Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Kekhawatiran Nino


__ADS_3

Berhari-hari, Tifanny mulai membiasakan diri dengan peran barunya sebagai seorang ibu. David pun selalu menasehati Nino untuk menemani Tifanny, karena gadis itu sudah tidak memiliki seorang ibu yang dapat membantu mengurus bayinya. Eliana pun hanya bisa menginap selama dua hari di rumah putra dan menantunya, karena ia harus menemani suaminya untuk mengurus bisnis ke negara lain.


David pun memberitahukan dan menerangkan mengenai Baby Blues Syndrom kepada Nino. Baby Blues Syndrom adalah perasaan sedih yang cukup mendalam setelah persalinan, biasanya ibu yang mengalami Baby Blues Syndrom akan menangis tanpa alasan yang jelas. Hal ini akibat perubahan hormon setelah melahirkan dan tentunya peran serta tanggung jawab baru yang dipikul oleh seorang ibu.


Malam hari, Archie selalu menangis jika popok atau bajunya basah dan apabila tengah lapar. Nino pun selalu siaga untuk menemani istrinya begadang.


"Sayang, tidurlah! Besok kau harus bekerja," suruh Tifanny kepada suaminya.


"Aku akan tidur jika Archie dan kau sudah tidur," mata Nino siaga untuk tidak tidur terlebih dahulu.


"Tidak apa. Aku bisa bangun siang, tapi pagi-pagi kau harus bekerja. Tidurlah!" Pinta Tifanny lagi.


"Aku tidak mau. Belum mengantuk. Jangan paksa aku!" Kata Nino dengan nada yang manja.


"Baiklah," Tifanny mengalah dan fokus untuk memberikan ASI lagi kepada Archie.


"Apa yang kau rasakan?" Tanya Nino sembari memperhatikan Tifanny yang sudah memiliki kantung mata di matanya.


"Rasakan? Rasakan apa?" Tifanny tampak tidak mengerti.


"Bagaimana rasanya menjadi seorang ibu?" Nino memperjelas pertanyaannya.


"Rasanya? Tentu sangat membahagiakan," Tifanny tersenyum dengan tulus.


"Berjanjilah untuk selalu bercerita hal apapun kepadaku! Jika kau lelah dalam mengurus Archie, jangan memendamnya sendirian! Ceritakan kepadaku agar kita bisa berbagi peran," Nino berbicara dengan intonasi yang serius.


"Untuk apa aku lelah? Aku selalu bersemangat melihat perkembangan demi perkembangan anak kita," Tifanny berusaha menghilangkan kekhawatiran suaminya.


"Aku hanya khawatir kau kewalahan dalam mengurus Archie."


"Kau terlalu berlebihan. Kan pekerjaan Rumah Tangga sudah ada asisten yang mengerjakannya. Jadi, aku bisa fokus mengurus Archie. Bahkan aku khawatir tidak bisa mengurus dan memperhatikanmu. Aku takut ada yang memperhatikanmu di luar sana," ungkap Tifanny dengan sendu.


"Aku tidak butuh diperhatikan apalagi oleh seseorang yang jelas-jelas bukan ibu dari anakku. Kau mengurus anakku saja aku sudah sangat senang. Tidak perlu risau untuk kesetianku. Selamanya aku hanya akan melihat kepadamu," ungkap Nino yang membuat Tifanny seketika berbunga.


"Kau selalu pintar dalam menggombal," ledek Tifanny.


"Itu ungkapan dari hatiku. Terima kasih sudah mencintaiku dan anakku," ucap Nino lagi.


"Ini anakku juga," Tifanny tertawa.


"Lihatlah! Kau hanya mempunyai porsi 15%, 85% pada diri Archie adalah genku," ucap Nino dengan bangga.

__ADS_1


"15%? Sedikit sekali. Lihatlah! Bibirnya sama sepertiku," Tifanny tidak mau kalah.


"Bibirmu apanya? Itu bibirku," Nino masih berusaha membantah.


"Kau menyebalkan!" Tifanny tertawa.


"Aku tidak akan membiarkanmu sendirian mengurus Archie. Kita besarkan anak kita bersama-sama. Kita amati setiap pertumbuhan dan perkembangannya. Aku mencintai kalian," Nino mengelus kepala Tifanny dengan penuh kasih sayang dan kemudian ia mengecup pipi Archie yang ada di pangkuan Tifanny.


****


Bobby dan keluarga sudah pindah ke kota Birmingham untuk ikut berbisnis bersama Alden dan Bianca. Alden pun hari ini memutuskan untuk resign dari perusahaan Kaivan, sahabatnya.


"Bagus. Aku senang dengan keputusanmu," Kai tersenyum bangga, tidak menyangka sahabatnya akan berpikiran dewasa.


"Jadi, kau senang aku tidak bekerja lagi di sini?" Alden mengerucutkan bibirnya.


"Bukan begitu. Tapi percayalah! Mempunyai usaha sendiri jauh lebih menyenangkan. Kau bisa bebas menentukan dan mengatur bisnismu akan seperti apa. Aku selalu berdoa untuk kesuksesanmu," Kai menepuk bahu Alden.


"Terima kasih, Kai. Kau memang sahabatku," Alden balas menepuk bahu Kai.


Mereka pun berbincang dalam waktu yang cukup lama. Setelah puas berbincang, Alden pun memutuskan untuk pulang.


"Ini apa?"


"Bayaran untuk sisa hari kerjamu," jawab Kai.


"Ah tidak usah, Kai. Tapi jika kau memaksa, baiklah aku menerimanya. Kasihan kan kau sudah repot-repot memasukannya ke dalam amplop," Alden mengambil amplop itu dan memasukannya ke dalam tas gendongnya. Kai hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap sahabatnya itu.


"Kai, kirimkan juga surat keterangan kerja untukku ya? Kalau bisa tulis setahun di suratnya," pinta Alden dengan cengengesan.


"Tidak mau," Kai menolak.


"Kau ini. Pokoknya kirim ke emailku ya? Aku pulang, Kai. Bye!!" Alden melambaikan tangannya lalu keluar dari ruangan sahabatnya.


"Mengapa ada wanita yang betah hidup bersama anak itu?" Kai menepuk keningnya.


Keesokan harinya, Alden dan keluarganya meresmikan toko kue yang dibuatnya. Semua kerabat dan sahabat pun datang untuk peresmian toko kue itu. Nino pun datang, tetapi tidak dengan Tifanny. Alden memotong pita sebagai simbol pembukaan tokonya. Hari pertama mereka membagikan kue secara gratis. Keesokan harinya, Alden dan yang lain mulai berjualan kue dengan normal.


Toko kue ini melayani makan di tempat, diantarkan secara langsung, maupun dibawa pulang ke rumah. Karena toko kue ini baru dan belum ada karyawan, maka Bianca bertugas sebagai kasir, dan Alden yang mengantar-ngantarkan kue jika ada yang memesan online. Sedangkan Bobby dan istrinya bertugas untuk membuat kue.


Hari kedua toko kue mereka cukup ramai, Alden pun sudah berapa kali mengantarkan pesanan ke rumah pelanggan.

__ADS_1


"Kau lelah?" Bianca menyeka keringat yang ada di wajah suaminya.


"Iya, ternyata lelah juga ya dan butuh perjuangan," Alden meminum air mineral yang ada di dalam gelas.


"Aku mengkhawatirkanmu. Kau lelah? Kau tengah hamil muda sekarang," Alden menatap wajah istrinya dengan khawatir.


"Aku tidak lelah. Aku kan bisa melayani customer sambil duduk," jawab Bianca.


"Semoga usaha kita berkembang agar kita bisa merekrut karyawan ya," harap Bianca.


"Aku berharap juga begitu. Semoga ini awal yang baik," Alden tersenyum menatap beberapa pelanggan yang tengah menikmati kue.


Malam hari setelah menutup toko, Alden dan Bianca mengantarkan Bobby dan istrinya ke rumah. Setelah mengantarkan mereka, Alden dan Bianca pun pulang ke rumah. Bianca menatap pemandangan malam dari kaca mobil. Ia melihat sesuatu yang sangat menghibur matanya.


"Alden?" Bianca menoleh ke arah suaminya. Ia melihat dua badut tengah membagi-bagikan bunga kepada beberapa orang yang lewat.


"Apa?" Jawab Alden tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.


"Aku ingin besok pagi kau membagi-bagikan bunga sambil memakai kostum Masha di depan toko kue kita. Lalu kau melambaikan tanganmu kepadaku dengan memakai kostum Masha," pinta Bianca dengan sukacita.


"A-aku? Maksudmu menjadi badut?" Alden menunjuk dirinya sendiri.


"Iya. Cari seorang lagi untuk menjadi Misha!" Pinta Bianca dengan enteng.


"Tapi-"


"Kau tidak mau? Ya sudah," mata Bianca berkaca-kaca.


"Anakku yang ingin?"


"Iya, bawaan anakmu," Bianca meneteskan air matanya.


Alden tampak berpikir.


"Baiklah," Alden pun mengalah.


"Tapi siapa yang akan menjadi Misha?" Alden tampak bergumam di dalam hatinya.


"Aku tahu. Kai, saatnya aku balas dendam padamu," Alden menyeringai jahat.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...

__ADS_1


__ADS_2