Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Perbedaan Takdir


__ADS_3

Sepulang kerja, Nino berlari ke rumah dengan membawa sesuatu di tangannya.


"Sayang, kau kenapa?" Tanya Tifanny yang melihat suaminya datang dengan tergopoh-gopoh.


"Apa itu?" Tifanny menatap Nino dengan tatapan menyelidik.


"Sayang, aku bawakan bunga. Besok hari ulang tahunmu kan?" Nino memberikan bunga yang baru ia beli untuk istrinya.


"Kau ini mengapa manis sekali?" Tifanny menerima bunga itu dengan ceria.


"Kadonya besok ya?" Nino menghujani ciuman di wajah istrinya.


"Iya. Tidak ada kado pun tak apa. Asal kau selalu sehat," Tifanny mencium pipi Nino dengan cepat.


Nino mengusap pipinya yang telah dicium oleh Tifanny.


"Kenapa? Kau tidak suka dicium olehku?" Tifanny mengerucutkan bibirnya.


"Tentu saja suka. Aku hanya kaget. Besok kita makan malam bersama papa dan Meghan untuk merayakan hari ulang tahunmu ya?"


"Iya. Terima kasih ya?" Tifanny memeluk Nino dengan erat.


Jika kehidupan rumah tangga Tifanny dan Nino penuh keharmonisan dan kebahagiaan, beda halnya dengan takdir pernikahan Odelia.


Di suatu malam yang dingin....


Prang....


Terdengar suara vas bunga dipecahkan di sebuah sudut rumah yang mewah.


"Apa maumu?" Teriak seorang wanita dari dalam kamar.


"Aku hanya ingin kau memasak yang benar. Kau ini benar-benar istri yang tidak berguna!!" Hardik seorang pria kepada istrinya. Yang tak lain ia adalah Odelia dan juga suaminya yang bernama Sean.


"Aku selalu memasak dengan benar. Kau saja tak pernah menghargai jerih payahku dalam memasak," jerit Odelia.


"Memasak dengan benar? Kau selalu menyajikan makanan sampah! Mengapa kau selalu membuatku emosi?" Sean mengapit pipi Odelia dengan kasar.


"Bisakah kau tidak selalu bertindak kasar padaku? Saat kita berpacaran kau tidak seperti ini," Odelia ketakutan menatap Sean. Biasanya jika mereka cekcok, Sean akan memukulnya. Belakangan ini memang Odelia melihat semua sikap yang sebenarnya dari diri Sean.

__ADS_1


"Dan aku ingin menanyakan perihal penggunaan kartu yang kuberikan padamu. Kau menarik sejumlah uang yang lumayan besar. Untuk apa uang itu?" Sean menjambak rambut Odelia.


"Aku memberikannya untuk kedua orang tuaku. Mereka membutuhkan uang. Aku kasihan pada mereka," gumam Odelia.


"Membutuhkan uang? Katakan kepada kedua orang tuamu itu untuk berusaha dan bekerja untuk mendapatkan uang, bukan dengan merampok uangku melalui tanganmu!" Sean menampar pipi Odelia dengan keras.


"Sean, sakit!" Odelia menangis dan meraba sudut bibirnya yang berdarah karena tamparan dari Sean.


"Jangan pernah berikan uang milikku kepada siapa pun, atau kau akan tahu akibatnya!" Kata Sean dengan bengis di telinga Odelia.


"Papaku sakit dan tidak mampu lagi untuk bekerja. Wajar kan aku membantunya? Adikku pun perlu biaya untuk kuliahnya."


"Aku tidak peduli. Bahkan jika kedua orang tuamu kelaparan, jangan pernah memberikan satu sen pun uangku kepada mereka! Aku yang menghasilkan uang itu!!!" Bentak Sean lagi.


"Mengapa kau jadi seperti ini? Dulu kau tidak pernah bersikap seperti ini," Odelia menangis tersedu.


"Memang inilah aku!" Sean menyeringai jahat di depan wajah Odelia.


Sean pun mengambil mantel miliknya dan bergegas pergi dari rumah.


"Sean, kau mau ke mana?" Odelia mengejar langkah Sean dan menghadang jalan suaminya.


Sean pun menaiki mobilnya dan pergi ke klub malam untuk berkencan bersama wanita lain.


"Sean, mengapa kau berubah? Dulu kau selalu memperlakukan aku dan keluargaku dengan sangat baik," Odelia memegangi sikunya yang terluka.


Sean memang berubah saat pernikahan mereka menginjak usia dua bulan. Sean yang lembut berubah menjadi suami yang bertempramental tinggi. Masalah sekecil apapun selalu ia selesaikan dengan kekerasan, bahkan Sean tak segan untuk memukul Odelia dan meminta istrinya untuk tidak terlalu sering datang ke rumah kedua orang tuanya. Entahlah, Odelia sendiri tidak tahu apa yang melatarbelakangi sikap Sean menjadi seperti itu.


Sudah 3 hari ini Sean tidak pulang ke rumah. Odelia begitu frustasi dengan kehidupan rumah tangganya. Hingga suatu malam, Sean datang bersama dengan seorang pria tua dan juga seorang wanita. Pria itu tampak sepantaran dengan ayah Odelia, sedangkan wanitanya tampak muda dan seperti seumuran dengan Odelia.


"Sean, siapa mereka?" Tanya Odelia saat melihat dua orang asing ada di hadapannya.


"Honey, ini partner bisnisku," Sean tersenyum. Odelia melihat ada sebuah kejahatan di balik senyumnya itu. Ia merasakan firasat yang sangat buruk.


"Sean, dia istrimu? Cantik sekali. Jadikan penawaran kita?" Tanya pria tua itu dengan tatapan penuh nafsu.


"Iya. Ini istriku. Tentu saja. Mari malam ini kita bertukar pasangan!" Ucap Sean dengan santai.


"Apa maksudmu?" Odelia tampak ketakutan.

__ADS_1


"Honey, aku bosan dengan tubuhmu. Aku menginginkan wanita lain. Untung aku menemukan seorang partner bisnis seperti temanku ini yang mau melakukan pertukaran pasangan untuk mengatasi rasa bosan," Sean mendekat ke arah Odelia.


"Kau gila!" Odelia berteriak dan berusaha melepaskan tangannya.


"Kalian semua gila!" Odelia mulai menangis.


"Ayolah! Hanya semalam saja," Sean menyeringai jahat.


Odelia menatap wanita yang menjadi pasangan pria itu. Sungguh tidak ada beban di matanya, seolah ia terbiasa melakukan itu semua.


"Kalian tunggu di kamar saja!" Sean mengarahkan mereka menuju kamar tamu yang ada di rumahnya.


"Kau tunggu di kamar tamu yang lain, nanti aku bawakan istriku untukmu!" Ucap Sean kepada pria itu.


Odelia memakai kesempatan itu untuk kabur dari rumah Sean. Ia berlari secepat kilat ke luar dari rumah terkutuk itu.


"Jangan harap kau bisa lolos dariku!" Sean mengejar langkah Odelia yang sudah berhasil ke luar dari gerbang rumahnya.


"Kau mau ke mana?" Sean mencekal tangan Odelia.


"Lepaskan, Sean! Aku tidak mau. Aku sudah tidak bisa mentolerir lagi sikapmu ini. Aku ingin kita bercerai!" Odelia berusaha melepaskan tangannya.


"Bercerai? Jangan bermimpi! Aku belum puas denganmu," Sean semakin mencekal tangan Odelia.


"Mengapa kau menikahiku jika kau memperlakukanku seperti ini?" Odelia berteriak.


"Aku memang tidak berniat menikahimu tetapi hubungan kita terlanjur diketahui oleh kedua orang tuaku. Hingga akhirnya mereka mendesakku untuk menikahimu. Mereka berharap setelah menikah aku bisa berubah. Sekarang ayo pulang dan layani partner bisnisku itu!" Sean menatap tajam Odelia.


"Berarti memang kelakuan burukmu ini sudah dari dulu? Kau menipuku selama ini? Aku tidak sudi, lebih baik aku mati dari pada harus melayani pria tua bangka itu," Odelia mendorong tubuh Sean hingga pria itu terjungkal.


"Wanita sial*n!!" Sean mencoba bangkit tetapi Odelia sudah berlari lebih dulu.


Odelia terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Tekadnya sudah bulat, ia tidak ingin kembali bersama Sean lagi.


"Nino, kau tidak pernah memperlakukanku dengan buruk. Mengapa aku membuangmu hanya untuk pria seperti Sean?" Odelia berlari sembari terus terisak mengingat Nino, pria yang sudah ia campakan.


...Ada yang masih ingat gak nih Sean ini siapa? Readers yang sudah baca novel Alula, pasti tahu si Sean ini mantan pacarnya siapa 😂...


...Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗*...

__ADS_1


__ADS_2