di depan pintu rumahnya.
"Selamat pagi, Ca!" Sapa Alden dengan senyum termanisnya.
"Ada apa lagi kau ke sini?" Bianca mengunci pintu dan berjalan melewati Alden.
"Aku ingin mengantarmu mencari pekerjaan. Ayo aku antar!" Alden mengejar langkah Bianca yang kecil-kecil.
"Tidak usah. Aku bisa naik bus."
"Tapi aku ingin mengantarmu. Setelah mencari info lowongan kerja, kita bisa makan mie atau ke bioskop dan nonton film. Bagaimana?" Bujuk Alden lagi.
"Aku tidak mau," Bianca keukeuh dengan pendiriannya.
Saat mereka masih berdebat, mobil Aiden terlihat memasuki pekarangan rumah Bianca.
"Kakak mengganggu usahaku saja," Alden berdecak kesal melihat kehadiran mobil kakaknya.
"Hai, Bi!" Sapa Aiden saat ia turun dari mobil.
"Ada apa kau ke mari, kak? Bianca sedang tidak bisa diganggu!" Alden menghunuskan tatapan intimidasi kepada Aiden.
"Kakak disuruh mama untuk mengantarkan barang Bianca yang tertinggal di rumah. Ini milikmu kan, Bi?" Aiden memperlihatkan sepasang sepatu flat milik Bianca yang tertinggal.
__ADS_1
"Oh iya. Itu sepatuku kak. Aku sudah mencarinya ke mana-mana, ternyata tertinggal di rumahmu," Bianca mengambil sepatu miliknya dari tangan Aiden dan menyimpannya di teras. Kemudian ia berjalan lagi mendekat ke arah Aiden dan Alden yang berdiri bersisian.
"Terima kasih sudah mengantarnya ke sini, kak," imbuhnya.
"Sama-sama, Bi. Oh iya, kau mau ke mana pagi-pagi begini sudah rapi?" Aiden memperhatikan tampilan Bianca yang tampak begitu formal.
"Ke mana saja. Bukan urusanmu, kak!" Alden memotong pembicaraan mereka.
"Kakak bertanya kepada Bianca!" Aiden menoleh ke arah adiknya.
"Aku ingin mencari lowongan kerja sekalian menaruh CVku secara offline. Aku sudah melamar via email, tetapi belum ada yang menghubungi untuk interview," Bianca berkata dengan lesu.
"Kemarin aku melihat lowongan kerja sebagai penjaga toko buku di sudut kota. Kau melamar ke sana saja!" Aiden menginfokan.
"Benarkah? Di sebelah mananya, kak?" Bianca berkata dengan semangat.
"Di dekat Cadbury World tepatnya. Kakak antarkan saja ya?" Aiden melirik adiknya. Ia seolah ingin tahu reaksi Alden.
"Tidak. Itu tidak bisa. Bianca tidak mau diantar olehmu kak!" Alden menjauhkan Bianca dari kakaknya.
"Boleh, kak. Aku menumpang saja ya? Biar cepat sampai," Bianca melepaskan tangan Alden dan menyetujui ajakan Aiden.
"Kau ini kenapa? Genit sekali!" Alden menggerutu.
"Itu terserah padaku akan berangkat dengan siapa. Lagi pula kak Aiden yang menawariku."
"Kalau begitu kakak akan mengantarmu. Tapi sebelumnya, kakak ingin ikut ke toilet rumahmu. Tidak apa-apa?" Pinta Aiden kepada Bianca.
"Boleh, kak. Mari aku antar!" Bianca merogoh tasnya dan mengeluarkan kunci rumahnya.
Merek berdua masuk ke dalam rumah. Alden pun tampak berpikir untuk menjauhkan Aiden dari Bianca.
"Aku harus memisahkan mereka. Aku tidak boleh membiarkan mereka terlalu dekat. Tapi apa ya?" Alden tampak berpikir.
"Aku tahu," Alden menyeringai jahat sembari melirik mobil kakaknya.
Aiden dan Bianca pun keluar dari dalam rumah, Aiden memang menumpang ke toilet Bianca sehingga ia lumayan lama berada di dalam rumah Bianca.
"Al, kakak pergi dulu mengantar Bianca," Aiden menepuk bahu adiknya. Alden pun hanya mengangguk.
Langkah Aiden yang akan masuk ke dalam mobil pun terhenti saat ia melihat kedua ban belakang mobilnya tampak kempes.
"Ini kenapa?" Seru Aiden dengan kaget.
"Kenapa, kak?" Tanya Bianca.
"Perasaan tadi ban mobilnya baik-baik saja. Kenapa jadi kempes ya?" Aiden merasa tidak mengerti.
"Lebih baik kakak urus saja mobilnya! Aku naik bus saja," Bianca memutuskan.
"Tidak apa-apa?" Aiden merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa. Aku saja yang mengantar," potong Alden.
"Tidak. Aku naik bus saja. Aku pergi, kak!" Bianca berjalan meninggalkan pekarangan rumahnya.
"Ca, tunggu!" Alden mengejar lagi langkah Bianca.
"Alden, pasti ini pekerjaanmu. Kau selalu saja bersikap kekanakan!" Aiden menghembuskan nafasnya berat dan menelfon orang bengkel.
__ADS_1
...Author ucapkan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan bagi para readers yang menjalankan. Semoga bulan Ramadhan tahun ini menjadikan diri kita pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. 🤗🤗...
... Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...