
"No, kau sudah sembuh?" Tanya Tifanny saat mereka bertemu di depan di ruang Mr. Andrew untuk bimbingan perihal judul skripsi.
"Iya, berkat kau menyuapiku saat di apartemen aku jadi langsung sembuh," jawab Nino dengan wajah yang berbinar.
"Syukurlah," Tifanny pun segera duduk kembali di kursinya.
"Fann? Kau sudah masuk ke dalam atau masih menunggu?" Tanya Justin saat ia baru datang.
"Belum," Tifanny menggeleng.
Justin pun segera mendudukan tubuhnya di samping Tifanny.
"Fan, bagaimana dengan buku yang ku berikan? Apakah terpakai?" Justin memulai percakapan.
"Terpakai kok. Terima kasih ya? Aku sangat terbantu," Tifanny menatap dan tersenyum simpul kepada Justin.
"Fan, memangnya judul skripsimu apa?" Nino terduduk di tengah tengah Justin dan Tifanny.
"Mengenai bisnis online yang tengah ramai saat ini dan hubungannya dengan tingkat belanja masyarakat," timpal Tifanny.
"Kau ini apa-apaan? Aku sedang mengobrol dengan Tifanny!" Justin menggerutu kepada Nino.
"Aku tidak memperbolehkanmu mengobrol dengan calon kekasihku," Nino menajamkan matanya ke arah Justin.
"Fann, benarkah kau calon kekasih Nino?" Justin bertanya kepada Tifanny.
"Tentu saja bukan. Aku tidak berniat berpacaran," jawab Tifanny dengan jujur.
"Haha, kau dengar itu?" Justin tertawa meledek.
"Fann, kau bersungguh sungguh mengatakannya? Aku kira hubungan kita istimewa," Nino bertanya dengan raut wajah yang sedih.
"Aku hanya menganggapmu temanku," jawab Tifanny dengan enteng.
"Kau dengar itu?" Justin kembali meledek Nino.
"Diamlah!" Nino berucap dengan wajah yang ditekuk.
__ADS_1
"Kau boleh saja tidak memiliki rasa saat ini padaku, tapi lihat saja nanti! Kau yang akan tergila gila padaku," Nino meracau di dalam hatinya.
Tak lama Nino segera masuk karena sudah di panggil oleh Mr. Andrew. Kemudian, Nino ke luar dari ruangan Mr. Andrew dengan raut wajah yang lesu, sudah pasti jawabannya adalah judulnya di tolak lagi. Nino pun terduduk kembali di kursinya, tak lama giliran Tifanny yang masuk.
Tifanny ke luar dari ruangan Mr. Andrew dengan mimik wajah yang bahagia.
"Bagaimana, Fann?" Tanya Justin.
"Judulku di setujui. Kata Mr. Andrew aku bisa segera menggarap Bab 1, 2 dan 3 untuk ujian proposal," Tifanny berkata dengan gembira.
"Syukurlah," Justin merasa lega. Judul skripsi Justin sendiri sudah diterima dari awal ia melakukan bimbingan.
Nino yang mendengar segera berlalu untuk pulang. Tifanny merasa iba melihat wajah Nino, ia sudah menyangka jika judul Nino di tolak oleh Mr. Andrew.
"No?" Tifanny mengejar langkah Nino.
"Iya, Fann?" Jawab Nino dengan lesu.
"Bagaimana? Judulmu diterima?"
"No, aku akan membantumu mencari judul."
"Benarkah?" Wajah Nino seketika langsung gembira mendengar jawaban Tifanny.
"Kita akan mencari judul di mana? Di apartemenku atau di kamar hotel?" Tanya Nino dengan wajah yang riang.
Tifanny mengerutkan keningnya dan menatap Nino dengan heran.
"Ya, tentu saja di perpustakaan. Mengapa jadi di apartemen atau hotel?"
"Oh iya ya," Nino menggaruk rambutnya.
"Kalau begitu, ayo! Kita ke perpustakaan sekarang!" Tifanny menarik tangan Nino. Nino pun menatap tangannya yang sedang di tarik oleh Tifanny sambil tersenyum.
*****
"Aku sarankan kau memakai judul mengenai teori ekonomi dan hubungannya dengan bisnis masyarakat di era digital, aku lihat di rak skripsi alumni belum ada yang memakai judulnya," Tifanny menyodorkan buku mengenai teori ekonomi.
__ADS_1
"Kau sangat cerdas!" Puji Nino kepada Tifanny.
"Kau harus mencari buku sumber lainnya, ya?"
"Tentu saja, aku akan mencarinya."
Tanpa sadar, jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Mereka terlalu asik dengan buku buku yang mereka cari hingga tidak terasa perpustakaan akan segera tutup.
"No, ayo kita pulang!" Ajak Tifanny kepada Nino.
"Ayo!" Nino segera berdiri dan merapikan tas dan buku buku yang berserakan di atas meja.
"Aku antar kau pulang ya? Ku mohon jangan menolak?"
"Baiklah. Sampai taman saja ya?"
"Iya."
"Kau kedinginan?" Tanya Nino saat mereka tengah berjalan menuju parkiran.
"Iya, musim gugur akan di mulai," Tifanny menggosokan tangannya.
"Kalau begitu kemarilah!" Nino menarik tangan Tifanny.
"Kau mau apa?"
Nino tidak menjawab, ia segera memeluk Tifanny dari belakang dan merekatkan mantelnya ke tubuh Tifanny.
"Nino apa yang kamu lakukan?" Tifanny bertanya dengan cemas.
"Aku membuatmu hangat," bisik Nino di telinga Tifanny.
Jantung Tifanny pun berdebar saat ia melirik tangan Nino yang tengah memeluknya.
"Cla, kau harus lihat ini!" Arabella yang melihat adegan Nino dan Tifanny segera memotret dan mengirimkannya kepada Clara.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment, fav, atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...
__ADS_1