
Nino masuk ke dalam kamar, ia melihat Tifanny tengah mengajak ngobrol Jasper yang terduduk di pangkuannya.
"Kai sudah berangkat?" Tanya Tifanny saat melihat Nino masuk ke dalam kamar.
"Sudah," Nino terduduk di depan Tifanny.
"Dia sangat menggemaskan!" Tifanny tersenyum menatap wajah Jasper yang sedang menatapnya.
"Iya, dia sangat lucu!" Nino menyetujui.
"Fann, aku harap kita bisa segera di karuniai anak selucu Jasper," Nino menatap wajah istrinya. Sementara Tifanny hanya tersenyum canggung mendengar perkataan Nino. Beberapa saat mereka tenggelam dalam keheningan hingga tidak terasa waktu sudah menunjukan larut malam.
"Ayo kita tidur! Jasper sudah tertidur," ajak Tifanny saat melihat Jasper tertidur.
"Aku harus menunggu Kai. Dia bilang akan menjemput Jasper," Nino menolak.
"Kai tidak akan menjemput Jasper. Percayalah! Ayo kita tidur!" Tifanny merebahkan Jasper di kasur dan segera menyelimutinya, tak lupa ia pun menyimpan guling agar Jasper tidak terjatuh. Tifanny pun ikut berbaring di samping Jasper.
"Benarkah Kai tidak akan menjemput?" Gumam Nino sambil menatap Tifanny dan Jasper bergantian.
Nino pun akhirnya ikut berbaring di samping Tifanny. Ia memeluk Tifanny dari belakang.
"Jadi, malam ini kita libur dulu?" Tanya Nino dengan kecewa.
Tifanny tidak menjawab pertanyaan Nino, ia sudah pergi ke alam mimpi bersama dengan Jasper.
"Tidurlah! Kau pasti lelah hari ini!" Nino mencium rambut istrinya lembut.
Saat Nino menutup matanya, ia mendengar suara ponsel Tifanny berdering. Nino terbangun dan mengambil ponsel Tifanny yang ada di atas nakas.
"Fann, suamimu sudah tidur? Aku ingin menelfonmu," Nino membaca pesan teks dari nomor yang tidak dikenal. Ponsel Tifanny kebetulan tidak di kunci.
"Siapa orang ini?" Gumam Nino.
"Mungkin teman kuliahnya," Nino menyimpan kembali ponsel milik istrinya di atas nakas. Kemudian ia pun ikut tertidur.
****
Pagi hari Kai baru menjemput Jasper untuk pulang.
"Terima kasih ya, No? Setelah ke dokter kandungan, semalam aku ke rumah Daddy dulu. Saat aku melihat rumahmu, lampunya sudah dimatikan. Ya sudah, aku pulang," ucap Kai saat ia menjemput putra pertamanya.
"Alasan saja! Kau pasti ingin berduaan dengan Alula," Nino sudah bisa menebak.
"Kau memang sahabatku yang paling mengerti!" Kai tersenyum memamerkan giginya yang rapi.
"Terima kasih ya Fann sudah menjaga Jasper?" Kai mengalihkan tatapannya kepada Tifanny.
"Iya, sama-sama. Aku malah senang," Tifanny memyerahkan Jasper kepada Kai.
"Kalau begitu, aku akan sering menitipkannya kepada kalian," celoteh Kai sambil menatap Nino.
"Boleh saja, asal jangan malam-malam!" Nino berbisik di telinga Kai.
"Aku tahu maksudmu," Kai ikut berbisik.
"Kalau begitu aku pulang ya?" Kai membawa Jasper ke rumahnya sebelum ia berangkat bekerja.
"Ayo aku akan mengantarkanmu dan Meghan kuliah!" Nino menggenggam tangan Tifanny.
"Meghan tidak ada jam kuliah pagi ini. Nanti jam kuliahnya siang sampai sore. Emm, hari ini aku tidak ada kuliah, ada bimbingan untuk proposal," jawab Tifanny.
"Jam berapa bimbingannya?"
__ADS_1
"Jam tiga sore."
"Kalau begitu, aku nanti akan pulang lebih awal untuk mengantarkanmu kuliah," jawab Nino.
"Tidak usah. Aku bisa naik taksi. Bekerjalah dengan bersungguh sungguh!" Ucap Tifanny sambil tersenyum.
"Baiklah. Kalau begitu aku pergi! Semangat untum bimbingannya!" Nino mencium kening dan pipi Tifanny lalu langsung masuk ke dalam mobilnya.
"Mengapa hatiku selalu menghangat karena perlakuannya? " Tifanny tersenyum menatap mobil Nino yang bergerak keluar dari halaman rumah.
Tifanny menunggu jadwal kuliahnya dengan beres-beres rumah dan juga mengobrol dengan Meghan dan ayahnya. Pukul setengah tiga sore, Tifanny berangkat ke kampus dengan naik taksi untuk melaksanakan bimbingan untuk penyusunan proposal.
Tifanny menunggu di luar ruangan. Dosen pembimbingnya bernama Mr. Anthony. Lima orang mahasiswa bergantian untuk masuk, hingga akhirnya tibalah giliran Tifanny untuk masuk.
"Justin?" Panggil Tifanny saat melihat Justin terduduk di kursi dosen.
"Fann? Akhirnya giliranmu," Justin tampak bersemangat.
"Mengapa kau? Dosen pembimbingku kan Mr. Anthony," Tifanny merasa bingung.
"Sebenarnya aku ini asisten dosen Mr. Anthony dalam mata kuliah bimbingan skripsi. Aku tidak hanya mengajar mata kuliah Metodologi Penelitian, tetapi mengajar juga mata kuliah Bimbingan Skripsi. Mr Anthony sedang ada tugas dari kampus selama beberapa bulan di luar kota, jadi aku yang menggantikannya," papar Justin panjang lebar.
"Oh begitu," Tifanny mulai mengerti.
"Justin, mengapa kau menjadi seorang dosen?" Tanya Tifanny saat ia terduduk di depan Justin.
"Mama yang memintaku untuk menjadi seorang dosen. Aku menyelesaikan program masterku di jurusan pendidikan. Awalnya aku hanya bekerja sebagai dosen praktisi saja di sini. Tapi akhirnya aku jadi dosen tetap. Mungkin nanti aku akan kuliah S1 jurusan pendidikan agar ijazahku linier dengan ijazah S2," jawab Justin.
"Ku pikir kau akan tetap tinggal di Amerika."
"Tidak. Di Amerika tidak ada dirimu," Justin menatap dalam wajah Tifanny.
"Emm, jadi, bagaimana dengan Bab 1 proposalku?" Tifanny mengalihkan perhatian dan memberikan proposalnya.
Justin pun memeriksa dan memberikan sejumlah revisi agar diperbaiki oleh Tifanny. Setelah 20 menit, bimbingan pun selesai. Tifanny berjalan ke luar dari ruangan Justin dan bergegas untuk pulang.
"Fann, aku antarkan kau pulang ya?" Justin mencekal tangan Tifanny.
"Tidak, Justin. Aku akan naik taksi saja," Tifanny melepaskan tangannya.
"Aku mohon, biarkan aku mengantarmu!" Justin memegang dengan kuat kedua bahu Tifanny.
"Singkirkan tanganmu dari tubuh istriku!" Kata seseorang dengan tajam.
Justin dan Tifanny menoleh ke arah sumber suara. Itu adalah Nino yang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Nino?" Tifanny melepaskan tangan Justin.
Nino menatap Justin dengan tajam, Justin pun menatap Nino dengan tidak bersahabat.
"Lama tidak bertemu! Bagaimana kabarmu dan kabar kedua sahabat berandalmu?" Tanya Justin dengan sinis.
"Baik, sangat baik. Aku tidak menyangka akan melihatmu di sini," jawab Nino dengan tidak ramah.
"Kau tidak tahu? Aku dosen pembimbing istrimu," Justin tersenyum mengejek.
Nino pun langsung mengarahkan tatapannya kepada Tifanny.
"Nino, ayo kita pergi!" Tifanny menyentuh tangan Nino saat ia rasa situasi sudah tidak baik. Nino pun menatap Justin kembali.
"Jangan dekati istriku!" Suara Nino sedikit meninggi.
Justin tidak menjawab, ia terus memandang Nino dengan tidak suka.
__ADS_1
"Ayo!" Tifanny menarik tangan Nino menuju parkiran mobil.
"Mengapa kau menjemputku?" Tanya Tifanny saat mereka sudah berada di dalam mobil. Nino sedari tadi hanya diam saja.
"Mengapa kau tidak memberitahuku jika Justin bekerja di sana dan juga menjadi dosen pembimbingmu?" Nino menepikan mobilnya.
"Aku pun baru tahu jika Justin adalah dosen pembimbingku menggantikan Mr. Anthony," jawab Tifanny dengan pelan. Ia melihat kilat kemarahan dari mata Nino.
"Boleh aku meminta sesuatu padamu?" Nino memegang kedua pipi Tifanny. Tifanny pun hanya menganggguk.
"Jangan dekat dengannya! Atau haruskah aku memindahkanmu ke kampus lain?" Mata biru itu menatap mata Tifanny dengan penuh khawatir. Ia seperti takut miliknya akan diusik oleh orang lain.
"Tidak perlu. Aku tidak akan dekat dengan Justin. Percayalah padaku!" Tifanny pun ikut memegang pipi Nino untuk menenangkan.
"Aku tidak akan mengkhianati pernikahan kita," lanjut Tifanny lagi.
Nino pun tampak melunak. Ia menarik Tifanny ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku sudah membuatmu takut! Aku hanya tidak ingin ada yang mengganggu pernikahan kita," Nino berbisik sambil terus memeluk istrinya.
****
Aiden mendatangi apartemen adiknya lagi. Sudah seminggu ini Alden tidak pulang ke rumah. Aiden harus memberi tahu jika pertunangannya dengan Cassie akan diadakan satu minggu lagi. Saat ia berjalan menuju kamar apartemen adiknya, Aiden melihat Bianca tengah membawa ember berisi air.
"Biar aku bantu!" Ucap Aiden saat melihat Bianca membawa ember.
"Tidak apa. Aku sudah terbiasa," Bianca menolak dan tetap membawa ember itu.
Saat Bianca berjalan, ia terpeleset dan hampir terjatuh. Aiden langsung menahan pinggang Bianca dengan tangannya. Sementara itu, ember yang berisi air tumpah di lantai.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Aiden dengan khawatir.
"Aku tidak apa-apa," dengan gugup, Bianca melepaskan tangan Aiden dari pinggangnya.
"Airnya tumpah, aku harus membersihkannya," Bianca menatap air yang membasahi lantai.
"Aww," Bianca meringis saat ia berjalan untuk mengambil pel.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Aiden yang melihat Bianca tampak kesakitan.
"Sepertinya kakimu terkilir. Duduklah!" Aiden membimbing Bianca untuk duduk di kursi yang ada di dekat sana.
"Kau mau apa?" Tanya Bianca yang melihat Aiden mengambil pel dan langsung membersihkan air yang tercecer di lantai.
"Tuan, kau tidak perlu melakukannya!" Bianca hendak berdiri untuk mencegah Aiden mengepel.
"Kau duduk saja! Aku sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini," jawab Aiden. Ia segera mengepel lantai itu.
"Aku lihat kakimu!" Aiden berjongkok di depan Bianca setelah beres mengepel.
"Tahan sedikit!" Aiden tampak membenarkan kaki Bianca yang terkilir.
"Ini jauh lebih baik. Tuan, profesimu tukang pijit ya?" Bianca menggerak-gerakan kakinya.
"Iya, aku seorang tukang pijat," jawab Aiden dengan tertawa.
"Tuan, mengapa kau sangat berbeda dengan adikmu? Oh iya, aku ucapkan terima kasih karena sudah membantuku," Bianca berdiri dari duduknya.
"Sama-sama," timpal Aiden.
"Aku pergi dulu, tuan," Bianca segera berlalu dari hadapan Aiden.
"Aku rasa adikku salah. Aku yakin dia gadis yang baik. Mana ada simpanan sugar daddy menjadi office girl? Jika jadi simpanan sugar daddy, pasti dia tidak akan bekerja. Alden adikku, kau masih saja bersifat kekanakan! " Gumam Aiden memperhatikan Bianca yang berjalan menjauh darinya.
__ADS_1
"Mengapa dia sangat baik? Jangan menyalah artikan kebaikannya, Bi! " Bianca memperingati dirinya sendiri.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...